Comscore Tracker

Tips Cerdas Atur Keuangan Tetap Sehat di Kondisi Krisis

Kurangi bersenang-senang, atur prioritas keuanganmu

Jakarta, IDN Times - Pandemik virus corona menyebabkan seluruh sektor ekonomi terdampak. Banyak orang  terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), pekerja di sektor informal juga terkena imbas penghasilan berkurang karena kegiatan ekonomi yang dibatasi.

Lesunya ekonomi juga terlihat dari terjadinya deflasi dalam tiga bulan berturut-turut. Hal itu mencerminkan terjadinya pelemahan daya beli masyarakat. Di sisi lain, jumlah simpanan masyarakat di bank umum pada bulan Agustus 2020 mencapai di atas Rp6.500 triliun, atau naik 2,74 persen dari bulan Juli, lebih tinggi dari persentase kenaikan rata-rata bulanan sejak awal tahun ini yang hanya 0,98 persen.

Rajin menabung tentunya baik bagi masa depan kamu, namun mungkin kurang tepat jika kita akhirnya terlalu takut mengeluarkan uang karena pandemi ini. Terutama jika kamu merasa persentase bunga tabungan atau deposito di bank pilihan kamu saat ini lebih kecil dibandingkan sebelumnya.

Dikutip dari lifepal.co.id, berikut tips untuk mengatur pola konsumsi dan pengeluaran kamu di masa pandemik selagi tetap menjaga kondisi keuangan tetap sehat.

1. Atur pengeluaran tidak tetap dengan metode rata-rata

Tips Cerdas Atur Keuangan Tetap Sehat di Kondisi KrisisIlustrasi (IDN TImes/Ita Malau)

Dalam pengaturan arus kas (pemasukan dan pengeluaran) bulanan, pengeluaran dibedakan menjadi dua jenis yaitu pengeluaran tetap dan tidak tetap (pengeluaran variabel).

Pengeluaran tetap antara lain untuk bahan bakar kendaraan atau ongkos transportasi, biaya belanja bahan makanan, biaya listrik, air, dan kebutuhan pokok lainnya.

Pengeluaran tetap tentu lebih mudah dicatat dan ditetapkan besarannya ketimbang yang tidak tetap. Sementara itu, pengeluaran variabel tidak. Khusus untuk mengatur pengeluaran variabel, lakukan perhitungan rata-rata terhadap pengeluaran variabel kamu dalam tiga bulan atau lebih.

Misalnya, Pak Danny memiliki tagihan listrik Rp950-975 ribu per bulan sejak Januari hingga April 2020. Namun di bulan Mei hingga Agustus 2020, tagihan listriknya bengkak jadi Rp1 hingga Rp1,2 juta karena konsumsi listriknya juga meningkat. Dengan mengumpulkan data tagihan listrik dari Januari hingga Agustus, Pak Danny bisa menghitung rata-rata pengeluaran dalam 8 bulan.

Seperti yang tertera di perhitungan di atas, maka rata-rata pengeluaran Pak Danny untuk listrik adalah Rp1.066.875. Melihat perhitungan tersebut maka Pak Danny disarankan untuk mengeluarkan dana tidak lebih dari angka Rp1.066.000 per bulan untuk kebutuhan listrik.

2. Prioritaskan antara keperluan dan kewajiban

Tips Cerdas Atur Keuangan Tetap Sehat di Kondisi KrisisIlustrasi Utang (IDN Times/Mardya Shakti)

Selain itu, pastikan kamu lebih memprioritaskan pengeluaran kamu untuk kebutuhan yang sifatnya wajib dipenuhi atau dibayar terlebih dulu. 

Siapkan anggaran kebutuhan untuk membeli barang-barang kebutuhan pokok seperti makan dan minum, hingga menabung biaya pendidikan anak. Selain itu, ada pula pengeluaran wajib lainnya yaitu membayar pajak dan cicilan utang bila ada.

Kebutuhan-kebutuhan yang bersifat keinginan atau yang berkaitan dengan hobi maupun gaya hidup tentu bisa dikurangi, terutama bila kondisi keuangan kita masih belum sehat.

Baca Juga: Hindari 4 Kesalahan Ini dalam Penggunaan Kartu Kredit, Hati-hati!

3. Hindari menambah utang dan lunasi utang konsumtif yang berbunga

Tips Cerdas Atur Keuangan Tetap Sehat di Kondisi KrisisIDN Times/Reza Iqbal

Bila kamu memiliki utang jangka pendek yang bersifat konsumtif dan berbunga besar, baik yang ada di kartu kredit, cicilan tanpa kartu kredit, atau pinjaman online, maka lunasi saja selagi kamu masih memiliki cadangan kas yang cukup.

Membiarkan utang tersebut tetap ada, justru bisa mengganggu arus kas kamu di bulan-bulan selanjutnya. Di masa pandemik ini, ada baiknya pula untuk tidak lagi menambah utang demi keperluan konsumtif. Misalnya berlibur, berbelanja gadget dan barang konsumtif lainnya, serta menggelar pesta mewah.

Jika harus berutang, pastikan saja utang yang kamu ajukan adalah utang produktif. Sebaiknya, total utang kamu tidak melebihi nilai aset dan cicilan dari seluruh utang kamu per bulannya atau masih di bawah 35 persen dari penghasilan.

4. Manfaatkan asuransi untuk perlindungan atas risiko

Tips Cerdas Atur Keuangan Tetap Sehat di Kondisi KrisisIlustrasi (IDN Times/Sukma Shakti)

Manfaatkan asuransi untuk kebutuhan proteksi atau perlindungan atas risiko saja, dan belilah asuransi kesehatan atau asuransi jiwa dengan manfaat murni untuk perlindungan kesehatan maupun jiwa.

Ada asuransi yang memberikan manfaat proteksi dan investasi yang disebut dengan unit link. Satu hal yang harus kamu ketahui adalah, iuran premi untuk asuransi dengan fitur ini, akan dibagi menjadi dua, yaitu untuk kebutuhan proteksi dan asuransi.

Asuransi dengan fitur investasi sejatinya berguna untuk membuat nasabah tidak lagi bingung dalam hal investasi. Namun dengan iuran bulanan yang dibagi dua antara proteksi dan investasi, besar kemungkinan proteksi maupun investasi jadi kurang maksimal.

Selain itu, risiko investasi juga sepenuhnya ditanggung nasabah. Sebaiknya kamu alokasikan dana maksimal 10 persen dari pemasukan bulanan dan tidak lebih, untuk kebutuhan proteksi.

5. Sisihkan uang untuk berinvestasi

Tips Cerdas Atur Keuangan Tetap Sehat di Kondisi KrisisIlustrasi investasi (IDN Times/Arief Rahmat)

Setiap bulannya, kamu tetap harus memprioritaskan pengeluaran untuk berinvestasi guna memenuhi tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. Ini saat yang tepat untukmu melakukan investasi.

Tuliskan secara detail hal-hal yang menjadi tujuan kamu di jangka pendek maupun jangka panjang. Tuliskan pula berapa uang yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan itu di masa depan dengan menggunakan estimasi inflasi tahunan. Lalu pilihlah berbagai instrumen investasi yang cocok dengan profil risiko kamu.

Bila kamu memiliki profil risiko konservatif atau sedang mencari investasi dengan imbal hasil tetap, pilihlah surat berharga negara. Atau kamu bisa memilih reksadana maupun saham, pastikan kamu memahami risikonya sebelum kamu berinvestasi.

Selain itu, pastikan kamu juga memiliki dana darurat agar jika terjadi sesuatu hal mendadak kamu tetap memiliki cadangan uang untuk bertahan di masa sulit. Idealnya besaran dana darurat yang perlu kamu miliki adalah 6 sampai 12 kali pengeluaranmu sebulan. Jika sampai saat ini kamu belum memiliki dana darurat maka sisihkanlah dan disiplin untuk menyiapkan dana ini.

Itulah beberapa kiat cerdas untuk mengelola keuangan di masa krisis, termasuk di masa pandemik yang belum diketahui kapan akan berakhir. 

Baca Juga: Dear Pengusaha, Ini 5 Cara Jitu Tingkatkan Omzet Penjualan Produk UMKM

Topic:

  • Mela Hapsari

Berita Terkini Lainnya