Comscore Tracker

Gegah GERD Kambuh selama Ramadan, Puasa Jadi Nyaman

#RamadanDiRumah Hindari makanan yang bikin perut mulas

GERD atau gastroesophageal reflux disease adalah salah satu penyakit paling umum di Indonesia. Berdasarkan studi  yang berjudul "Prevalence and Risk Factors of GERD in Indonesian Population—An Internet-Based Study", diketahui dari 2045 subjek penelitian, 57,6 persen di antaranya mempunyai riwayat GERD. Penyakit initerjadi karena hiperasiditas atau asam lambung yang tinggi.

Lantas, bagaimana cara menjalani puasa dengan nyaman bagi penderita GERD? Simak penuturan dari dr. Muhammad Miftahussurur, M. Kes., Sp.PD., Ph.D., FINASIM, lewat program Healthy Lifestyle di Radio Suara Surabaya pada Senin (4/5). dr. Mifta adalah Ketua Pusat Pengembangan Jurnal dan Publikasi Ilmiah Universitas Airlangga dan Staf Divisi Gastroentero-Hepatologi RS. Dr. Soetomo Surabaya.

1. Penyebab GERD adalah esofagus yang terbuka

Gegah GERD Kambuh selama Ramadan, Puasa Jadi Nyamaneverydayhealth.com

Menurut dr. Mifta, esofagus atau pintu dari kerongkongan ke lambung terbuka saat ada makanan masuk. Tetapi, orang yang memiliki GERD, esofagus-nya akan terbuka atau tidak menutup optimal ketika tidak sedang makan. Akibatnya, asam lambung naik ke atas.

"GERD berbeda dari maag. Maag disebabkan oleh infeksi, sementara GERD murni dari hiperasiditas atau asam lambung yang tinggi. Keduanya dibedakan karena terapi dan obatnya berbeda," jelas lulusan S3 dari Oita University ini.

Asam lambung ini naik ke mulut lewat kerongkongan. Sehingga, kita akan mengalami regurgitasi, kondisi kembalinya cairan atau makanan secara spontan dari lambung ke mulut. Apabila hal ini terjadi terlalu sering, ini akan mengiritasi lapisan esofagus.

2. Salah satu gejalanya adalah timbul sensasi panas atau terbakar

Gegah GERD Kambuh selama Ramadan, Puasa Jadi Nyamanamericanpostureinstitute.com

Seperti apa gejala GERD? Menurut dr. Mifta, gejalanya ialah muncul rasa panas terbakar, nyeri pada dada atau tulang belakang, sesak napas atau napas berat, ada rasa tersangkut di tenggorokan, tidak bisa lega saat menelan, adanya cairan yang naik dari perut ke mulut dan rasanya pahit atau asam.

"Sebelum memvonis pasien dengan GERD, dokter akan mendiagnosis dengan endoskopi kamera, apakah ada perubahan mukosa di pintu masuk esofagus? Apakah esofagus terbuka atau tidak menutup sempurna?" jelas dr. Mifta.

Selain itu, dokter akan mengukur pH metri, pH lambung dan tekanan esofagus. Bisa juga dilakukan dengan mesin x-ray untuk melihat saluran gastrointestinal (GI) bagian atas, ungkap laman National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK).

3. Jangan langsung tidur setelah makan

Gegah GERD Kambuh selama Ramadan, Puasa Jadi Nyamangatewaydentalgroup.org

Apakah ada perbedaan pola makan bagi penderita GERD saat berpuasa atau tidak? Menurut dr. Mifta, tidak ada perbedaan signifikan. Tetapi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Misalnya, jangan makan dalam porsi terlalu banyak atau mengunyah terlalu cepat.

"Selain itu, jangan tidur atau berbaring setelah makan. Setidaknya, beri jeda waktu 2 jam setelah makan, jika memang ingin tidur. Bisa juga dengan menaikkan bantal ketika hendak tidur atau tidur di kursi santai," sarannya.

Mengapa harus demikian? Sebab, rasa kenyang akan menekan esofagus dan memaksanya untuk terbuka. Jika esofagus terbuka, maka cairan lambung yang pahit akan naik ke mulut.

Baca Juga: 5 Fakta Henti Jantung Mendadak, Diduga Penyebab Didi Kempot Meninggal 

4. Kunyah makanan hingga 33 kali

Gegah GERD Kambuh selama Ramadan, Puasa Jadi Nyamanexpress.co.uk

Mengapa kita dianjurkan untuk mengunyah makanan hingga 33 kali, khususnya untuk sayur dan buah? Sebab, sayur dan buah bisa merangsang mulas apabila dimakan dalam potongan besar dan ditelan saat teksturnya belum halus, ungkap dr. Mifta. Dan mulas akan memperparah GERD nantinya.

"Mengunyah sebanyak 33 kali dilakukan untuk merangsang enzim di mulut. Prinsipnya adalah mengunyah sampai teksturnya seperti bubur, lalu ditelan. Makanan yang halus akan mengurangi mulas dan meminimalisir kemungkinan naiknya asam lambung," ujar dosen di Universitas Airlangga ini.

Ada cara lain untuk menghaluskan buah dan sayur, yakni dibuat dalam bentuk jus. Tetapi, sebagian orang lebih suka mengunyah karena memiliki sensasi tersendiri. dr. Mifta memberi saran lain, yakni kalau sudah menggigit buah, taruh sendok atau garpu dan kunyah dulu sampai halus. Selain itu, makanlah dengan gigitan kecil.

5. Jauhi makanan yang bisa menyebabkan mulas

Gegah GERD Kambuh selama Ramadan, Puasa Jadi Nyamanshare.upmc.com

Bagi orang yang memiliki riwayat GERD, disarankan untuk menghindari makanan yang bisa menyebabkan mulas. Misalnya, makanan yang digoreng, pedas, mengandung minyak, daging merah, susu serta minuman yang berkafein, seperti kopi, teh dan soda.

"Makanan tersebut bisa membuat esofagus terbuka. Tak dianjurkan pula makan jeruk dan tomat karena bisa meningkatkan asam lambung. Selain itu, pilih daging putih dari ayam atau ikan dibanding daging merah," saran dr. Mifta.

Ia tidak menyarankan makan dalam porsi besar. Sebab, ini akan memperbesar perut dan meningkatkan tekanan pada pintu kerongkongan yang bisa memicu GERD.

Selain itu, sebaiknya makan dalam 6 porsi kecil per hari. Menurutnya, ini hanya memperbanyak frekuensi makan, bukan total kalori. Sesuaikan ketika saatnya puasa ya, karena ini berlaku secara umum, dalam kondisi hari biasa tanpa puasa juga.

Bagaimana jika kita menginginkan makanan tertentu, padahal bisa meningkatkan risiko GERD kambuh? Menurut dr. Mifta, ini bisa disiasati dengan minum obat penurun pH lambung sekitar 1-2 jam sebelum makan.

Selain itu, dr. Mifta menekankan agar penderita GERD tidak perlu takut berpuasa. Sebab, puasa bisa memperbaiki kualitas hidup.

Baca Juga: Dijamin Sukses, 8 Cara Turunkan Berat Badan Ketika Puasa Ramadan

Topic:

  • Mela Hapsari

Berita Terkini Lainnya