Comscore Tracker

Waspadai, 7 Kondisi Medis Ini Bisa Membunuh ketika Tidur

Sepertiga waktu manusia adalah untuk tidur

Kematian bisa datang kapan saja tanpa bisa dihindari, termasuk saat tidur. Manusia menghabiskan sepertiga waktu kehidupannya untuk tidur, jadi tak heran kalau ada manusia yang meninggal ketika ia sedang tidur.

Penasaran, apa kondisi medis yang bisa 'membunuh' saat tidur? Dan apa yang bisa dilakukan untuk menghindarinya? Simak penjelasan berikut ini!

1. Infark miokard atau serangan jantung

Waspadai, 7 Kondisi Medis Ini Bisa Membunuh ketika Tiduristockphoto.com

Dikenal sebagai serangan jantung, kondisi ini dapat terjadi saat tidur. Menurut Jeffrey H. Johnson, MD, ahli saraf dari University of Tennessee Medical Center di Knoxville, serangan jantung paling sering disebabkan oleh pecahnya plak dan dapat terjadi secara spontan di siang atau malam hari.

"Serangan jantung saat tidur belum tentu menyebabkan seseorang terbangun. Ada serangan jantung diam karena pasien belum tentu merasakan ketidaknyamanan di dada. Terkadang, serangan jantung diam selama tidur dapat bermanifestasi sebagai kematian jantung mendadak," Dr. Jeffrey menjelaskan.

Dikutip laman List Verse, serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke bagian jantung tersumbat. Penyumbatan ini bisa merusak sebagian dari otot jantung.

Apabila banyak jaringan jantung yang rusak, jantung mungkin tidak cukup kuat memompa darah ke seluruh tubuh. Gagal jantung mungkin terjadi dan mematikan jika tidak segera mendapatkan perawatan medis.

2. Henti jantung mendadak atau sudden cardiac arrest (SCA)

Waspadai, 7 Kondisi Medis Ini Bisa Membunuh ketika Tidurnews.llu.edu

Henti jantung mendadak atau sudden cardiac arrest (SCA), terjadi saat simpul sinoatrial (yang bertindak sebagai alat pacu jantung alami) terganggu. Kondisi ini terjadi saat sistem kelistrikan jantung tidak berfungsi dan menyebabkan kematian dalam beberapa menit pertama.

Jika ini terjadi, aliran darah ke otak berkurang. Henti jantung mendadak bisa terjadi saat tidur dan separuh kasus tidak menunjukkan gejala sebelum serangan terjadi. Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah kematian?

Menurut Tahmeed A. Contractor, MD, ahli elektrofisiologi jantung klinis dari Loma Linda University International Heart Institute, beberapa menit setelah henti jantung mendadak, kehilangan darah ke otak akan terjadi dan menyebabkan kerusakan otak yang signifikan.

Ia menyarankan untuk melakukan resusitasi jantung paru (CPR) untuk membuat darah terus mengalir ke otak sampai pertolongan medis tiba.

3. Aneurisma otak

Waspadai, 7 Kondisi Medis Ini Bisa Membunuh ketika Tidurcolumbianeurosurgery.org

Dikenal dengan nama lain brain aneurysm, ini adalah titik lemah di dinding pembuluh darah di otak. Bentuknya seperti balon tipis yang berisi darah.

Jika tekanan meningkat, 'balon' ini bisa pecah. Perdarahan bisa terjadi selama beberapa detik dan menyebabkan kerusakan pada sel-sel otak di sekitarnya.

Kondisi ini bisa meningkatkan tekanan di dalam tengkorak dan dapat berakibat fatal. Segera cari pertolongan medis jika kamu atau orang di sekitarmu mengeluh sakit kepala parah, kejang, atau kehilangan kesadaran.

4. Central sleep apnea

Waspadai, 7 Kondisi Medis Ini Bisa Membunuh ketika Tiduruhhospitals.org

Central sleep apnea merupakan kelainan yang menyebabkan pernapasan berhenti dan terjadi berulang kali saat sedang tidak sadarkan diri. Pemicunya adalah otak tidak mengirimkan sinyal listrik yang tepat ke otot yang mengontrol mekanisme pernapasan saat tidur.

Jika central sleep apnea cukup parah, hipoksemia bisa terjadi. Ini adalah kondisi di mana kadar oksigen dalam tubuh turun di bawah yang dibutuhkan. Apabila otak tidak mampu membangunkan tubuh untuk mengambil napas, maka bisa berakibat fatal!

Salah satu treatment umum adalah memakai masker di hidung dan mulut saat tidur. Untuk membuka jalan napas bagian atas, masker disambungkan ke pompa kecil yang memasok udara bertekanan secara terus-menerus.

Metode continuous positive airway pressure (CPAP) ini berfungsi untuk mencegah penutupan jalan napas yang bisa memicu central sleep apnea.

Baca Juga: Mengenal Penyakit Kuning, Ini 8 Hal yang Perlu Kamu Ketahui

5. Widowmaker heart attack

Waspadai, 7 Kondisi Medis Ini Bisa Membunuh ketika Tidurmenshealth.com

Sebagian besar serangan jantung berpeluang membangunkan korbannya sebelum kematian terjadi. Namun, widowmaker heart attack adalah pengecualian. Serangan ini menyumbat arteri turun anterior kiri (left anterior descending artery/LAD).

Area ini menyediakan darah dan oksigen ke seluruh bagian depan jantung. Jika terjadi penyumbatan di LAD, maka 40 persen dari aliran darah jantung terpotong. Tidak ada penyumbatan lain yang memengaruhi area seluas itu.

"Ini serangan jantung yang lebih besar dengan risiko komplikasi yang lebih tinggi. Komplikasi ini termasuk detak jantung tidak teratur, gagal jantung, dan kematian mendadak," tukas Steven Bailey, M.D., profesor kardiologi dari University of Texas Health Science Center di San Antonio.

Serangan ini berlangsung dalam hitungan menit hingga berjam-jam. Menurut Dr. Steven Bailey, sepertiga dari kematian jantung mendadak di Amerika Serikat adalah widowmaker heart attack, ungkapnya pada laman Men's Health.

6. Obstructive sleep apnea

Waspadai, 7 Kondisi Medis Ini Bisa Membunuh ketika Tidurstdavids.com

Dikenal dengan nama lain apnea tidur obstruktif, ini adalah gangguan tidur di mana pernapasan berulang kali berhenti saat tidur. Penyebabnya adalah obstruksi yang menghalangi jalan napas. Biasanya, obstruksi diakibatkan oleh otot tenggorokan yang kendur.

Saat berhenti bernapas, pengidap apnea tidur obstruktif mengalami penurunan kadar oksigen dalam darah secara tiba-tiba. Kematian mendadak bisa terjadi sebelum korban sempat bangun.

Beberapa upaya untuk mengatasi apnea tidur obstruktif adalah menurunkan berat badan (jika kelebihan), menghindari alkohol, tidur menyamping, tidak mengonsumsi obat tidur, hingga pembedahan/operasi, laman Web MD menjelaskan.

7. Enterovirus D68

Waspadai, 7 Kondisi Medis Ini Bisa Membunuh ketika Tiduronhealth.com

Yang terakhir mungkin jarang terdengar di telinga kita. Enterovirus D68 ialah jenis enterovirus non-polio yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 1962 di California. Di tahun 2014, ada peningkatan kasus dalam jumlah besar, sehingga menjadi concern banyak pihak.

Dilansir laman List Verse, enterovirus D68 dilaporkan menyebabkan gejala penyakit pernapasan ringan hingga parah, bahkan ada yang tanpa gejala. Masalah pernapasan ditandai dengan suara mengi bernada tinggi.

Selain masalah pernapasan, dikaitkan pula dengan peradangan sumsum tulang belakang dan kelemahan otot. Kematian tidak selalu terjadi, tetapi pada beberapa kasus bisa membunuh seseorang saat sedang tidur.

Nah, itulah 7 kondisi medis yang bisa membunuh seseorang saat sedang tidur. Ada baiknya untuk rutin melakukan pemeriksaan kesehatan untuk mencegah terjadinya penyakit yang bisa berakibat fatal. 

Baca Juga: Hindari Tertular, Ini Cara Mencuci dan Mensterilkan Baju Orang Sakit 

Topic:

  • Mela Hapsari

Berita Terkini Lainnya