Comscore Tracker

Film Bumi Manusia, Jembatan Generasi Iqbal dan Pramoedya

Sempatkan nonton film ini, ya

Film "Bumi Manusia" diangkat dari buku berjudul sama karya sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer akan ditayangkan pada 15 Agustus 2019. Buku tersebut merupakan buku pertama dari tetralogi Buru yang ditulis Pram di dalam penjara pada tahun 1980.

Kisah "Bumi Manusia" ini  sempat ditawar dengan harga yang cukup tinggi oleh penulis internasional, Oliver Stone. Tetapi, akhirnya jatuh ke tangan Falcon Pictures dan digarap oleh sutradara Tanah Air Hanung Bramantyo.

Tokoh utama "Bumi Manusia", akan diperankan oleh Iqbaal Ramadhan. IDN Times mendapat kesempatan untuk mewawancarai langsung artis muda pujaan para remaja ini pada Jumat (9/11/2019) di Hotel Majapahit Surabaya.

1. Iqbaal mengaku proses riset sebelum perankan "Bumi Manusia" sangat terbatas

Film Bumi Manusia, Jembatan Generasi Iqbal dan PramoedyaIDN Times/Stella Azasya

Ditanya soal persiapannya memerankan Minke, Iqbaal mengaku proses riset yang dijalaninya cukup terbatas. Hal ini karena dia dituntut memerankan tokoh yang ada di masa lampau. Sehingga, tokoh yang diperankan itu ada sebelum dia lahir. Sehingga dia tidak melihat sendiri bagaimana kehidupan sosial, bahasa, dan budayanya. 

“Karena saya tidak bisa bertanya atau berkomunikasi langsung dengan siapa pun yang hidup pada zaman itu, makanya risetnya cukup terbatas. Saya mau tidak mau harus bisa mendalami seperti apa orang yang hidup pada zaman itu,” terangnya.

2. Tidak berhasil tumbuhkan kumis, Iqbaal harus gunakan kumis buatan

Film Bumi Manusia, Jembatan Generasi Iqbal dan PramoedyaIDN Times/Stella Azasya

Demi sedekat mungkin dengan sosok Minke dari segi fisik maupun karakter, Iqbaal harus berperan secara maksimal. Demi mewujudkan itu, dirinya harus menaikkan berat badan sebanyak 10 kg dan menumbuhkan kumis. 

“Harus naikin berat 10 kg, tapi aku naik 12 kg. Lalu harus numbuhin kumis juga, tapi sayangnya gak bisa. Jadi harus pakai kumis prostat yang didatangkan langsung dari Bali, yang biasa digunakan untuk syuting film dengan kualitas yang baik sekali. Untuk lebih natural, kumis itu bahkan harus diukur dan ada fittingnya supaya bentuk muka dengan kumisnya benar-benar sama dan sesuai dengan aslinya."

3. Akan memainkan film yang cukup berbeda dari film-film sebelumnya, bahasa merupakan salah satu aspek paling penting yang paling berkesan menurut Iqbaal

Film Bumi Manusia, Jembatan Generasi Iqbal dan PramoedyaIDN Times/Satria Yoga

Biasanya main film yang bersetting masa kini, kali ini Iqbaal harus memenuhi tantangan main film bersetting tahun 1890-1918. Dari segala aspek, "Bumi Manusia" ini pastinya akan sangat berbeda dari film-film sebelumnya. Iqbaal mengaku bahasa menjadi salah satu hal yang paling berkesan dalam memainkan film ini.

“Menurut saya bahasa adalah salah satu yang paling berkesan. Saya tidak pernah bisa berbahasa Jawa karena saya bukan orang Jawa, tapi saya selalu tertarik untuk memerankan tokoh berbahasa Jawa dan sampai akhirnya saya dapat kesempatan ini, saya sangat bersemangat untuk mengikuti workshopnya dan ternyata itu memang sulit, apalagi bahasa Jawa yang halus (Inggil).”

4. “Ini tanggung jawab yang besar, amanah yang besar"

Film Bumi Manusia, Jembatan Generasi Iqbal dan PramoedyaIDN Times/Charles Tan

Seperti yang sudah kita semua tahu bahwa buku "Bumi Manusia" merupakan buku sastra Indonesia yang cukup 'berat' dari segi pembahasan dan cerita yang diangkat. Apalagi dengan jumlah 500 lebih halaman yang tidak mungkin diakomodasi semuanya ke dalam media film. Menurut Iqbaal memainkan peran yang ceritanya diambil dari buku yang telah diterbitkan ke dalam lebih dari 43 bahasa di dunia adalah tanggung jawab besar.

“Kami, pemain, kru, segala yang terlibat dari film ini sudah melakukan lebih dari 100 persen, karena kami sadar yang menanti dan mendukung film ini juga jutaan orang. Apalagi bukunya tidak main-main, jadi ini tentunya menjadi tanggung jawab yang besar dan amanah yang besar untuk saya pribadi.”

5. Iqbaal optimis film "Bumi Manusia" bisa diterima dengan baik oleh masyarakat

Film Bumi Manusia, Jembatan Generasi Iqbal dan PramoedyaBerbagai Sumber

Iqbaal berharap jika "Bumi Manusia" meraih kesuksesan sama seperti film-film yang telah dimainkannya. Dia mengaku optimis film "Bumi Manusia" bisa diterima oleh masyarakat. 

“Saya cukup optimis film ini akan diterima dengan baik oleh masyarakat. Tapi kalau ngomongin sukses, semua orang pasti punya barometer sukses sendiri-sendiri. Ada yang menganggap film yang sukses itu harus di atas satu juta penonton, ada yang menganggap kalau sukses itu harus ada di Piala Citra, ada juga yang menganggap film yang sukses itu adalah film yang bisa memiliki pengaruh untuk penontonnya. Saya sendiri tidak bisa mendeskripsikan sukses itu seperti apa, jadi nanti silakan dinilai sendiri apakah film ini bisa termasuk dalam kategori sukses itu sendiri atau tidak,” ujarnya.

Baca Juga: Gala Premiere Hari Ini, Perburuan dan Bumi Manusia Tayang 15 Agustus

6. “Saya ingin film ini punya impact bagi penonton”

Film Bumi Manusia, Jembatan Generasi Iqbal dan PramoedyaIDN Times/Satria Yoga

Iqbaal yang tidak bisa mendeskripsikan sendiri barometer kesuksesan film itu seperti apa mengaku hanya ingin film yang dimainkannya ini bisa membawa impact bagi penonton. Dirinya yang sudah berusaha selama 3 bulan workshop dan 2 bulan syuting ini bekerja keras bersama dengan pemain dan kru lainnya. Kerja keras yang dilakukan untuk memvisualisasikan maksud dan keinginan Pak Pram dalam bukunya.

7. Adegan terakhir "Bumi Manusia", merupakan adegan yang diakui Iqbaal paling menguras tenaganya

Film Bumi Manusia, Jembatan Generasi Iqbal dan PramoedyaIDN Times/Satria Yoga

Selama proses syuting berlangsung, Iqbaal mengaku bahwa scene terakhir dari "Bumi Manusia" adalah adegan yang paling sulit. Adegan itu membuat Iqbaal harus mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya.

“Saya gak mau bilang nanti spoiler. Pokoknya adegan terakhir, nanti saat kalian nonton, itu adalah adegan yang paling menguras seluruh tenaga dan pikiran saya."

8. Sempat merasa sangat capek, Iqbaal minta Hanung menyakitinya secara fisik supaya bisa perankan adegan terakhir

Film Bumi Manusia, Jembatan Generasi Iqbal dan PramoedyaIDN Times/Charles Tan

Scene terakhir yang dibahasnya tadi ternyata membutuhkan usaha super ekstra dari seorang Iqbaal. Saking sulitnya, dirinya sampai butuh bantuan khusus dari Hanung Bramantyo.

“Saya sampai minta bantuan Mas Hanung untuk memberikan saya physical pain karena saya sudah terlalu capek, supaya saya bisa elaborate adegan terakhir itu. Secara fisik dan batin saya terlalu capek makanya saya sudah gak bisa lagi mendeskripsikan rasa sedih itu,” kata dia.

9. Memvisualisasikan sebuah karya besar bukanlah hal yang mudah

Film Bumi Manusia, Jembatan Generasi Iqbal dan PramoedyaIDN Times/Stella Azasya

Iqbaal dan crew film menyadari bahwa memvisualisasikan sebuah karya besar dan mendunia milik seorang Pramudya Ananta Toer bukanlah hal yang mudah. Dia sadar dengan difilmkannya buku ini akan ada ahli bahasa, literasi yang akan turut mengomentari. Tak hanya itu saja, bisa-bisa penikmat film yang akan menemukan satu sampai dua kesalahan dari detail yang disampaikan. Namun, pria kelahiran Surabaya ini telah melakukan segala usaha yang terbaik yang dia bisa untuk membuat "Bumi Manusia" cukup representatif.

“Dengan mengangkat karya ini ke layar lebar pasti akan ada banyak sorotan yang hadir. Pasti ada satu dua hal yang mungkin menjadi perbincangan entah itu soal bahasa, budaya, setting dan lain sebagainya. Tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin yang kami bisa berikan untuk membuat karya ini bisa menyampaikan apa yang ingin Pak Pram sampaikan. Kami sebisa mungkin tidak meninggalkan ruang bagi komentar atau pertanyaan atas karya ini. Jadi harusnya, karena niatannya baik jadi semoga nanti hasilnya juga baik,.”

10. Anjurkan penonton untuk saksikan film "Bumi Manusia". Bagi Iqbaal film ini adalah jembatan antara generasinya dengan generasi Pak Pram

Film Bumi Manusia, Jembatan Generasi Iqbal dan PramoedyaIDN Times/Satria Yoga

Iqbaal mengaku, lahirnya film "Bumi Manusia" ini bisa menjembatani antara generasi Z dengan berbagai karya sastra milik Pramoedya Ananta Toer. Dirinya menyadari bahwa karya Pram yang impactful memang pantas dikenal bahkan untuk penonton dan pembaca yang tidak lahir pada zamannya.

“Kalau tidak ada film 'Bumi Manusia' ini, generasi saya generasi teman-teman saya mungkin tidak akan pernah aware dengan adanya Pak Pram, seorang sastrawan dengan karya-karyanya yang luar biasa. Saya rasa dengan adanya film ini bisa menjembatani antara karya sastra Pram dengan generasi sekarang. Makanya saya menganjurkan siapa pun untuk menonton film ini terutama teman-teman yang berasal dari generasi saya supaya tahu seperti apa sejarah Bangsa Indonesia, seperti apa menjadi seorang pribumi dulu, betapa menyakitkannya menjadi pribumi yang menjadi tamu di negerinya sendiri, supaya kita bisa hidup lebih menghargai dan mengapresiasi kehidupan sebelum kita,” tutupnya.

https://www.youtube.com/embed/2BYJaVz_wpM

Hampir seperti deja vu, pemilihan Iqbaal sebagai Minke mirip-mirip dengan pemilihan Iqbaal sebagai Dilan. Pemilihan Iqbaal sebagai Minke memang pada awalnya tuai pro dan kontra. Banyak netizen yang tidak terima dengan keputusan pemilihan peran tersebut bahkan tidak sedikit masyarakat yang kontra dan tidak setuju.

Dilan dan Bumi Manusia lahir pada zaman, niat, pemikiran dan tujuan yang berbeda jadi tentu tak bisa disamakan.Tidak ada salahnya memberikan apresiasi pada perfilman Indonesia dengan menonton film salah satu karya sastra besar Indonesia "Bumi Manusia".

Baca Juga: Review Film Bumi Manusia: Pribumi Pertama yang Lawan Pengadilan Eropa

Topic:

  • Mela Hapsari

Just For You