Comscore Tracker

Menengok Tradisi Mayar Sala, Cara Suku Paser Mendamaikan Perselisihan

Mayar Sala merupakan tradisi yang dirawat hingga kini

Penajam, IDN Times – Masyarakat adat suku Paser di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mempunyai cara tradisional untuk mendamaikan perselisihan atau pertikaian yang melibatkan warga suku Paser. Penyelesaian sengketa warga secara tradisional tersebut dinamakan hukum adat Mayar Sala.

“Hukum adat Mayar Sala bertujuan untuk mendamaikan perselisihan atau permasalahan yang terjadi antara warga Suku Paser sendiri atau Suku Paser dengan dengan warga luar,” jelas Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kabupaten PPU, Eko Supriyadi, kepada IDN Times, Minggu (1/5) di sela kegiatan Mayar Sala di Kelurahan Sepan, Kecamatan Penajam PPU.

2. Prosesi Mayar Sala merupakan musyawarah antara pihak-pihak yang dianggap melanggar hukum adat

Menengok Tradisi Mayar Sala, Cara Suku Paser Mendamaikan PerselisihanMulung Sepan, Suwis Santoso saat menyampaikan kepada kepala adat terkait denda adat sebelum pelaksanaan Mayar Sala (IDN Times/ Ervan Masbanjar)

Eko Supriyadi menerangkan, pada prosesi Mayar Sala juga dilakukan musyawarah antara pihak yang menjadi korban dengan pelaku pelanggar hukum adat. Dalam dialog itu juga turut dibahas besaran denda yang mungkin ditimbulkan dari pelanggaran yang dilakukan. Nilai dendan, kata Eko, diputuskan oleh Kepala Adat Paser termasuk apa-apa saja yang wajib disiapkan oleh pelanggar aturan adat.

“Untuk besar kecilnya denda tergantung kesalahan yang dilakukan oleh pelaku pelanggar aturan adat Paser. Mayar Sala bertujuan untuk mendamaikan kedua belah pihak yang berseteru agar kedepan lebih baik dari sebelumnya,” kata Eko.

2. Hukum adat Mayar Sala, sudah ada sejak zaman nalau -sebutan bagi nenek moyang orang Paser-

Menengok Tradisi Mayar Sala, Cara Suku Paser Mendamaikan PerselisihanMayar Sala tradisi turun temurun suku Paser di PPU (IDN Times/Ervan Masbanjar)

Hukum adat Mayar Sala, kata Eko, sudah ada sejak zaman nalau, -sebutan bagi  nenek moyang orang Paser-. Masing-masing kepala adat, dalam menentukan besaran denda bagi pelanggar hukum adat, memiliki cara perhitungan sendiri. Hal utama yang menjadi pertimbangan kepala adat dalam menentukan besaran denda, antara lain diukur dari bentuk pelanggaran. Besaran denda, pun biasanya dikonversi dalam hitungan mata uang riyal.

Eko lebih jauh menjelaskan, pelaksanaan upacara Mayar Sala dilakukan oleh kepala adat atau disebut Tuwo Kampoeng. Sedang ritualnya dipimpin oleh Mulung atau pemimpin ritual adat.

Baca Juga: Nestapa Suku Paser di Tengah Pusaran Calon Ibu Kota Negara

3. Prosesi serah seron atau penyerahan sejumlah syarat dalam upacara Mayar Sala

Menengok Tradisi Mayar Sala, Cara Suku Paser Mendamaikan PerselisihanSerah Seron atau penyerahan sejumlah sesajen Mayar Sala untuk leluhur (IDN Times/Ervan Masbanjar)

“Dalam ritual hukum adat tersebut dilakukan serah seron atau penyerahan sejumlah syarat Mayar Sala seperti bernama Ketuwong Bungo, ruang wali, ruang opat, tambak rusul, tempung tawar, uang setali atau uang denda, semua diserahkan kepala kepala adat,” Eko menerangkan.

Ketua Lembaga Adat Paser (LAP) Kelurahan Sepan, Kecamatan Penajam yang juga bertindak sebagai kepala adat, Yossi Samban menuturkan, bentuk denda yang berlaku dalam upacara Mayar Sala, ada yang berupa uang dalam pecahan riyal bukan rupiah dengan nilai harus genap. Nilainya, kata Yossi, bisa jutaan hingga ratusan juta, bergantung pada level pelanggaran hukum adat.

4. Potensi dendam antara pihak yang berseteru diredam dalam upacara Mayar Sala

Menengok Tradisi Mayar Sala, Cara Suku Paser Mendamaikan PerselisihanKetua Adat saat memutuskan besar Mayar Sala yang harus disiapkan pelaku pelanggar hukum adat Paser (IDN Times /Ervan Masbanjar)

Yossi menceritakan, upacara Mayar Sala yang digelar hari ini untuk meredam dendam antara seluruh pihak yang berseteru. Mulung yang berperan membacakan mantra upacara, kata Yossi, melakukan kontak dengan roh para leluhur. Melalui Yossi, leluhur suku Paser menyatakan permasalahan yang terjadi di wilayah Adat Paser, telah selesai dan tidak ada kata balas dendam.

Untung saja, upacara hari ini selesai dengan kesepakatan damai. Sebab, bila tidak, persoalan yang ada harus didorong ke Punggawa, kepala adat di tingkat kabupaten. Bahkan, jika belum juga terselesaikan, persoalan akan dilimpahkan kepada Raja atau Sultan Paser.

Yossi menyatakan, Mayar Sala merupakan salah satu tradisi yang hingga kini masih dipertahankan. Agar tradisi ini tidak sirna, para tokoh adat selalu mengutamakan penyelesaian masalah dengan cara adat dan keputusan tidak bisa diintervensi oleh siapa pun. Namun begitu, pihaknya tetap menghormati hukum positif yang diciptakan oleh negara.

Baca Juga: RUU Masyarakat Adat, Benteng bagi Suku Paser di Ibu Kota Baru

Topic:

  • Irwan Idris

Berita Terkini Lainnya