Kisah Peringatan Hari Lahir Pancasila, Sempat Menghilang 3 Dekade

Memudar semasa rezim Presiden ke-2 RI Soeharto

Review tech

Jakarta, IDN Times - Hari Pancasila diperingati setiap tanggal 1 Juni dan menjadi momen peringatan lahirnya Pancasila.  Itulah pertama kalinya dasar negara Pancasila muncul dalam pidato Presiden ke-1 RI Sukarno. Sukarno membahas Pancasila dalam pidatonya saat sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945.

Ternyata, hari nasional yang menyimpan sejarah berharga itu sempat memudar semasa rezim Presiden ke-2 RI Soeharto. Lalu bagaimana perjalanan Hari Pancasila, hingga bisa sah menjadi momen yang diperingati saat ini? Berikut penjelasannya.

1. Hari Pancasila sempat menjadi tabu saat rezim Soeharto

Repro. Buku "B.J. Habibie: 72 Hari Sebagai Wakil Presiden RI" (Sekretariat Negara, 1998)

Seperti dikutip dari buku Membongkar Manupulasi Sejarah: Kontroversi Pelaku dan Peristiwa oleh Asvi Warman Adam, Hari Pancasila sempat menghilang selama tiga dekade.

Hal itu dimulai sejak Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) melarang Hari Pancasila pada 1970 dan berlanjut sampai berakhirnya pemerintahan Presiden Soeharto.

Penghapusan Hari Pancasila oleh rezim Soeharto disebut-sebut untuk menghilangkan unsur kental Sukarno di dalam Pancasila. Dengan demikian, Hari Pancasila menjadi tabu pada masa-masa Orde Baru.

Pada Orde Baru, pemerintah lebih fokus dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober, yang mengingatkan gagalnya G30SPKI.

Baca Juga: Nekat Silahturahmi, Warga 1 Gang di Penajam Bakal Menjalani Rapid Test

2. Megawati meminta SBY sahkan 1 Juni sebagai Hari Pancasila, tapi tidak dipenuhi

ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

Pada era reformasi, baru Hari Lahir Pancasila kembali diperingati. Putri Sukarno sekaligus Presiden ke-5 RI Megawati Sukarnoputri adalah salah satu sosok yang menginginkan 1 Juni ditetapkan sebagai hari libur nasional. Pada 2015, Megawati meminta Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar penetapan itu dilakukan.

Namun, hingga masa akhir kepemimpinannya, SBY tidak melakukan penetapan tersebut. Kendati, dia sempat menjelaskan pentingnya apresiasi terhadap Sukarno sebagai pejuang, pemikir, dan pejuang Pancasila, di dalam pidato presidennya dalam peringatan Hari Lahir Pancasila pada 2011.

"Jika berbicara Pancasila, tidak mungkin tidak berbicara tentang Bung Karno. Kita mesti memberikan apresiasi kepada Bung Karno atas pemikiran besarnya dan perjuangannya yang luar biasa. Bung Karno adalah pejuang, pemikir, dan penggali Pancasila," ujar SBY seperti dilansir kantor berita Antara pada 2 Juni 2011.

3. Hari Pancasila baru disahkan Presiden Jokowi sebagai peringatan dan menjadi hari libur nasional pada 2016

Dok. Biro Pers Kepresidenan

Seiring berjalannya waktu, Presiden Joko "Jokowi" Widodo akhirnya yang mengesahkan 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir Pancasila dan hari libur nasional, melalui Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila.

Baca Juga: PPDB Online di Samarinda, Sekolah Wajib Punya Alat Deteksi Suhu Badan 

Berita Terkini Lainnya