Comscore Tracker

Kisah Polisi Pertemukan Keluarga Korban Gempa, Terpisah 13 Tahun

Ketika ditemukan Juminten menggelandang di jalan

Klaten, IDN Times - Aparat kepolisian Sektor (Polsek) Jogonalan, Polres Klaten, Jawa Tengah, mempertemukan satu keluarga dari Kabupaten Bantul, DIY, dengan seorang anggota keluarga mereka yang telah hilang sejak 13 tahun lalu, akibat gempa Mei 2006. Pertemuan ini terjadi setelah salah satu anggota keluarga melapor ke Mapolsek.

Baca Juga: Gempa Jogja 2006: Trauma Itu Belum Benar-benar Hilang

1. Ketika ditemukan kondisi Juminten mirip gelandangan

Kisah Polisi Pertemukan Keluarga Korban Gempa, Terpisah 13 TahunDok. IDN Times/Humas Polsek Jogonalan

Pertemuan yang mengharukan itu bermula ketika Agustinus Triatmoko alias Koko bersama istrinya, Sukinem, dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Klaten, Sabtu (15/6). Di tengah perjalanan, Sukinem melihat seseorang yang mirip kakaknya, Juminten (60), berjalan di pinggir jalan. Juminten sendiri sudah dianggap hilang oleh keluarganya pascagempa mengguncang DIY dan Klaten pada Mei 2006 lalu.

“Kami awalnya tidak percaya, apalagi kondisinya sangat berbeda. Badannya lusuh, pakaiannya compang camping seperti gelandangan. Saya berhenti untuk memastikan dulu,” ujar Koko.

2. Meminta bantuan polisi dari Polsek Jogonalan

Kisah Polisi Pertemukan Keluarga Korban Gempa, Terpisah 13 TahunDok. IDN Times/Humas Polsek Jogonalan

Mereka kemudian berhenti untuk mengamati lebih cermat perempuan tua di pinggir jalan itu. Setelah yakin bahwa perempuan itu anggota keluarganya, keduanya kemudian meminta bantuan Mapolsek Jogonalan.

Aiptui Yuli dan Bripka M Dwi Habsoro kemudian menghubungi keluarga besar Juminten di Bantul. Selanjutnya, mereka bersama Kokok dan Sukinem menghampiri Juminten yang menggelandang di tepi jalan raya Solo-Yogyakarta, tepatya di Desa Karangdukuh, Kecamatan Jogonalan.

Awalnya, Juminten berusaha menghindari mereka. Namun, dengan sabar kedua polisi terus melakukan pendekatan hingga akhirnya berhasil menenangkan Juminten. Saat disampaikan bahwa ada keluarga yang menunggunya, Juminten luluh.

Hingga akhirnya, saat dipertemukan dengan adiknya, Sukinem, perempuan berusia 60 tahun itu pun tidak bisa membendung air matanya. Kedua perempuan yang sudah 13 tahun tidak bertemu itu berpelukan sambil menangis.

3. Keluarga sudah belasan tahun mencari keberadaan Juminten

Kisah Polisi Pertemukan Keluarga Korban Gempa, Terpisah 13 TahunInstagram.com/ragamkulonprogo

Menurut Koko, sebelumnya Juminten tinggal di wilayah Gunungkidul, DIY. Namun, setelah gempa dia tidak ditemukan. Selama ini keluarga sudah melakukan pencarian mulai dari Yogyakarta hingga Sragen, namun selalu gagal.

“Rasanya kami seperti mendapat mujizat. Tidak menyangka kami bisa dipertemukan kembali. Kami sangat berterima kasih kepada polisi yang membantu pertemuan ini,” ujar Koko.

Kapolsek Jogonalan, Iptu Rizky Widyo Pratomo, menyampaikan setelah pertemuan itu, polisi dan keluarga Juminten yang lain mengantarkan Juminten ke Rumah Sakit Jiwa daerah (RSJD) Dr. RM Soedjarwadi Klaten untuk mendapatkan perawatan, terutama untuk memulihkan kondisi kejiwaan Juminten.

“Saat itu kondisi Bu Juminten memang lusuh, tidak terurus dan seperti linglung. Hampir seluruh badannya ada tempelan plastik mulai dari kaki, tangan dan badannya. Dia memang sering terlihat berjalan di kawasan itu sambil membawa plastik ke mana-mana,” ujar Rizky, Senin (17/6).

 

Baca Juga: Gempa 2006: Dua Tahun Membangun Jogja di Antara Puing-puing 

Topic:

  • Mela Hapsari

Berita Terkini Lainnya