Comscore Tracker

New Normal, Tatkala Dunia Mencoba Berdamai dengan Virus Corona

6 hal harus ditilik pemerintah sebelum melonggarkan aturan

Jenewa, IDN Times - Gara-gara virus corona atau COVID-19 kehidupan warga dunia bakal berubah 180 derajat. Peralihan itu terjadi seiring new normal coba diterapkan dalam hidup manusia. 

Normal baru yang dimaksud ialah kebiasaan-kebiasaan yang sebelumnya cukup awam, namun belakangan mulai biasa dilakukan. Misalnya saja, pakai masker, jaga jarak, cuci tangan dan penggunaan hand sanitizer

1. WHO merilis pedoman pelonggaran aturan dan masa transisi ke normal baru

New Normal, Tatkala Dunia Mencoba Berdamai dengan Virus CoronaPara guru menyambut murid-murid yang kembali ke sekolah dengan peraturan baru dan pembatasan sosial saat pandemik COVID-19 di Prancis, pada 12 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Stephane Mahe

Berdasarkan asumsi tersebut, maka WHO di kawasan Eropa merilis pedoman bagi negara-negara yang berencana melonggarkan peraturan dan beralih ke masa transisi dengan new normal. Pedoman new normal itu dipublikasikan di situs resmi WHO pada April lalu dan disampaikan ketika konferensi pers oleh Direktur Regional WHO di Eropa Dr Hans Henri P. Kluge.

Seiring dengan respons tersebut sejumlah negara di dunia mulai melonggarkan pembatasan sosial seiring dengan berakhirnya masa lockdown dan penurunan jumlah kasus COVID-19. Di Eropa seperti Italia, Spanyol, Jerman, dan Inggris sudah membuka kembali perkantoran, bisnis, dan institusi pendidikan.

Di Asia, virus corona jadi tantangan bagi Korea Selatan dan Tiongkok yang sedang berusaha mengembalikan kehidupan normal. Ini karena begitu publik beraktivitas di luar, mendadak muncul kasus COVID-19 lagi secara sporadis.

Di Amerika Serikat, pemerintah federal memaksa ingin mengakhiri pembatasan fisik dan sosial padahal jumlah kasus masih sangat tinggi.

2. Ada 6 hal yang perlu diamati pemerintah sebelum melonggarkan aturan

New Normal, Tatkala Dunia Mencoba Berdamai dengan Virus CoronaSeorang guru menggunakan kamera pemindai panas untuk mengecek suhu pelajar saat pandemik COVID-19 di Seoul, Korea Selatan, pada 21 Mei 2020. ANTARA FOTO/ Yonhap/via REUTERS

Kluge berpendapat, pemerintah harus bisa menjawab pertanyaan dari publik mengenai langkah-langkah yang diambil, termasuk ketika memutuskan untuk melakukan pelonggaran. Ini karena masyarakat perlu merasa yakin bahwa pemerintah mereka tidak salah langkah dan segala keputusan ditetapkan berdasarkan pertimbangan objektif.

"Orang-orang bertanya: Seberapa banyak kita harus bertahan? Dan untuk berapa lama? Untuk merespons, pemerintah dan otoritas kesehatan wajib mampu menjawab untuk mengidentifikasi kapan, dalam kondisi apa dan bagaimana kita bisa mempertimbangkan sebuah transisi yang aman melalui perubahan gradual dalam berbagai langkah," kata Kluge.

WHO sendiri menyarankan enam hal yang perlu diperhatikan pemerintah sebelum yakin dengan keputusan untuk melonggarkan aturan:

1. Ada bukti yang menunjukkan penularan COVID-19 bisa dikendalikan;

2. Kapasitas kesehatan masyarakat dan sistem kesehatan, termasuk rumah sakit, mampu mengidentifikasi, mengisolasi, menguji, melacak kontak, dan mengarantina mereka;

3. Risiko wabah ditekan di tempat-tempat dengan kerentanan tinggi--khususnya di rumah orang lanjut usia, fasilitas kesehatan mental, dan pemukiman padat penduduk;

4. Langkah-langkah pencegahan di lingkungan kerja sudah ditetapkan--dengan penerapan jaga jarak fisik, fasilitas cuci tangan dan etika pernapasan;

5. Risiko kasus impor bisa dikendalikan;

6. Masyarakat diizinkan berpendapat dan dilibatkan dalam masa transisi.

"Jika Anda tak bisa memastikan kriteria-kriteria ini diterapkan, sebelum melonggarkan pembatasan, mohon Anda pikirkan kembali," tegas Kluge.

Dengan kata lain, ketika pemerintah dan semua yang memiliki kepentingan belum yakin mampu mewujudkan keenam hal itu, sebaiknya karantina tetap dilanjutkan.

3. Pedoman new normal di Amerika Serikat menimbulkan kontroversi

New Normal, Tatkala Dunia Mencoba Berdamai dengan Virus CoronaSeorang polisi mengontrol pembatasan sosial saat pandemik COVID-19 di Domino Park di Brooklyn, New York, Amerika Serikat, pada 16 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Eduardo Munoz

Sementara itu, Amerika Serikat sedang terbelah dalam menentukan apakah ini saat yang tepat untuk membuka kembali semua bisnis dan aktivitas-aktivitas lain, mengingat jumlah kasus per hari masih tinggi. Pada Kamis (21/5), ada lebih dari 25.000 kasus yang dilaporkan di seantero negeri.

Mengutip The Washington Post, rupanya Gedung Putih diam-diam merilis pedoman normal baru yang disebut sebagai revisi dari rancangan milik Pusat Pengendali dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC). Perubahan dilakukan untuk menyenangkan hati kelompok konservatif yang jadi basis pendukung Donald Trump.

Revisi yang jadi perbincangan adalah dihapusnya larangan mengedarkan tempat kolekte atau uang persembahan di antara para jemaat gereja saat misa. Situs resmi CDC juga dilaporkan diam-diam menyunting informasi tentang virus corona untuk mengakomodasi revisi tersebut.

Di dalamnya, lembaga itu menyebut virus lebih mudah tersebar melalui kontak orang per orang. Sedangkan menyentuh permukaan suatu benda tidak akan menimbulkan risiko besar.

Topic:

  • Yuda Almerio Pratama Lebang

Berita Terkini Lainnya