Comscore Tracker

Tradisi Jelang Ramadan dari Tapanuli, Samarinda, hingga Bali

Ada empat jenis tradisi yang umum dilakukan masyarakat kita

Balikpapan, IDN Times - Seluruh umat muslim menyambut datangnya bulan suci Ramadan dengan suka cita. Seperti dilakukan beberapa daerah yang punya tradisi jelang bulan penuh rahmat. 

Tradisi yang pada hakikatnya wujud syukur atas anugerah bulan Ramadan bagi umat muslim. Agar semakin meningkatkan ketakwaan terhadap Allah SWA. 

Apalagi Indonesia dengan populasi penduduk muslim 207 juta dari total 270,6 juta jiwa menjadi negara dengan penganut ajaran Islam terbesar di dunia. Tersiarnya ajaran Islam di nusantara tak lepas dari perjuangan para wali dalam menunjukkan suri tauladan bagi masyarakat Indonesia di masa lampau.

Demikian, IDN Times akan merangkum tradisi dan antusias daerah jelang datangnya bulan suci Ramadan. Sehingga akan meningkatkan ketakwaan sekaligus toleransi terhadap keberagaman adat budaya masyarakat di Indonesia.

1. Sejarah singkat Islam masuk ke Indonesia

Tradisi Jelang Ramadan dari Tapanuli, Samarinda, hingga BaliIlustrasi (ANTARA FOTO/Akbar Tado)

Jauh sebelum Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, para pedagang asal Timur Tengah membawa ajaran Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 Masehi. Ketika itu nusantara memang menjadi salah satu kunci perdagangan bagi wilayah Asia, terutama daerah-daerah yang dikuasai oleh kerajaan Sriwijaya di Sumatra.

Menurut berbagai sumber, para pedagang yang berlabuh di wilayah Kerajaan Sriwijaya sering kali memilih tinggal sementara untuk menunggu angin yang dapat membawa kembali mereka ke negara masing-masing. 

Dengan kemampuan pendekatan yang baik, sejarah mencatat bahwa masyarakat Kerajaan Sriwijaya amat terbuka dengan para pedagang itu, meski sebagian besar masyarakat dari penduduk lokal merupakan penganut Hindu dan Buddha.

Dalam beberapa kesempatan, para pedagang mulai membagikan pemahaman soal Islam, hingga akhirnya membuat masyarakat sekitar tertarik dan kemudian memilih untuk memeluk ajarannya.

2. Penyiaran ajaran Islam secara persuasif melahirkan tradisi baru

Tradisi Jelang Ramadan dari Tapanuli, Samarinda, hingga BaliANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Namun sebenarnya, soal waktu masuknya Islam ke Indonesia masih dalam perdebatan para ahli. Ada ahli sejarah yang menyebut bahwa ajaran Islam sebenarnya telah masuk di abad ke-7 Masehi, di mana para pedagang asal Timur Tengah menjalin hubungan yang baik dengan Kerajaan Sriwijaya.

Pendapat itu mendasari asumsi bahwa pengaruh Islam pertama kali masuk untuk masyarakat sekitar Sumatra Utara, atau masuk ke wilayah Samudera Pasai.

Di sisi lain, ada pula pendapat sejarah yang menyebutkan bahwa Islam sebenarnya masuk ke Indonesia pada abad ke-11, atau bahkan pada abad ke-13 masehi. Setiap pendapat yang muncul memiliki dalil masing-masing. Dan seperti yang sudah-sudah, perdebatan sejarah akan terus terjadi selama para ahli dapat mengungkap temuan terbaru mereka kepada publik.

Yang terang, bisa kita simpulkan bahwa penjabaran ilmu Islam pada masyarakat Indonesia telah melalui masa yang sangat panjang dan bertahap. Ya, bertahap, dalam arti para penyiar Islam melakukan pendekatan persuasif hingga mampu menarik minat masyarakat Indonesia hingga memeluk ajaran Islam.

Pendekatan persuasif tersebut sering kali melahirkan tradisi atau kebudayaan baru yang muncul di tiap daerah di Indonesia. Maka itu, jangan heran jika setiap daerah di Indonesia memiliki jenis tradisi yang berbeda dalam menyambut hari besar, salah satunya adalah dalam menyambut bulan suci Ramadan sebelum kemeriahan itu berakhir di 1 Syawal (Hari Raya Idul Fitri).

Meski tradisinya berbeda, mulai dari mandi bersama hingga ziarah makam, namun sebenarnya kita dapat menarik 'benang merah' yang sama dalam setiap kearifan lokal. Bahwa masyarakat muslim Indonesia sama-sama ingin menyucikan diri dari kekhilafan yang mereka lakukan selama satu tahun lamanya.

3. Tradisi mandi bersama yang dilakukan masyarakat Tangerang sampai Tapanuli Tengah

Tradisi Jelang Ramadan dari Tapanuli, Samarinda, hingga BaliMandi Limau (IDN Times/Hendra Simanjuntak)

Kegiatan mandi bersama seperti yang dilakukan oleh masyarakat Telukbetung memiliki makna filosofis yang dalam. Namun intinya, selain tentu menjadi warisan dari para leluhur suku Lampung, aktivitas tersebut secara harfiah menjadi medium masyarakat dalam menyucikan diri sebelum memasuki bulan Ramadan.

Setali tiga uang, kearifan lokal dalam mandi massal juga terjadi di daerah lainnya seperti Tangerang, Banten; Tapanuli Tengah, Sumatra Utara; dan Boyolali, Jawa Tengah.

Di Tangerang, misalnya, kegiatan serupa dilakukan oleh masyarakat Kelurahan Babakan, Kecamatan Tangerang. Menjelang bulan Ramadan, mereka biasanya menggelar acara keramas bersama-sama di Sungai Cisadane. Uniknya, alih-alih menggunakan sampo, keramas yang mereka lakukan justru menggunakan merang (bekas tangkai padi yang telah mengering).

Pada tradisi ini, baik anak- anak, ibu-ibu, bahkan bapak-bapak, ikut keramas di tepian Sungai Cisadane. Tradisi ini juga biasanya dilakukan satu hari sebelum bulan Ramadan.

Masyarakat Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, juga memiliki kegiatan serupa yakni mandi limau yang juga digelar sehari sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Namun sayangnya, karena alasan pandemik COVID-19, kegiatan ini sempat dilarang pada Ramadan 2020. Hingga berita ini diturunkan, pemerintah setempat pun belum resmi mengizinkan mandi limau kembali digelar untuk menyambut Ramadan tahun ini.

Mandi limau merupakan kearifan lokal yang masih terus dipertahankan masyarakat sekitar. Saban tahunnya, mereka beramai-ramai mendatangi sungai yang berada di Sibuluan untuk melaksanakan tradisi tersebut. "Tidak semua umat Islam mandi limau di sungai, karena ada yang melakukannya di rumah masing-masing," kata pemerhati Budaya Pesisir Sibolga-Tapteng, Syafriwal Marbun, Kamis (8/4/2021)

Sama dengan masyarakat Tapanuli Tengah, warga Boyolali, Jawa Tengah juga mengenal tradisi mandi bersama. Mereka menamai tradisi tersebut dengan sebutan padusan, di mana biasanya digelar di berbagai umbul atau mata air yang ada di Boyolali.

Bedanya, Pemerintah Kabupaten Boyolali telah memastikan bahwa padusan tahun ini ditiadakan, mengingat masih berlakunya kebijakan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat).

Meski begitu, pemerintah mencoba memahami bahwa sebagian masyarakat tak ingin menghilangkan tradisi yang telah mereka jaga dari tahun ke tahun. Maka itu, mereka memberi sedikit kebebasan pada masyarakat dengan syarat tetap mematuhi protokol kesehatan.

"Jika ada pengunjung ingin melaksanakan padusan, tentu kami mempersilakan, asalkan dibatasi dan tidak boleh terlalu penuh atau hanya 50 persen dari kapasitas agar protokol kesehatan tetap terjaga," kata Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Boyolali Susilo Hartono.

Baca Juga: Aturan Pasar Ramadan di Balikpapan, Pedagang agar Patuhi Prokes

4. Berbagai daerah di Indonesia yang rutin berziarah jelang Ramadan

Tradisi Jelang Ramadan dari Tapanuli, Samarinda, hingga BaliIDN Times/Andra Adyatama

Tak hanya mandi bersama, beberapa daerah di Indonesia juga menyambut bulan suci Ramadan dengan kegiatan ziarah makam. Meski begitu, penamaan tradisi ini sedikit berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya.

Di Jawa Barat, misalnya, tradisi ini dinamai oleh masyarakat Sunda dengan nama nadran. Biasanya, dalam tradisi ini masyarakat Sunda akan berbondong-bondong mendatangi para makam ulama besar sambil menaburkan bunga dan mendoakan mereka.

Dalam skala yang lebih kecil, ada pula yang memaknai nadran dengan berziarah ke makam orangtua, seperti halnya yang dilakukan oleh masyarakat Tangerang, Banten—yang mana sebagian besar leluhurnya merupakan adat Sunda.

Sama dengan yang terjadi di Jawa Barat, masyarakat Kendal, Jawa Tengah, juga menganut tradisi ziarah ke makam para leluhur secara ramai-ramai sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Di Jawa Tengah, penamaan tradisi ini nyaris sama yakni nyadran. Namun sayangnya, Pemkab Kendal telah meminta masyarakat untuk tidak menggelar acara apa pun yang mengundang keramaian, tak terkecuali nyadran.

"Kita sudah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat supaya lebih baik tidak mengadakan pawai, arak-arakan, dan sejenisnya ketika mau menyambut bulan puasa. Karena kan pasti di situ ada kerumunan massa dan warga tentu sulit mematuhi aturan jaga jarak," kata Kepala Disporapar Kendal, Wahyu Yusuf Akhmadi, saat dihubungi IDN Times melalui sambungan telepon, Jumat (9/4/2021).

Tradisi yang sama juga dilakoni oleh masyarakat Tulungagung, Jawa Timur. Namun, berbeda dengan Jawa Barat, masyarakat Tulungagung menyebut tradisi tersebut dengan nama megengan. Uniknya, di Tulungagung, kegiatan itu tak hanya dilakukan oleh kelompok dengan latar belakang agama, melainkan juga oleh kelompok Orang dengan HIV Aids (ODHA).

Pada Rabu (7/4/2021), melalui Majlis Taklim Sinau Agomo, para ODHA mereka menggelar tradisi tersebut secara sederhana di komplek Masjid di Dinas Kesehatan setempat. Meski tidak digelar sambil berziarah, acara ini sendiri diisi dengan pengajian serta doa bersama untuk kebaikan bagi mereka dan para pendahulunya.

5. Tradisi Blangikhan warga Lampung menyambut bulan Ramadan

Tradisi Jelang Ramadan dari Tapanuli, Samarinda, hingga BaliAntara Foto

Masyarakat sekitar Sungai Kali Akar, Kelurahan Sumur Putri, Kecamatan Telukbetung Selatan, Kota Bandar Lampung, telah berkumpul untuk menyaksikan sebuah tradisi jelang bulan suci Ramadan yang mereka sebut dengan blangikhan (baca: blagiran).

Ketika itu belasan muli mekhanai (gadis dan bujang) Lampung berada di sana, kompak mengenakan pakaian lengan panjang dan celana panjang warna hitam. Pakaian itu disesuaikan dengan penutup bahu rajutan sulam usus dan kain tapis.

Sama seperti para muli, belasan mekhanai (bujang) pun kompak mengenakan kemeja putih panjang dengan bawahan sarung. Sejurus kemudian, para gadis bergerak ke tengah sungai dan diikuti oleh para bujang yang menempiaskan air sungai ke arah para gadis. Terkena cipratan air dari para bujang, para gadis tak tinggal diam dan membalas hal serupa.

Gadis dan bujang ini lalu serentak membentuk lingkaran dan saling tempias air sambil berderai tawa. Kondisi ini tak pelak membuat tubuh mereka basah. Selepasnya, beberapa gadis meraih kembang di tepi sungai.

Mereka lalu mengulurkannya ke tangan seolah sebagai sabun, dan membasuhnya di kepala seperti sedang menggunakan sampo. Kira-kira itu adalah gambaran dari kemeriahan tradisi Blangikhan yang rutin digelar masyarakat Telukbetung saban kali menyambut Ramadan.

Masyarakat Telukbetung sebetulnya beruntung karena masih bisa menggelar tradisi yang diturunkan dari para orangtua mereka meski Ramadan 2021 masih digelar di tengah pandemik COVID-19. Berbeda dengan banyak daerah di Indonesia yang terpaksa meliburkan tradisinya dalam menyambut Ramadan, seperti yang terjadi di Jawa Tengah, misalnya.

Mandi massal sebagai simbol membersihkan jiwa dan raga, seperti yang dilakukan oleh masyarakat Telukbetung, merupakan salah satu jenis kearifan lokal yang dapat ditemui di berbagai penjuru Indonesia menjelang Ramadan. Selain mandi massal, tradisi ziarah, pawai atau festival rakyat, hingga kegiatan yang berkaitan dengan makanan, menjadi jenis kearifan lokal yang secara turun-temurun dilakukan nenek moyang kita.

6. Mensyukuri nikmat dengan menyantap makanan jelang Ramadan

Tradisi Jelang Ramadan dari Tapanuli, Samarinda, hingga Balirepublika.co.id

Indonesia memang dikenal akan keanekaragaman budaya yang dianut oleh masyarakatnya, tak terkecuali dalam urusan menyambut bulan suci Ramadan. Tidak hanya mandi bersama, ziarah, dan pesta rakyat, tradisi yang berkaitan dengan makanan pun menjadi salah satu kegiatan yang rutin digelar di sejumlah daerah menjelang bulan suci.

Di Makassar, Sulawesi Selatan, misalnya. Tiap kali menyambut Ramadan, masyarakat Makassar biasanya menggelar acara Suro’ Baca atau Assurommaca, yang dilakukan di akhir bulan Sya’ban, atau sepekan sebelum memasuki Ramadan. Tradisi ini dilakukan oleh setiap keluarga besar, yang akan berkumpul di salah satu rumah anggota keluarga lengkap dengan berbagai hidangan yang khas.

Laode Wowo, warga Makassar yang masih mempertahankan tradisi Suro' Baca mengaku melaksanakannya karena sudah menjadi tradisi turun-temurun dari keluarganya. ”Jadi kita ikuti saja tradisinya. Kalau kita mau dihilangkan juga nanti dibilang tidak bisa karena memang orangtua begitu dulu," kata Wowo kepada IDN Times, Jumat (9/5/2021).

Sementara itu di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), masyarakat Kota Tepian rutin menggelar bagarakan sahur, yang mana merupakan tradisi masyarakat untuk membagikan makanan sahur. “Bagarakan sahur ini sudah menjadi tradisi sejak lama. Membangunkan orang-orang untuk santap sahur,” ujar Muhammad Sarip, Sejarawan Lokal Samarinda kepada IDN Times, Jumat (9/4/2021). 

Namun sayangnya, saat ini tradisi bagarakan sahur mengalami penyimpangan makna. Menurut Sarip, saat ini sebagian remaja dan anak-anak, gabungan laki-laki dan perempuan di Samarinda, telah melakukan perubahan radikal yang mengatasnamakan bagarakan sahur.

Tak ada lagi yang berjalan kaki, namun lebih banyak mengendarai motor di jalan besar dan juga membawa pikap disertai pengeras suara. Mereka berkeliling kota membunyikan musik dengan volume sangat keras. Warga bukannya terbantu tapi terganggu. Aksi tersebut tentunya sudah melanggar aturan lalu lintas dan norma sosial.

“Yang jelas, itu bukan bagarakan sahur. Kami harap pemerintah bisa memberikan solusi terbaik,” pungkasnya.

7. Megibung identik dengan tradisi Hindu di Bali, namun dilakoni juga muslim jelang Ramadan

Tradisi Jelang Ramadan dari Tapanuli, Samarinda, hingga BaliInstagram.com/pande_adyy

Kearifan lokal menjelang Ramadan yang masih berkaitan dengan rasa syukur lewat menyantap makanan juga dilakoni oleh masyarakat muslim di Bali, khususnya Bali Timur, dengan rutin menggelar tradisi bernama megibung. Meski demikian, secara umum, tradisi megibung juga identik dengan ritual masayarakat Hindu saat menggelar yadnya atau upacara adat.

Saat megibung, masyarakat adat menggelar acara makan bersama dengan cara duduk melingkar dan bersila. Di tengah lingkaran, terhidang nasi lengkap dengan lauk seperti lawar, sate, ataupun daging yang digoreng. Secara filosofis, tradisi megibung diharapkan dapat mempererat kekerabatan antar warga.

Di sisi lain, ada pula tradisi yang masih berkaitan dengan makanan yang dilakukan oleh umat Muslim di Kampung Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali. Mereka menyebut tradisi yang sudah dilakukan secara turun menurun ini dengan ngaminang. 

"Ngaminang merupakan tradisi leluhur umat Muslim di Kampung Kusamba untuk menunjukkan kebersamaan. Umat Muslim Kampung Kusamba terdiri dari beberapa suku," ujar tokoh Muslim Kampung Kusamba, Hambali, Jumat (9/4/2021).

Menurutnya, tradisi ngaminang serupa dengan tradisi megibung. Biasanya tradisi ini dilaksanakan di masjid setempat dan diikuti oleh orang dewasa maupun anak-anak.

"Tradisi ini menjadi contoh dalam menjaga kebersamaan dan toleransi antar umat beragama. Tidak hanya antar umat Muslim, warga sekitar yang mayoritas Hindu juga kami libatkan," tuturnya.

8. Beberapa daerah melarang pesta rakyat jelang Ramadan

Tradisi Jelang Ramadan dari Tapanuli, Samarinda, hingga BaliKegiatan razia prokes penggunaan masker di Jl Sudirman kawasan terminal BP Balikpapan Kota, Jumat (12/3/2021). (IDN Times/Hilmansyah)

Selain mandi bersama dan ziarah, masyarakat di penjuru Indonesia lainnya memiliki tradisi pesta rakyat sebelum menyambut bulan suci Ramadan. Namun, adanya kekhawatiran akan munculnya klaster baru COVID-19 setelah pesta rakyat digelar, membuat pemerintah terpaksa meliburkan tradisi tersebut.

Padahal tradisi pesta rakyat ini menjadi kegiatan yang rutin digelar oleh masyarakat Balikpapan, Kalimantan Timur. Saban menjelang Ramadan, masyarakat sekitar biasanya menggelar pawai ta’aruf yang merupakan pesta rakyat untuk berpawai sambil melantunkan puji-pujian bagi Allah SWT dan Rasulullah SAW. Seperti halnya tahun lalu, pemerintah setempat lagi-lagi harus membatalkan pawai ta’aruf jelang Ramadan 2021.

“Tidak ada pelaksanaan pawai ta’aruf menyambut datangnya bulan Ramadan. Larangan ini juga diberlakukan pada saat Ramadan tahun lalu,” ujar Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Balikpapan Zulkifli, Jumat (9/4/2021).

Pembatalan tradisi serupa terjadi di dua daerah di Jawa Tengah, yakni Semarang dan Kudus. Untuk menyambut Ramadan, warga Semarang biasanya menggelar tradisi dugderan di mana menjadi rangkaian acara budaya mulai dari pasar malam hingga arak-arakan. Tradisi ini terus dipertahankan oleh masyarakat sekitar, sejak pertama kali diperkenalkan pada 1882.

Sementara di Kudus, pesta rakyat juga biasanya digelar menyambut Ramadan dengan nama dandangan. Namun, karena alasan yang sama, tradisi tersebut untuk sementara waktu ditiadakan.

Tim penulis : Maya Aulia Aprilianti (Banten) | Bramanta Pamungkas (Jawa Timur) | Ashrawi Muin (Sulawesi Selatan) | Hendra Simanjuntak (Sumatera Utara) | Yuda Almerio (Kalimantan Timur) | M. Hilmaysah (Kalimantan Timur) | Anggun Puspitoningrum (Jawa Tengah) | Fariz Fardianto (Jawa Tengah) | Bandot Arywono (Jawa Tengah) | Wayan Antara (Bali) | Tama Wiguna (Lampung) | Pito Agustin Rudiana (D.I. Yogyakarta)

Baca Juga: Balikpapan Youth Spirit, Komunitasnya Anak Muda Cinta Balikpapan

Topic:

  • Sri Wibisono

Berita Terkini Lainnya