Laporan Diabaikan, Keluarga Korban Ancam Perkarakan 3 Institusi Negara

Berlarutnya penanganan kecelakaan kapal di Tarakan

Balikpapan, IDN Times - Beberapa waktu lalu, pihak keluarga dari salah satu korban kecelakaan speedboat yang diduga kasus pembunuhan di Sungai Pamusian, Tanjung Pasir, Tarakan Timur, Kalimantan Utara (Kaltara) melangkah hingga ke pusat.

Any Fatmawati, ibu dari korban Rizki, melaporkan Polda Kaltara dan Polair Polres Tarakan ke Divisi Propam Polri dan Kompolnas. Selain itu, Ani juga mengadukan kasus anaknya hingga ke Komnas HAM.

Namun sayangnya laporannya ke tiga instansi pusat tersebut hingga kini tak memberikan membuahkan hasil. Padahal saat itu Any melaporkan kasus ini didampingi oleh kuasa hukumnya sebagai laporan resmi. 

Hal ini pun menimbulkan tanda tanya besar di kepala penasehat hukum keluarga korban, Rabshody Roestam. Ia tak menyangka kasus yang dilaporkan secara resmi ini seharusnya diproses oleh tiga instansi tersebut. Paling tidak, ada surat jawaban yang diberikan terkait laporan resmi tersebut.

Rabshody bahkan membandingkan respons Komnas HAM terkait kasus di Langkat Sumatra Utara yang terbilang cepat, tetapi sebaliknya lambat dalam kasus di Tarakan. 

"Seharusnya ada jawaban, paling tidak surat balasan. Menurunkan anggotanya juga, tetapi tidak ada. Padahal kasusnya sama-sama berurusan dengan nyawa dan perlu penyelidikan penuh, tapi di sini malah belum ada respons," terangnya, saat dihubungi IDN Times, Selasa (15/2/2022).

1. Akan melakukan gugatan ke pengadilan

Laporan Diabaikan, Keluarga Korban Ancam Perkarakan 3 Institusi NegaraIlustrasi hukum (IDN Times/Arief Rahmat)

Tak adanya respons dari tiga instansi ini tentu membuat pihak keluarga kecewa. Padahal Any bersama pengacaranya terbang ke Jakarta dengan harapan kasus ini mendapat perhatian. 

Tetapi rupanya berakhir sama dengan kondisi mereka di Tarakan. Rabshody bahkan masih menunggu dan memberikan jangka waktu dalam satu bulan. Jika kasus ini tak mendapat respons dari pusat, maka mau tak mau ia akan menggugat tiga instansi pusat tersebut ke pengadilan.

"Jadi biar hakim saja sudah yang menentukan bagaimana proses kasus ini. Ini terlalu janggal, bahkan pusat pun tak merespons," tuturnya.

Ia menilai kasus ini memiliki banyak ketimpangan sejak awal. Mulai dari polisi yang memeriksa saksi-saksi dan menyimpulkan sebagai peristiwa kecelakaan kapal, padahal saksi mata belum ditemukan.

Tak ada pemeriksaan keterangan keluarga korban Riski, hingga tak ditemukan adanya bangkai speedboat lain, seperti yang disebutkan adanya tubrukan antara dua speedboat. 

Baca Juga: Kecelakaan Speedboat Maut di Kaltara, Lima Meninggal 

2. Keluarga korban Rizki mulai dimintai keterangan

Laporan Diabaikan, Keluarga Korban Ancam Perkarakan 3 Institusi NegaraDok. IDN Times/bt

Kasus yang menampilkan banyak sisi abu-abu ini juga, kini kembali berproses di pemeriksaan saksi. Jika sebelumnya Any, ibu korban Rizki dilewatkan sebagai saksi, pagi tadi Any mendapat panggilan oleh kepolisian untuk proses BAP sebagai saksi.

Meski begitu, Rabshody menuturkan jika proses BAP tersebut masih mengacu pada laporan lama. Saat laporan itu masih tergabung dengan laporan dari pihak keluarga dua korban lainnya. 

Karena keluarga dua korban lainnya tak meneruskan kasus ini, Rabshody mengatakan jika timbul kekhawatiran dari keluarga korban Rizki kasus ini bisa sewaktu-waktu berhenti jika dua keluarga korban itu mencabut laporannya. 

"Sebenarnya kan itu hak juga untuk dibuatkan laporan baru. Tetapi kata bu Any tadi laporan tidak dibuatkan baru dan tetap menggunakan laporan lama, hanya menambah keterangan bu Any sebagai saksi," ujarnya.

3. Polisi tegaskan kasus ini akan terus berproses

Laporan Diabaikan, Keluarga Korban Ancam Perkarakan 3 Institusi NegaraIlustrasi Garis Polisi (IDN Times/Arief Rahmat)

Menanggapi laporan keluarga korban hingga ke Polri dan Komnas HAM, Kasat Polair Polres Tarakan Inspektur Satu Jamzani menegaskan, jika pihaknya terus memproses kasus ini. Ia bersama anggotanya melakukan penyelidikan mengenai kasus ini. 

Bahkan pihaknya sudah tiga kali melakukan proses gelar perkara. Hanya saja memang kesulitan yang mereka hadapi adalah mencari saksi mata dalam peristiwa tersebut.

"Sampai saat ini saksi mata itu yang sedang kami cari. Bahkan saya juga turun langsung melakukan pencarian saksi. Kasus ini tidak terhenti, kamu tetap lakukan penyelidikan dan pengembangan," kata dia.

Sementara itu, menanggapi pihak keluarga korban yang meminta pembuatan laporan baru, Jamzani memastikan meski nantinya dua keluarga korban lain memang mencabut laporannya, laporan dan keluarga korban Riski akan terus diproses.

Tak mempengaruhi proses penyidikan yang sudah berjalan.

Selain itu juga, permintaan keluarga korban untuk autopsi jenazah Riski juga akan kembali dikoordinasikan pihaknya kepada keluarga korban. 

"Nanti kami kabari lanjutannya, ya. Kami perlu koordinasikan dulu," tutupnya. 

Baca Juga: Mati Mesin, Kapal dari Tarakan Terbawa Arus hingga Perbatasan Malaysia

Topik:

  • Sri Wibisono

Berita Terkini Lainnya