Pandemik, Angka Perceraian di Balikpapan Terus Alami Peningkatan 

Penggugat lebih banyak dari pihak perempuan

Balikpapan, IDN Times - Tak ada yang suka dengan yang namanya perpisahan dalam rumah tangga. Namun, ada beberapa sebab yang justru menjadi pemicu keretakan dalam hubungan yang sudah terikat dalam ikatan pernikahan ini.

Berdasarkan data milik Pengadilan Agama Kota Balikpapan Kalimantan Timur (Kaltim), sepanjang tahun 2021 yakni periode Januari-Oktober 2021, angka perceraian naik mencapai 2.200 kasus. 

Kepala Pengadilan Agama Kota Balikpapan Darmuji mengungkapkan, angka tersebut tentunya akan melampaui jumlah kasus perceraian di tahun 2020, di mana tingkat perceraiannya sebanyak 2.400 perkara dalam setahun.

"Sehingga dalam waktu 2-3 bulan ke depan, angka perceraian diperkirakan bisa naik lagi mencapai 2.700 kasus," ujarnya, Jumat (19/11/2021).

1. Kebanyakan penggugat dari pihak perempuan

Pandemik, Angka Perceraian di Balikpapan Terus Alami Peningkatan Ilustrasi Perceraian (IDN Times/Mardya Shakti)

Darmuji menjelaskan, dari seluruh kasus yang saat ini sedang ditangani sebagian besar kasus adalah gugatan cerai yang diajukan oleh pihak perempuan. Jika bicara kasus memang dari yang ditangani oleh pengadilan agama paling banyak adalah gugatan dari perempuan dengan persentase 60 banding 40.

Dengan beberapa sebab yang melatarbelakangi kasus gugatan cerai di antaranya adanya pihak ketiga. Selain itu, tingkat pemahaman perempuan yang saat ini lebih memahami haknya sehingga banyak dari pihak perempuan melakukan gugatan. Tidak hanya dari KDRT, tetapi juga tindakan penelantaran oleh pihak laki-laki.

"Misal ada suaminya yang terkena kasus pidana kemudian masuk penjara hingga 5 tahun dan pihak perempuan tidak mau menunggu dan akhirnya mengajukan gugatan cerai," terangnya.

Baca Juga: Pendampingan pada Anak Korban Perceraian oleh DP3AKB Balikpapan

2. Pandangan psikologi mengenai kasus perceraian

Pandemik, Angka Perceraian di Balikpapan Terus Alami Peningkatan psikoma.com

Secara rinci, dijelaskan oleh Dwita Salverry, selaku psikolog klinis jika kasus perceraian, apa pun sebabnya pasti berdampak pada psikologi karena berhubungan dengan pikiran dan perasaan. Apalagi dalam kasus KDRT, suatu kekerasan yang bersifat verbal saja bisa menyakitkan dan menimbulkan trauma.

Dampaknya mulai dari stres, depresi, gangguan tidur, gangguan makan bahkan gangguan perilaku. Namun sudah jamak bila perselingkuhan terjadi maka akan berkaitan juga dengan terjadinya KDRT dalam rangka menutupi kesalahannya.

"Pada dasarnya perceraian itu berhubungan dengan hilangnya suatu hubungan yang awalnya semua pernikahan pasti ingin sekali untuk pertama dan selamanya," kata dia.

Lanjutnya, siapa pun yang terlibat baik lelaki maupun perempuan pasti akan merasa kehilangan dengan perpisahan. Seakan setuju dengan pernyataan Darmuji, dengan banyaknya gugatan dari pihak istri, sebetulnya menunjukkan jika perempuan sekarang lebih berani menentukan sikap dan menanggung risiko kehilangan perlindungan dan nafkah dari suaminya.

3. Dampak yang diterima

Pandemik, Angka Perceraian di Balikpapan Terus Alami Peningkatan Unsplash

Dwita mengatakan, dampak utama dari setiap perceraian harus dilihat dari bagaimana proses perceraian itu terjadi. Jika prosesnya baik, maka meski lambat hubungan juga akan membaik, apalagi jika memiliki keturunan di tengah-tengahnya. Namun dampak dikarenakan perceraian disebabkan selingkuh, KDRT dan lainnya yang menimbulkan rusaknya hubungan dan sakit, baik fisik maupun perasaan pada kedua pihak.

Untuk dampak psikologinya ditentukan oleh beberapa faktor seperti, bagaimana kondisi mental perempuan saat perceraian itu terjadi, yakni kematangan emosi dan penyesuaian dirinya. Artinya jika perceraian itu terjadi pada mental yang siap maka dia akan bisa menerima dan cepat bangkit dari kondisi yang merasa jatuh karena perceraian ini.

"Walaupun tetap melewati fase pemulihan, namun akan lebih cepat dibandingkan yang mentalnya lemah, kurang percaya diri, pencemas dan merasa tidak berguna misalnya maka dampak psikologinya akan lebih berat," terangnya.

Lalu, tambah dia, bagaimana keyakinannya pada Tuhan, juga akan sangat mempengaruhi saat proses pemulihan di fase marah dan di fase bargaining. Di mana kondisi ini akan menentukan, apakah bisa menerima dengan pikiran, dengan hati atau kombinasi hati, dan pikiran terhadap perceraian yang dihadapinya.

Kemudian bagaimana dukungan keluarga terdekat juga akan sangat menentukan bagaimana perempuan akan bangkit kembali atau menjadi terpuruk oleh perceraian tersebut.

Secara psikologi semua yg mengalami trauma psikologis pasti akan akan bisa pulih dengan sendirinya jika tidak ada gangguan dalam kepribadiannya. Hanya saja, kata Dwita, proses pemulihan berjalan beda kecepatan pada setiap orang walaupun tahapan fasenya sama. Bila tekanan yang didapat melebihi kekuatan mentalnya, itulah yang membuat jadi gangguan.

4. Penjelasan dari salah satu korban perceraian

Pandemik, Angka Perceraian di Balikpapan Terus Alami Peningkatan Ilustrasi perceraian (iamexpat.nl)

Jika melihat data yang disuguhkan oleh Pengadilan Agama Balikpapan, tingkat perceraian lebih banyak diajukan oleh pihak perempuan. Dampak yang terasa pun digambarkan lebih berat pada sisi wanita. Namun, salah satu korban perceraian, di mana seorang pria berinisial Y menggambarkan dampak yang terasa padanya ketika menerima ajakan bercerai oleh mantan istrinya. Seakan memukul balik pernyataan wanita yang selalu tersakiti, justru dirinya yang lebih menerima dampak besarnya.

Sama halnya dengan penjelasan psikolog yang menyebut jika adanya pihak ketiga, hal ini tergambar pada keadaan rumah tangganya. Namun pihak ketiga di sini yang ia sebut ialah adanya campur tangan pihak keluarga.

"Ada banyak hal, alasan karena masih tidak setuju dengan mantan istri saya dulunya. Segala masukan negatif disampaikan hingga akhirnya dari pernyataan keluarga justru membuat keadaan rumah tangga saya memburuk," tutur Y.

Baca Juga: Para Tokoh di Kaltim Ramai-Ramai Kritisi soal Tambang Balikpapan

Topik:

  • Sri Wibisono

Berita Terkini Lainnya