Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Strategi Lapis Cedaff Lawan Gempuran Lapis Legit Harga Terjangkau
Owner Lapis Cedaff, Ryan Dwi Sulistiawan. (IDN Times/Teri).

Pontianak, IDN Times - Di tengah maraknya kue lapis legit dengan harga lebih ekonomis, Lapis Cedaff di Pontianak memilih tetap berjalan di jalurnya, menjaga kualitas rasa, bukan ikut berperang harga.

Usaha rumahan yang dirintis sejak 2018 ini memang bukan pemain baru. Namun, di saat kompetitor bermunculan dengan berbagai varian dan harga ekonomis, Lapis Cedaff justru konsisten mempertahankan standar premium mereka.

Owner Lapis Cedaff, Ryan Dwi Sulistiawan, menyadari betul bahwa persaingan di bisnis kue lapis semakin ketat. Banyak produk di pasaran yang menawarkan harga lebih rendah, namun menurutnya, perbedaan utama ada pada bahan baku.

“Harga itu sebenarnya sangat ditentukan dari bahan. Kita pakai butter murni, bukan campuran margarin, dan telur yang digunakan juga full kuning telur,” ucapnya, Jumat (20/3/2026).

1. Pertahankan kualitas bahan di tengah gempuran lapis ekonomis

Lapis legit Cedaff yang banyak diburu warga. (IDN Times/Teri).

Pilihan bahan tersebut tentu berdampak pada harga jual. Untuk satu loyang besar, Lapis Cedaff dibanderol mulai Rp415.000 hingga Rp495.000. Sementara ukuran kecil dijual di kisaran Rp225.000 sampai Rp285.000.

Ryan tidak menampik, ada produk lapis legit di luar sana yang dijual lebih murah. Namun ia menilai, biasanya terdapat perbedaan pada komposisi bahan yang digunakan.

“Ada yang mencampur butter dengan margarin, atau tidak full pakai kuning telur. Itu yang membuat harga bisa lebih rendah,” jelasnya.

Meski begitu, Lapis Cedaff tidak merasa perlu menyesuaikan harga demi bersaing. Bagi Ryan, menjaga cita rasa justru menjadi kunci utama agar pelanggan tetap setia.

2. Banjir orderan Idulfitri, di tengah harga telur naik

Proses produksi lapis Cedaff Pontianak. (IDN Times/Teri).

Strategi tersebut terbukti efektif. Menjelang Idulfitri 2026, pesanan Lapis Cedaff tetap tinggi, mencapai sekitar 900 cetak. Bahkan, mayoritas pesanan tahun ini datang dari pelanggan perorangan, bukan lagi dari instansi seperti tahun sebelumnya.

Permintaan juga tidak hanya datang dari Pontianak. Kue lapis ini rutin dikirim ke berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan, hingga ke wilayah timur Indonesia seperti Maluku. Beberapa pesanan bahkan datang dari luar negeri.

“Kalau varian yang paling laku itu lapis ori, prunes. Kalau di luar Kalbar yang paling banyak dicari itu lapis lempok durian, karena di luar jarang ada lempok durian kan,” tutur Ryan.

Di tengah lonjakan permintaan, tantangan lain juga muncul dari kenaikan harga bahan baku, terutama telur. Ryan menyebut harga telur mengalami kenaikan signifikan menjelang Lebaran.

Kondisi tersebut semakin menegaskan keputusan mereka untuk tetap bermain di segmen premium.

3. Lapis Cedaff buka sistem tabungan

Owner Lapis Cedaff saat memenggang kue lapis. (IDN Times/Teri).

Selain menjaga rasa, pendekatan ke pelanggan juga menjadi perhatian. Salah satu strategi yang diterapkan adalah program tabungan, yang memungkinkan pelanggan mencicil pembayaran kue tanpa tekanan seperti sistem arisan.

“Jadi mereka bisa nabung fleksibel. Nanti menjelang Lebaran tinggal dilunasi,” ujarnya.

Dengan tim produksi sekitar delapan orang, Lapis Cedaff mampu memproduksi hingga 90-an loyang per hari saat mendekati Lebaran.

Semua proses masih dilakukan dari rumah, tanpa toko fisik, dengan sistem pre-order untuk menjaga kualitas tetap terkontrol.

Di tengah gempuran produk serupa dengan harga lebih ekonomis, Lapis Cedaff memilih untuk tidak goyah. Bagi mereka, rasa tetap menjadi prioritas utama, sebuah strategi sederhana yang justru membuat usaha ini terus bertahan dan berkembang.

Editorial Team