Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi sosok ambis (pexels.com/MART PRODUCTION)
ilustrasi sosok ambis (pexels.com/MART PRODUCTION)

Samarinda, IDN Times - Ambisi sering jadi bahan bakar utama untuk meraih mimpi, tapi ada sisi gelap yang bisa bikin hidup terasa berat. Pernah nggak sih kamu merasa apa pun yang dicapai tetap nggak cukup?

Atau malah terus membandingkan diri dengan orang lain? Yuk, kenali lebih dalam soal ambisi yang nggak terkendali dan gimana cara mengelolanya!

1. Ambisi menjadi permasalahan pribadi

ilustrasi sosok ambis (pexels.com/Mikhail Nilov)

Ambisi itu bagus, lho, apalagi kalau bikin kita terus maju. Tapi, sisi gelapnya sering muncul tanpa disadari. Misalnya, rasa ketidakpuasan konstan. Orang ambisius sering merasa keberhasilan yang diraih belum sepadan dengan usahanya. Bahkan, ada yang melihat keberuntungan sebagai hal sepele, padahal itu juga bagian dari pencapaian.

2. Adanya tuntutan perfeksionis dalam diri

ilustrasi sosok ambis (pexels.com/Mikhail Nilov)

Perfeksionis sering jadi “partner in crime” dari ambisi. Orang yang perfeksionis biasanya punya standar super tinggi yang terus berkembang. Apa yang dianggap sempurna hari ini, besok bisa terasa kurang. Ini bikin mereka nggak pernah benar-benar merasa puas.

3. Memiliki jiwa kompetitif tidak terkendali

ilustrasi sosok ambis (pexels.com/Olia Danilevich)

Punya jiwa kompetitif itu seru, bikin kita termotivasi. Tapi kalau kebablasan, bisa jadi boomerang. Orang dengan sifat ini sering menganggap persaingan sebagai ukuran utama keberhasilan. Kalah? Rasanya seperti aib. Akhirnya, mereka memaksakan diri untuk terus jadi yang terbaik, bahkan melampaui batas kemampuan.

4. Tantangan dan ekspektasi sosial yang menekan

ilustrasi sosok ambis (pexels.com/Kampus Production)

Setiap tantangan bagi sosok ambisius adalah kesempatan pembuktian. Tapi, kalau terus-terusan melihat tantangan sebagai ajang pembuktian diri, lama-lama bisa melelahkan.

Ditambah lagi, ekspektasi sosial dari lingkungan bikin mereka makin terbebani. Standar masyarakat sering kali jadi pedoman yang bikin seseorang merasa nggak pernah cukup baik.

5. Belajar bersyukur: kunci ambisi yang sehat

ilustrasi sosok ambis (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Punya ambisi itu penting, tapi mengelolanya juga nggak kalah penting. Coba deh, sesekali tarik napas dan lihat pencapaianmu dengan rasa syukur. Ambisi yang sehat adalah ambisi yang memacu kemajuan, bukan jadi beban. Jadi, jangan lupa untuk lebih santai dan kasih apresiasi buat dirimu sendiri, ya!

Apakah kamu merasa relate dengan cerita ini? Kalau iya, mungkin ini saatnya untuk lebih bijak dalam mengelola ambisi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team