Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi bekerja dalam ruangan.
ilustrasi bekerja dalam ruangan (pexels.com/ThisIsEngineering)

Tumbuhan dikenal sebagai makhluk hidup yang tidak dapat bergerak aktif seperti hewan dan manusia. Meski tampak pasif saat menghadapi ancaman, tumbuhan sejatinya memiliki berbagai mekanisme pertahanan yang efektif untuk melindungi diri dari musuh.

Selain duri atau struktur fisik lain yang membuat pemangsa enggan mendekat, tumbuhan juga mengembangkan pertahanan kimia berupa senyawa beracun, pengusir, hingga zat yang mampu membunuh musuhnya.

Salah satu mekanisme pertahanan kimia yang menarik dikenal sebagai mustard oil bomb atau bom minyak mustard. Mekanisme ini bekerja layaknya reaksi bom kimia yang aktif ketika jaringan tumbuhan diserang.

1. Mekanisme pertahanan mirip bom merupakan pertahanan tumbuhan secara kimia

ilustrasi serangan ulat pada tanaman (pixabay.com/Terry Murphy)

Mengutip BBC, tumbuhan mengandalkan pertahanan fisik dan kimia untuk menghadapi ancaman herbivor seperti serangga. Pertahanan fisik meliputi duri dan rambut halus di permukaan tanaman, sementara pertahanan kimia berupa produksi senyawa yang dapat meracuni atau mengusir musuh.

Bom minyak mustard merupakan salah satu bentuk pertahanan kimia tersebut. Menurut Journal Agronomy, mekanisme ini melibatkan dua senyawa utama, yakni glucosinolates dan enzim myrosinase. Ketika jaringan tanaman rusak, enzim myrosinase akan memecah glucosinolates menjadi senyawa beracun yang menyerang pemangsa, mirip ledakan kimia.

2. Pertahanan diri tumbuhan mirip bom hanya dimiliki oleh tumbuhan famili brassicaceae

ilustrasi tumbuhan famili brassicaceae (pixabay.com/ Wolfgang Eckert)

Namun, tidak semua tumbuhan memiliki mekanisme ini. Senyawa glucosinolates dan myrosinase umumnya dimiliki oleh tumbuhan famili Brassicaceae atau kubis-kubisan, seperti mustard, kol, brokoli, dan kubis, sebagaimana dilansir ScienceDaily.

Tanaman-tanaman tersebut bermanfaat bagi nutrisi manusia, tetapi senyawa kimia di dalamnya sangat efektif melindungi diri dari serangga herbivor dan patogen penyebab penyakit.

3. Mekanisme kerja layaknya bom hanya akan mulai aktif jika tumbuhan terluka

ilustrasi daun tanaman luka (pexels.com/Ravi Kant)

Mengutip mpg.de, mekanisme bom minyak mustard hanya aktif ketika jaringan tanaman dirusak oleh herbivor. Kerusakan yang disengaja oleh manusia tidak memicu reaksi serupa.

Saat tanaman kubis-kubisan dimakan, enzim myrosinase akan bereaksi dengan glucosinolates dan menghasilkan minyak mustard yang berbau tajam, berasa pedas, dan bersifat toksik bagi serangga. Reaksi ini membuat herbivor enggan melanjutkan serangan.

4. Pertahanan tersebut bisa tidak mempan oleh beberapa serangga contohnya kumbang daun (flea beetle)

ilustrasi kumbang makan daun (pixabay.com/JackieFineArt)

Meski demikian, sistem pertahanan ini tidak selalu efektif. Beberapa serangga, seperti kumbang daun (flea beetle), diketahui kebal terhadap bom minyak mustard. Melansir ScienceDaily, serangga ini mampu menonaktifkan enzim myrosinase sehingga reaksi pertahanan tidak terjadi dan tanaman tetap bisa dimakan.

Selain itu, sejumlah serangga spesialis yang memang bergantung pada tumbuhan famili Brassicaceae juga telah beradaptasi terhadap mekanisme pertahanan ini.

5. Sisi lain pertahanan mirip bom, dimanfaatkan tumbuhan untuk menyebarkan benih

ilustrasi tanaman mustard (pixabay.com/MabelAmber)

Tak hanya untuk bertahan, senyawa kimia tumbuhan juga berperan dalam penyebaran benih. Mengutip NBC News, beberapa biji tumbuhan mengeluarkan zat beracun atau berasa tidak enak setelah dimakan hewan seperti burung atau tikus, sehingga biji tersebut dimuntahkan di tempat lain dan membantu proses penyebaran.

Fenomena ini menguntungkan tumbuhan karena benih dapat tersebar ke lokasi baru yang potensial untuk tumbuh.

Dengan berbagai mekanisme tersebut, tumbuhan membuktikan bahwa meski tidak dapat bergerak, mereka memiliki sistem pertahanan yang canggih dan adaptif. Reaksi kimia layaknya bom tidak hanya melindungi tumbuhan dari musuh, tetapi juga membantu menjaga kelangsungan hidup dan penyebaran di alam.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team