5 Hal yang Sebaiknya Tidak Dikatakan Orang Tua kepada Anak

Samarinda, IDN Times - Penyesalan terbesar yang dirasakan seorang ibu atau ayah sering kali terkait dengan kata-kata yang mereka ucapkan kepada anak saat marah atau frustrasi. Dalam keadaan lelah, orang tua bisa tanpa sengaja memberikan komentar sinis atau kata-kata yang tajam tanpa mempertimbangkan dampak emosional jangka panjang bagi anak.
Berikut adalah lima hal yang sebaiknya dihindari dalam komunikasi dengan anak, dilansir dari YourTango.
1. Hindari perbandingan yang tidak perlu

Membandingkan anak dengan anak lain, baik secara positif maupun negatif, bisa merusak kepercayaan diri mereka. Sebaiknya, fokuslah pada sifat atau perilaku positif anak. Pujian yang spesifik terhadap suatu pencapaian akan membantu anak merasa dihargai tanpa merasa harus bersaing dengan orang lain.
Anak membutuhkan pengakuan untuk merasa diterima, didengar, dan dimengerti. Dalam prosesnya, mereka belajar memahami dunia dan peran mereka di dalamnya. Meskipun terkadang berhasil, mereka juga mengalami kegagalan, yang merupakan bagian dari proses belajar mereka.
2. Dukung dan jelajahi emosi mereka

Mengatakan "Jangan marah," atau "Jangan sedih," bisa membuat anak merasa emosi mereka tidak valid. Sebaliknya, cobalah katakan, "Tidak apa-apa untuk marah. Mari kita bicarakan."
Hal ini membantu anak memahami bahwa perasaan mereka adalah hal yang alami dan layak untuk didiskusikan. Dengan cara ini, mereka belajar bahwa setiap emosi memiliki tempatnya dan dapat dikelola dengan baik.
3. Tekankan kekuatan pilihan, bukan kekurangan sumber daya

Komentar seperti, "Aku sangat kecewa padamu," atau "Kamu benar-benar beban," bisa melukai harga diri anak secara mendalam. Alih-alih, gunakan kata-kata yang mendukung dan menguatkan, seperti "Kami tahu kamu sudah berusaha," atau "Kami bangga padamu." Ucapan ini akan membantu anak merasa dihargai dan didukung, terlepas dari hasil yang mereka capai.
4. Ciptakan ruang untuk sudut pandang mereka

Kalimat ini dapat menciptakan pola pikir kekurangan pada anak, yang bisa terbawa hingga dewasa. Sebagai gantinya, cobalah katakan, "Kami akan menggunakan uang untuk keperluan lain saat ini." Dengan begitu, anak akan memahami bahwa ada prioritas dalam mengatur keuangan tanpa perlu merasa kekurangan.
5. Hindari menyalahkan dan mempermalukan

Ketika terjadi masalah, mengajukan pertanyaan "Mengapa?" cenderung terasa seperti tuduhan, yang mungkin mendorong anak untuk bersikap defensif. Sebaiknya, gunakan pertanyaan seperti, "Apa yang terjadi?" Hal ini memberi kesempatan pada anak untuk menjelaskan peristiwa dari sudut pandang mereka tanpa merasa terpojok.
Contoh lain, daripada bertanya, "Mengapa kamu tidak mengerjakan PR-mu?" yang bisa memicu pembelaan diri, coba tanyakan, "Apakah ada kesulitan dalam mengerjakan PR-mu?" Dengan pendekatan ini, orang tua bisa memahami kendala yang mungkin dihadapi anak dan menawarkan bantuan yang tepat.
Mengatakan "Ini salahmu" akan membentuk pola pikir negatif pada anak. Ingatlah bahwa setiap orang, termasuk anak-anak, bisa melakukan kesalahan. Sebagai gantinya, gunakan kesempatan ini untuk menanamkan pemahaman bahwa semua orang belajar dari kesalahan, dan setiap tantangan adalah peluang untuk berkembang.
Menjadi orang tua adalah tugas yang penuh tantangan. Dengan pilihan kata yang tepat, orang tua dapat membantu anak tumbuh dengan kepercayaan diri dan pemahaman diri yang lebih baik. Semoga artikel ini dapat membantu Anda menguatkan komunikasi dengan anak-anak Anda. Semangat, Ayah dan Ibu!