ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/@werner-pfennig/)
Ketika terjadi masalah, mengajukan pertanyaan "Mengapa?" cenderung terasa seperti tuduhan, yang mungkin mendorong anak untuk bersikap defensif. Sebaiknya, gunakan pertanyaan seperti, "Apa yang terjadi?" Hal ini memberi kesempatan pada anak untuk menjelaskan peristiwa dari sudut pandang mereka tanpa merasa terpojok.
Contoh lain, daripada bertanya, "Mengapa kamu tidak mengerjakan PR-mu?" yang bisa memicu pembelaan diri, coba tanyakan, "Apakah ada kesulitan dalam mengerjakan PR-mu?" Dengan pendekatan ini, orang tua bisa memahami kendala yang mungkin dihadapi anak dan menawarkan bantuan yang tepat.
Mengatakan "Ini salahmu" akan membentuk pola pikir negatif pada anak. Ingatlah bahwa setiap orang, termasuk anak-anak, bisa melakukan kesalahan. Sebagai gantinya, gunakan kesempatan ini untuk menanamkan pemahaman bahwa semua orang belajar dari kesalahan, dan setiap tantangan adalah peluang untuk berkembang.
Menjadi orang tua adalah tugas yang penuh tantangan. Dengan pilihan kata yang tepat, orang tua dapat membantu anak tumbuh dengan kepercayaan diri dan pemahaman diri yang lebih baik. Semoga artikel ini dapat membantu Anda menguatkan komunikasi dengan anak-anak Anda. Semangat, Ayah dan Ibu!