Masa remaja kerap menjadi fase ketika emosi terasa lebih dalam, intens, dan membingungkan. Banyak remaja menjalani hari dengan perasaan sepi, bukan karena tidak memiliki teman, melainkan karena merasa tak ada yang benar-benar memahami isi pikirannya. Mereka berbicara, tetapi merasa tidak didengar. Mereka hadir, namun tak sepenuhnya diterima.
Perasaan tidak dimengerti ini bukan sekadar sikap berlebihan atau drama khas remaja. Secara psikologis, remaja berada di persimpangan antara dunia anak-anak dan dewasa. Kebutuhan emosional mereka besar, sementara kemampuan mengekspresikannya masih berkembang. Ketika lingkungan gagal menangkap apa yang sebenarnya dirasakan, jarak emosional pun mulai terbentuk.
Berikut sejumlah alasan mengapa remaja sering merasa tidak dimengerti oleh orang dewasa.
