Banyak remaja terlihat pendiam, tertutup, atau tampak biasa saja dalam kehidupan sehari-hari. Namun, gambaran itu sering kali berbeda ketika melihat unggahan story di media sosial mereka. Di ruang digital tersebut, remaja justru lebih terbuka mengekspresikan perasaan—mulai dari kelelahan, kekecewaan, hingga kesedihan yang jarang diungkapkan secara langsung.
Layar ponsel seolah menjadi ruang paling aman untuk berkata jujur tanpa harus berhadapan langsung dengan reaksi orang lain. Fenomena ini bukan berarti remaja bersikap palsu di dunia nyata. Sebaliknya, story kerap menjadi tempat mereka mengekspresikan diri secara lebih autentik, tanpa tekanan sosial yang berlebihan.
Secara psikologis, perbedaan ini berkaitan dengan kebutuhan akan rasa aman, penerimaan, serta ketakutan terhadap penilaian. Berikut sejumlah alasan mengapa remaja cenderung lebih jujur di story dibandingkan di dunia nyata.
