Taman Makam Pahlawan Nasional Utama di Kalibata, Jakarta (IDN Times/Sunariyah)
Setelah pensiun pada 1977, Abdoel Moeis mendirikan Yayasan Bina Ruhui Rahayu, yang aktif dalam memberikan pendidikan, pelatihan, dan beasiswa bagi pelajar di Kaltim. Di ibu kota, ia juga menjabat sebagai Ketua Kerukunan Keluarga Kalimantan, organisasi paguyuban warga Kalimantan di Jakarta.
Pada 19 November 2005, Abdoel Moeis mengalami masalah kesehatan saat menghadiri acara halalbihalal masyarakat Kaltim di Jakarta. Meskipun mendapat penanganan medis dari putranya, Taufik Siradjuddin, kesehatannya terus menurun hingga akhirnya ia meninggal pada 21 November 2005.
Pemerintah Kota Samarinda bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia dan Bankaltimtara, untuk mengadakan seminar nasional tentang kepahlawanan Abdoel Moeis. Upaya ini bertujuan agar diakui sebagai Pahlawan Nasional, mengingat dedikasinya yang luar biasa bagi bangsa dan negara.
Selain itu, nama Abdoel Moeis Hassan diusulkan untuk menggantikan nama jembatan di Samarinda, sebagai penghormatan atas jasa-jasanya bagi tanah air.
Abdoel Moeis Hassan adalah sosok inspiratif yang patut diapresiasi. Kisah perjuangannya adalah bukti nyata bahwa keberanian dan pengabdian bisa membuat perubahan besar bagi negeri ini.