Fenomena flexing atau memamerkan kekayaan dan pencapaian di media sosial makin marak dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari barang branded, mobil mewah, liburan ke luar negeri, hingga slip gaji, semua dipamerkan seolah menjadi tolok ukur kesuksesan. Namun, tren ini tidak selalu dipandang positif. Alih-alih dikagumi, perilaku flexing berlebihan justru sering dianggap sebagai tanda kesombongan dan kebutuhan akan validasi.
Berbagi kebahagiaan di media sosial tentu wajar. Namun, jika dilakukan berlebihan dan hanya demi pengakuan orang lain, flexing justru bisa menjadi bumerang. Sebelum ikut-ikutan tren ini, penting memahami alasan di balik perilaku tersebut dan risiko yang mengintainya.
