Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

“Silent Treatment” dalam Hubungan: Ketika Diam Bukan Lagi Emas

ilustrasi pertengkaran antara dua orang (freepik.com/artursafronovvvv)
ilustrasi pertengkaran antara dua orang (freepik.com/artursafronovvvv)

Samarinda, IDN Times - Kita semua tumbuh dalam jejak-jejak hubungan yang membentuk siapa diri kita hari ini—dimulai dari rumah, lingkungan tempat kita dibesarkan, hingga sekolah dan dunia kerja. Tapi pernah gak kamu sadar kalau cara kita menjalin hubungan hari ini, termasuk dengan pasangan, sering kali dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu?

Pertanyaan seperti “Apakah kebutuhan emosionalku dulu terpenuhi?” atau “Kenapa aku sulit mempercayai orang lain?” bisa jadi akar dari dinamika hubungan kita sekarang. Hubungan adalah proses panjang yang dipenuhi ekspektasi, harapan, dan luka yang belum tentu sembuh.

Seperti pepatah bilang:

“Kita bisa menuntun kuda ke sungai, tapi gak bisa memaksanya minum.”
Begitu pula dalam hubungan. Kita bisa memberi cinta dan pengertian, tapi gak bisa memaksa orang lain berubah sesuai harapan kita.

1. Ekspektasi yang gak selalu sejalan

ilustrasi pertengkaran antara dua orang (freepik.com/stockking)
ilustrasi pertengkaran antara dua orang (freepik.com/stockking)

Pernah gak kamu marah ke pasangan karena dia gak bersikap sesuai yang kamu harapkan? Rasa kecewa itu muncul karena kita punya ekspektasi yang gak disampaikan, tapi kita harap dia paham. Akhirnya, kita merasa gak dihargai, padahal mungkin dia hanya gak tahu.

Saat kita merasa tidak didengar atau tidak dipahami, beberapa orang memilih untuk diam. Bukan diam tenang yang menenangkan, tapi diam yang menyakitkan—silent treatment.

2. Silent treatment, diam yang menghancurkan

ilustrasi cemburu (pexels.com/Marcelo Chagas)
ilustrasi cemburu (pexels.com/Marcelo Chagas)

Penelitian menyebutkan ada dua jenis keheningan dalam hubungan:

  • Silent silence – Diam yang “berisik”. Misalnya membanting pintu, atau jelas-jelas menunjukkan bahwa kita mengabaikan pasangan.
  • Quiet silence – Diam yang hening, tapi menusuk. Gak ada komunikasi, gak ada kontak mata, hanya dingin dan hampa.

Diam seperti ini bukan tentang “menenangkan diri” atau “mengambil ruang”, tapi bentuk kontrol emosional yang menyakitkan. Silent treatment adalah bentuk kekerasan emosional yang sering gak disadari.

Orang yang melakukannya sering kali gak tahu cara mengomunikasikan emosinya, jadi mereka memilih cara yang ekstrem: membungkam, menarik diri, dan berharap pasangannya paham sendiri.

3. Hubungan ga bisa jalan satu arah

ilustrasi cemburu (Pexels.com/RDNE Stock project)
ilustrasi cemburu (Pexels.com/RDNE Stock project)

Hubungan sehat itu soal dua orang yang sama-sama terbuka secara emosi, komunikasi, dan sadar akan adanya konflik. Mengabaikan pasangan bukan cara menyelesaikan masalah—itu malah menimbulkan luka baru.

Jika kamu memilih untuk diam dan mengabaikan, itu bukanlah bentuk pendewasaan. Itu adalah penghindaran. Kita semua manusia, bukan mesin. Kita punya perasaan yang butuh dipahami dan diproses bersama.

Setiap orang membawa latar belakang berbeda ke dalam hubungan. Itu sebabnya, konflik gak bisa dihindari. Tapi perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipelajari dan diterima.
Tanpa penerimaan diri dan kemampuan menyelesaikan luka pribadi, kita akan terus membawa racun ke dalam hubungan yang kita jalani.

4. Mengelola emosi bukan menyimpan

Ilustrasi pasangan marah (freepik.com/tirachardz)
Ilustrasi pasangan marah (freepik.com/tirachardz)

Amarah itu manusiawi. Tapi meledak-ledak atau memilih diam bukan solusi jangka panjang. Kita bisa belajar mengekspresikan perasaan tanpa menyakiti atau mendiamkan.

Kita gak hidup untuk memenuhi ekspektasi semua orang. Tapi dalam hubungan, kompromi dan empati jadi fondasi utama.

Setiap orang berhak menjalani hubungan yang sehat, di mana keberadaan kita dihargai, bukan diabaikan. Jika kamu merasa tidak dihargai hanya karena seseorang memilih diam, ingat: kamu layak dicintai tanpa harus ditebak-tebak.

Kalau kamu merasa silent treatment adalah bagian dari hubunganmu, mungkin ini saatnya bicara—dengan diri sendiri, dengan pasangan, atau dengan profesional. Hubungan gak selalu indah, tapi harus selalu sehat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sri Gunawan Wibisono
EditorSri Gunawan Wibisono
Follow Us