Banyak orang mempertanyakan mengapa begitu sulit meninggalkan hubungan yang jelas-jelas menyakitkan. Secara logika, keputusan untuk pergi tampak sederhana: jika terluka, seharusnya menjauh. Namun pada praktiknya, emosi sering kali jauh lebih kuat daripada logika. Hubungan yang menyakitkan tidak hanya menghadirkan luka, tetapi juga keterikatan emosional yang dalam dan kompleks.
Dari sudut pandang psikologis, bertahan dalam hubungan tidak sehat bukan berarti lemah atau bodoh. Ada berbagai mekanisme emosional dan mental yang bekerja di balik keputusan tersebut, mulai dari harapan, rasa takut, hingga luka masa lalu yang belum sepenuhnya pulih. Memahami alasan-alasan ini dapat membantu seseorang melihat situasinya dengan lebih jernih dan bersikap lebih berempati terhadap diri sendiri.
Berikut lima alasan mengapa seseorang kerap sulit melepaskan diri dari hubungan yang menyakitkan.
