Comscore Tracker

Respons Kemenkes Soal Dokter Meninggal setelah Divaksinasi COVID-19

Diduga meninggal karena kekurangan oksigen

Jakarta, IDN Times - Vaksinasi COVID-19 terus dijalankan di Indonesia, prioritas utama adalah bagi tenaga medis. Kasus meninggalnya seorang dokter di Palembang satu hari setelah mendapatkan vaksin COVID-19 Sinovac menghebohkan masyarakat. Dokter yang sehari-hari bertugas di puskesmas tersebut ditemukan meninggal dalam mobil.

Juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menegaskan dokter tersebut dinyatakan sehat saat menerima vaksin COVID-19. Dia tidak mempunyai penyakit komorbid, alergi, riwayat penyakit jantung. Tekanan darahnya juga dinyatakan baik.

"Dia juga sudah menunggu 30 menit usai vaksinasi, tidak ada reaksi atau keluhan juga," ujarnya saat dihubungi IDN Times, Senin (25/1/2021).

1. Dokter diduga meninggal karena kekurangan oksigen

Respons Kemenkes Soal Dokter Meninggal setelah Divaksinasi COVID-19Ilustrasi jenazah. IDN Times/Mardya Shakti

Nadia mengatakan berdasarkan pemeriksaan awal, dokter tersebut meninggal karena kekurangan oksigen. Meski demikian, masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.

"Tanda Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) akibat vaksin paling berat adalah syok atau pingsan, itu juga jarang terjadi. Namun, untuk membuktikan kasus ini masih didalami yang pasti bukan karena vaksin," tegasnya.

2. Reaksi syok pascaimunisasi jarang terjadi

Respons Kemenkes Soal Dokter Meninggal setelah Divaksinasi COVID-19Petugas medis menyuntikan vaksin COVID-19 ke seorang dokter di RS Siloam TB Simatupang, Jakarta, Kamis (14/1/2021). Program vaksinasi COVID-19 tahap pertama kepada tenaga kesehatan mulai dilakukan di berbagai daerah di Indonesia (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Sementara itu, Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) Hindra Irawan juga mengungkapkan reaksi syok anafilaktik atau syok yang disebabkan oleh reaksi alergi yang berat akibat vaksinasi, sangat jarang terjadi. Selain disebabkan oleh pemberian vaksin, syok anafilaktik juga bisa terjadi akibat faktor lain. 

"Kalau kita lakukan vaksinasi 1 juta saja, 1 sampai 2 orang akan pingsan. Kalau yang disuntik 10 juta maka yang pingsan 10 sampai 20 orang, orang akan ribut, medsos (media sosial) akan bertubi-tubi, media sibuk. Padahal memang seperti itu. Jadi kita harus siap siap” ungkap Hindra dilansir situs resmi Kemkes.go.id, Senin (25/1/2021).

Baca Juga: Terima 38.120 Dosis, Delapan Daerah di Kaltim Siap Vaksinasi COVID-19

3. Permenkes mengatur upaya preventif bila terjadi kejadian ikutan pascaimunisasi

Respons Kemenkes Soal Dokter Meninggal setelah Divaksinasi COVID-19Petugas medis menyuntikan vaksin COVID-19 ke seorang dokter di RS Siloam TB Simatupang, Jakarta, Kamis (14/1/2021). Program vaksinasi COVID-19 tahap pertama kepada tenaga kesehatan mulai dilakukan di berbagai daerah di Indonesia (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Jika terjadi reaksi anafilaktik pascavaksinasi COVID-19, pemerintah telah mengaturnya dalam Peraturan menteri kesehatan (Permenkes) nomor 12 tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Imunisasi. Dalam Permenkes tersebut tercantum anafilaktik sebagai upaya preventif apabila terjadi kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI).

Dalam pasal 1 nomor 8 Permenkes itu, disebutkan bahwa peralatan anafilaktik adalah alat kesehatan dan obat untuk penanganan syok anafilaktik.

“Sudah ada di Peraturan Menteri Kesehatan, sudah ada kit anafilaktik yang harus disediakan, sudah ada petunjuk mengenal gejalanya, sudah ada tanda petunjuk untuk cara pelaksanaan vaksinasi,” ucap Hidra.

Reaksi anafilaktik tergolong dalam KIPI serius. Dalam KIPI serius, setiap kejadian harus segera dilaporkan secara berjenjang yang selanjutnya diinvestigasi oleh petugas kesehatan yang menyelenggarakan imunisasi.

4. Dokter JF meninggal bukan karena vaksinasi

Respons Kemenkes Soal Dokter Meninggal setelah Divaksinasi COVID-19Petugas memeriksa kondisi fisik tenaga medis sebelum menyuntikan vaksin CoronaVac, di RS Islam Sari Asih Serang, Banten, Sabtu (16/1/2021)

Diberitakan sebelumnya, seorang dokter berinisial JF (49) meninggal di dalam mobil. Diduga, dokter itu mengalami serangan jantung satu hari setelah mendapatkan vaksin Sinovac.

"Diperkirakan korban meninggal Jumat pagi, karena dari hasil pemeriksaan kita otot tubuhnya belum kaku. Artinya belum 24 jam meninggal," ungkap Dokter Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Palembang, Indra Nasution, Sabtu (23/1/2021).

Indra membantah, jika korban JF meninggal dunia akibat menjalani vaksinasi. Karena dari pemeriksaan terhadap tubuh korban, ditemukan bintik merah pendarahan yang disebabkan kekurangan oksigen di daerah mata, wajah, tangan, dan dada. Temuan itu menjadi salah satu dasar untuk menyimpulkan dugaan penyebab kematiannya.

"Dugaan kami karena sakit jantung. Jadi ini membantah soal kematian diakibatkan vaksin. Sebab, vaksin kan disuntik, jika disuntik reaksinya lebih cepat dan juga matinya lebih cepat juga," kata Indra.

Baca Juga: Vaksinasi Sinovac untuk 6.100 Tenaga Kesehatan Balikpapan mulai Jumat 

Topic:

  • Mela Hapsari

Berita Terkini Lainnya