Dalam kasus child grooming, ancaman tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan atau paksaan langsung. Pelaku justru kerap memanfaatkan kalimat-kalimat yang terdengar lembut, penuh perhatian, bahkan menenangkan. Bahasa digunakan sebagai alat utama untuk membangun kedekatan, menumbuhkan kepercayaan, sekaligus mengendalikan emosi anak atau remaja.
Kalimat-kalimat manipulatif ini sering luput disadari sebagai bentuk kekerasan psikologis. Karena dibungkus dengan empati, humor, atau kepedulian semu, korban kerap menganggapnya sebagai hal yang wajar. Padahal, di balik kata-kata tersebut terdapat pola manipulasi yang secara perlahan mengikis batas aman korban.
Berikut lima bentuk kalimat manipulatif yang kerap digunakan pelaku child grooming.
