Samarinda, IDN Times - Musibah banjir yang menerjang Sangatta Kutai Timur (Kutim) di Kalimantan Timur (Kaltim) sejak beberapa waktu lalu tentunya berdampak besar bagi masyarakat.
Segala aktivitas di sana, baik ekonomi dan sosial lumpuh akibat kepungan air yang berasal dari luapan Sungai Sanggatta sepanjang 92 kilometer.
Terlebih diungkap oleh BPBD Kutim, banjir kali ini merupakan yang terparah sejak 20 tahun terakhir. Itu sebabnya peristiwa ini pun menjadi sorotan banyak pihak.
Termasuk dari lembaga eksekutif pendidikan tinggi, yakni Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) KM Universitas Mulawarman. Para mahasiswa yang bergabung dalam organisasi tersebut menilai banjir di Sangatta menjadi bukti nyata adanya ancaman krisis iklim.
"Krisis iklim terjadi salah satunya dikarenakan perusakan hutan yang menyebabkan pemanasan global," kata Menteri Sosial Politik BEM KM Unmul Naqib Junechair.