Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Orangutan di Ketapang tersesat di kebun sawit warga.
Orangutan di Ketapang tersesat di kebun sawit warga. (IDN Times/YIARI).

Ketapang, IDN Times - Satu individu bayi orangutan betina ditemukan tersesat di kebun sawit milik warga di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar).

Menindaklanjuti laporan warga, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar Seksi Konservasi Wilayah Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) segera melakukan penyelamatan terhadap bayi orangutan tersebut. Satwa dilaporkan berada di lokasi tanpa didampingi induknya.

Warga setempat mengaku telah melihat bayi orangutan itu selama beberapa hari berada sendirian di area perkebunan sawit. Tidak terlihat keberadaan induk di sekitar lokasi, sehingga dikhawatirkan kondisi satwa semakin rentan.

1. Bayi orangutan kehilangan induk

Warga melakukan evakuasi terhadap bayi orangutan yang tersesat. (IDN Times/YIARI).

Tim gabungan kemudian melakukan verifikasi lapangan dan memastikan bayi orangutan tersebut benar-benar sendirian di tengah kebun sawit yang minim sumber pakan. Kondisi satwa terpantau pasif, tidak banyak bergerak, dan tampak kebingungan seolah menunggu induknya.

Upaya pencarian induk sempat dilakukan di sekitar lokasi, namun tidak membuahkan hasil. Untuk menghindari potensi konflik dengan warga serta menjamin keselamatan satwa, tim memutuskan berjaga dan bermalam di lokasi sembari menunggu kedatangan tim penyelamat.

Setelah dilakukan observasi menyeluruh, proses penyelamatan akhirnya diputuskan tanpa menggunakan senjata atau sumpit bius. Dokter Hewan YIARI, drh. Komara, menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil karena usia orangutan yang masih sangat muda sehingga penggunaan anestesi dinilai berisiko.

“Secara fisik, Jani masih sangat muda. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan obat bius justru dapat meningkatkan risiko. Penanganan manual menjadi pilihan paling aman dengan tetap memperhatikan tingkat stres dan kondisi fisiologis satwa,” ujar drh. Komara, Sabtu (24/1/2026).

2. Proses evakuasi tanpa senjata bius

Bayi orangutan betina ditemukan tersesat di kebun sawit warga. (IDN Times/YIARI).

Proses evakuasi berlangsung lancar. Bayi orangutan yang kemudian diberi nama Jani itu dimasukkan ke dalam kandang transport dan dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan Jani diperkirakan berusia sekitar lima tahun. Pada usia tersebut, anak orangutan seharusnya masih hidup dan bergantung penuh pada induknya.

“Di alam liar, anak orangutan sangat bergantung pada induknya hingga usia 6–8 tahun, baik untuk perlindungan, asupan nutrisi, maupun pembelajaran perilaku bertahan hidup. Terpisah dari induknya pada usia ini sangat berisiko dan dapat mengancam keselamatannya,” jelasnya.

Saat ini, Jani ditempatkan di ruang karantina YIARI dan akan menjalani serangkaian pemeriksaan medis lanjutan dalam beberapa hari ke depan sembari menunggu kondisi stresnya stabil.

3. Jani dikarantina di YIARI

BKSDA Kalbar dan YIARI evakuasi bayi orangutan. (IDN Times/YIARI).

Sementara itu, Ketua YIARI Silverius Oscar Unggul menilai kasus ini mencerminkan tingginya tekanan terhadap satwa liar dan habitatnya.

“Kasus ini menunjukkan tekanan yang terus meningkat terhadap habitat satwa liar akibat lanskap yang semakin terfragmentasi,” ungkap Silverius.

YIARI bersama BKSDA Kalbar juga akan melakukan pemantauan lanjutan di sekitar perkebunan sawit untuk mencari keberadaan induk Jani.

“Jika induknya berhasil ditemukan, akan diupayakan proses pengembalian bayi orangutan ini kepada induknya sekaligus memindahkannya ke habitat yang lebih aman,” tambahnya.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, turut mengapresiasi sinergi semua pihak dalam penyelamatan bayi orangutan betina tersebut.

“Di usia lima tahun, Jani seharusnya masih bersama induknya. Namun setelah beberapa hari pemantauan hingga proses penyelamatan, Jani terlihat sendirian. Kondisi ini merupakan dampak dari tingginya tekanan terhadap habitat orangutan,” pungkasnya.

Editorial Team