Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Budaya Curhat Online, Antara Kebutuhan Didengar dan Risiko Terluka Lagi
Seorang wanita sedang curhat di medsos. (pexels.com/mikoto.raw Photographer)

Internet kini menjadi ruang yang terasa aman bagi banyak orang untuk mengekspresikan diri. Media sosial, forum, hingga kolom komentar memberi kebebasan untuk berbagi cerita, emosi, dan pengalaman hidup. Namun di balik kemudahan itu, ruang digital juga kerap menjadi tempat terbukanya luka pribadi—mulai dari trauma, kekecewaan, hingga kesedihan—tanpa perlindungan yang memadai.

Tak sedikit orang sebenarnya tidak berniat “mengumbar” luka. Prosesnya sering berlangsung secara halus: berawal dari curhat singkat, unggahan emosional, atau komentar reflektif. Secara psikologis, membuka luka di internet bukan sekadar oversharing, melainkan respons manusiawi atas kebutuhan untuk didengar dan dipahami.

Berikut beberapa alasan mengapa hal tersebut kerap terjadi:

1. Kebutuhan untuk didengar dan diakui

Ilustrasi Konflik Psikologis yang Sering Terjadi di Awal Tahun, Wajib Disadari! (pexels.com/Liza Summer)

Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa dilihat dan dihargai. Ketika kebutuhan itu tidak terpenuhi di dunia nyata—baik oleh keluarga, pasangan, maupun lingkungan sosial—internet menjadi pelarian yang mudah diakses.

Respons cepat berupa likes, komentar, atau pesan dukungan dapat memberi sensasi “akhirnya ada yang peduli”. Validasi instan ini tanpa disadari mendorong seseorang untuk berbagi cerita yang semakin personal, termasuk luka yang belum selesai secara emosional.

2. Ilusi keamanan dan anonimitas digital

Seorang wanita sedang curhat di medsos. (pexels.com/mikoto.raw Photographer)

Layar gawai menciptakan jarak psikologis antara diri dan audiens. Banyak orang merasa lebih aman menuliskan hal-hal yang sulit diucapkan secara langsung.

Anonimitas atau semi-anonimitas menurunkan hambatan emosional. Namun rasa aman ini sering menipu, karena jejak digital bersifat permanen dan berpotensi disalahgunakan di kemudian hari.

3. Emosi yang memuncak dan tidak tersalurkan

Ilustrasi Karir Pekerjaan yang Cocok untuk Tipe Kepribadian Sanguinis. (pexels.com/Canva Studio)

Unggahan emosional sering muncul saat seseorang berada di puncak perasaan—marah, sedih, kecewa, atau hancur. Dalam kondisi tersebut, emosi lebih dominan daripada pertimbangan rasional.

Menulis di internet bisa menjadi bentuk katarsis instan. Namun tanpa jeda refleksi, luka pribadi yang seharusnya diproses secara aman justru terbuka di ruang publik dan berisiko menimbulkan penyesalan.

4. Normalisasi budaya curhat di media sosial

Ilustrasi Hal yang Dialami Seorang Ambivert saat Menjelang Tahun Baru. (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Media sosial membentuk budaya berbagi cerita personal secara terbuka. Konten yang menyentuh sisi emosional sering mendapat perhatian lebih besar dibanding unggahan netral.

Ketika melihat orang lain membagikan kisah luka dan menerima empati, seseorang terdorong melakukan hal serupa. Tanpa disadari, batas antara berbagi secara sehat dan membuka luka pribadi menjadi semakin kabur.

5. Minimnya ruang aman di kehidupan nyata

Ilustrasi Gaya Bicara ini Membuat Kamu Mudah Dijauhi Orang Lain. (pexels.com/Artem Podrez)

Tidak semua orang memiliki tempat yang aman untuk bercerita secara langsung. Ada yang tumbuh di lingkungan yang menganggap emosi sebagai kelemahan atau pengalaman pahitnya sering diremehkan.

Internet kemudian menjadi pengganti ruang aman tersebut. Namun karena audiensnya tidak terkontrol, respons yang muncul bisa beragam—dari empati hingga penghakiman—yang justru berpotensi memperdalam luka.

Membuka luka pribadi di internet sering kali bukan keputusan yang sepenuhnya disadari, melainkan reaksi atas kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Memahami alasan di baliknya dapat membantu kita bersikap lebih bijak dan berbelas kasih, baik kepada diri sendiri maupun orang lain.

Berbagi cerita adalah hal yang manusiawi. Namun menjaga batas dan memilih ruang yang tepat untuk memulihkan diri tetap menjadi langkah penting agar luka tidak kembali terluka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team