Internet kini menjadi ruang yang terasa aman bagi banyak orang untuk mengekspresikan diri. Media sosial, forum, hingga kolom komentar memberi kebebasan untuk berbagi cerita, emosi, dan pengalaman hidup. Namun di balik kemudahan itu, ruang digital juga kerap menjadi tempat terbukanya luka pribadi—mulai dari trauma, kekecewaan, hingga kesedihan—tanpa perlindungan yang memadai.
Tak sedikit orang sebenarnya tidak berniat “mengumbar” luka. Prosesnya sering berlangsung secara halus: berawal dari curhat singkat, unggahan emosional, atau komentar reflektif. Secara psikologis, membuka luka di internet bukan sekadar oversharing, melainkan respons manusiawi atas kebutuhan untuk didengar dan dipahami.
Berikut beberapa alasan mengapa hal tersebut kerap terjadi:
