Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bukan Bakat, Ini 7 Penyebab Anak Tidak Percaya Diri yang Berasal dari Rumah
Kedua orang tua sedang menemani anaknya bermain. (pexels.com/Anastasiya Gepp)

Rasa percaya diri pada anak tidak terbentuk secara instan. Sikap ini tumbuh dari pengalaman sehari-hari, terutama dari interaksi dengan orang tua. Cara orang tua berbicara, merespons, hingga memperlakukan emosi anak akan membentuk cara anak memandang dirinya sendiri.

Ketika lingkungan terdekat tidak memberikan rasa aman dan penghargaan yang cukup, anak berisiko tumbuh dengan keraguan terhadap kemampuan dan nilai dirinya.

Dalam psikologi perkembangan, rendahnya kepercayaan diri anak kerap bukan disebabkan oleh kekurangan pribadi, melainkan pola asuh yang minim dukungan emosional. Anak belajar menilai dirinya melalui cara orang tua memperlakukannya.

Berikut tujuh tanda pola asuh yang dapat membuat anak sulit percaya diri:

1. Anak sering meragukan kemampuan dirinya sendiri

Seorang anak sedang kesal ke ibunya yang selalu sibuk. (pexels.com/RDNE Stock project)

Anak kerap mengatakan “aku tidak bisa” bahkan sebelum mencoba. Ia cenderung takut gagal dan meragukan kemampuannya sendiri.

Psikolog Albert Bandura menjelaskan bahwa keyakinan diri (self-efficacy) terbentuk dari pengalaman didukung dan dipercaya. Kurangnya kepercayaan dari orang tua dapat melemahkan keyakinan tersebut.

2. Anak terlalu takut melakukan kesalahan

Kedua orang tua sedang menemani anaknya bermain. (pexels.com/Anastasiya Gepp)

Anak menganggap kesalahan sebagai sesuatu yang memalukan, bukan bagian dari proses belajar.

Menurut Carol Dweck, pola pikir tetap (fixed mindset) sering terbentuk dari lingkungan yang tidak memberi ruang aman untuk gagal.

3. Anak terlalu bergantung pada persetujuan orang tua

Seorang ibu sedang mengajari anak-anaknya memasak. (pexels.com/Elina Fairytale)

Anak merasa nilai dirinya bergantung pada penilaian orang tua. Ia sulit mengambil keputusan sendiri dan takut berbeda pendapat.

Psikolog Carl Rogers menyebut kondisi ini sebagai dampak dari kurangnya penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard).

4. Anak enggan menyampaikan pendapat atau keinginannya

Seorang ibu sedang mencium pipi anak perempuannya. (pexels.com/olia danilevich)

Anak terlihat pendiam atau terlalu menurut, namun sebenarnya takut disalahkan atau ditolak.

Menurut Alice Miller, tekanan emosional dalam pola asuh dapat membuat anak menekan kebutuhan dirinya demi diterima.

5. Anak mudah membandingkan diri dengan orang lain

Seorang anak sedang melamun. (pexels.com/Mikhail Nilov)

Anak yang sering dibandingkan akan merasa dirinya selalu kurang dan tidak pernah cukup.

Psikolog Karen Horney menjelaskan bahwa kebiasaan ini dapat memicu rasa tidak aman dan kecemasan.

6. Anak terlalu kritis dan keras pada diri sendiri

Seorang ibu sedang menghibur putrinya. (pexels.com/Alina Matveycheva)

Anak mudah menyalahkan diri atas kesalahan kecil dan sulit menerima kekurangan.

Menurut Kristin Neff, kurangnya empati dalam pola asuh dapat membuat anak tumbuh tanpa kemampuan menyayangi dirinya sendiri.

7. Anak menghindari tantangan dan situasi baru

Seorang ibu sedang membimbing anaknya bermain komputer. (pexels.com/Julia M Cameron)

Anak cenderung memilih zona aman karena takut gagal atau dipermalukan, meski sebenarnya memiliki potensi besar.

Psikolog Erik Erikson menekankan pentingnya dukungan agar anak merasa kompeten. Tanpa itu, anak akan tumbuh dengan keraguan pada dirinya.

Pada akhirnya, anak yang kurang percaya diri bukanlah anak yang lemah, melainkan anak yang tidak mendapatkan cukup rasa aman dan dukungan emosional.

Pola asuh yang lebih empatik, menghargai proses, dan memberi ruang aman untuk belajar dari kesalahan dapat membantu anak membangun kepercayaan diri yang sehat. Ketika anak merasa diterima apa adanya, ia akan belajar bahwa dirinya berharga dan mampu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team