Dari Arsitek hingga Wali Kota, Edi Kamtono dan Mimpi Besar untuk Pontianak

- Edi Rusdi Kamtono, berlatar arsitektur dan teknik sipil, meniti karier dari aparatur Dinas PU hingga menjadi Wali Kota Pontianak untuk periode 2025-2030.
- Visi Pontianak menekankan kota maju, sejahtera, berwawasan lingkungan, dan humanis melalui SDM, tata kelola teknologi, pembangunan berkelanjutan, ekonomi inklusif, serta ruang publik nyaman.
- Penataan taman, trotoar, pedestrian, dan waterfront Sungai Kapuas diarahkan sebagai ruang aktivitas warga, budaya, UMKM, pariwisata, sekaligus menjaga lingkungan dan identitas kota.
Take a Deeper Reads

Pontianak, IDN Times - Bagi Edi Rusdi Kamtono, kota bukan sekadar kumpulan jalan, gedung, dan infrastruktur. Kota merupakan ruang hidup yang harus nyaman bagi masyarakat untuk beraktivitas, berkumpul, bekerja, hingga menikmati lingkungan.
Pandangan tersebut turut mewarnai arah pembangunan Pontianak yang kini dipimpinnya.
Lahir di Pontianak pada 17 Oktober 1963, Edi menempuh pendidikan Teknik Arsitektur di Universitas Sebelas Maret Surakarta dan lulus pada 1990. Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister Manajemen di Universitas Tanjungpura pada 2002 dan magister Teknik Sipil pada 2008.
Latar belakang arsitektur dan teknik sipil membentuk cara Edi memandang pembangunan kota. Menurutnya, pembangunan tidak hanya berbicara soal bentuk fisik, tetapi juga bagaimana sebuah ruang dapat berfungsi dan dimanfaatkan masyarakat.
1. Saat Edi mengawali karier

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. (IDN Times/prokopim). Hal itu terlihat dari perhatian terhadap penataan taman, trotoar, pedestrian hingga pengembangan kawasan waterfront di tepian Sungai Kapuas.
Sebelum terjun ke dunia politik, Edi menghabiskan sebagian besar kariernya sebagai aparatur teknis. Ia mulai menjadi pegawai negeri pada 1992 di Dinas Pekerjaan Umum Kota Pontianak.
Kariernya kemudian berkembang melalui berbagai posisi yang berkaitan dengan jalan, jembatan, dan prasarana kota hingga dipercaya menjadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Pontianak.
Pengalaman tersebut membuat persoalan tata kota bukan hal baru bagi Edi. Ia sebelumnya terlibat langsung dalam pekerjaan teknis sebelum akhirnya menjadi pengambil kebijakan.
Pada 2013, Edi menjadi Wakil Wali Kota Pontianak. Ia kemudian terpilih sebagai Wali Kota Pontianak periode 2018-2023 dan kembali dipercaya memimpin Pontianak bersama Bahasan untuk periode 2025-2030.
Kini, visi pembangunan yang dibawanya adalah "Kota Pontianak Maju, Sejahtera, Berwawasan Lingkungan yang Humanis".
Visi tersebut diterjemahkan melalui pembangunan sumber daya manusia, tata kelola pemerintahan berbasis teknologi, pembangunan perkotaan berkelanjutan, ekonomi inklusif, serta kehidupan masyarakat yang harmonis.
2. Konsep humanis dalam membangun Pontianak

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono usai pimpin apel siaga karhutla. (IDN Times/Teri). Konsep humanis menjadi salah satu bagian penting dalam gagasan tersebut. Edi menilai pembangunan seharusnya tidak membuat kota semakin jauh dari manusia.
Sebaliknya, pembangunan harus menghadirkan ruang yang nyaman, aman, dan dapat digunakan sebanyak mungkin warga.
“Pembangunan itu pada akhirnya harus dirasakan masyarakat. Kita ingin Pontianak menjadi kota yang nyaman untuk berjalan kaki, untuk keluarga, untuk anak-anak, dan menjadi tempat yang membuat masyarakat merasa memiliki kotanya,” ujar Edi.
Karena itu, trotoar tidak hanya dipandang sebagai pelengkap jalan, tetapi juga sebagai ruang bagi pejalan kaki. Begitu pula taman yang tidak sekadar dibuat hijau, melainkan harus bisa menjadi tempat masyarakat berinteraksi.
Ruang terbuka juga diharapkan dapat dimanfaatkan untuk berolahraga, bermain, berbincang, maupun sekadar menikmati suasana kota.
Menurut Edi, kualitas sebuah kota dapat dilihat dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Mulai dari kenyamanan berjalan kaki, akses terhadap ruang publik, keberadaan pohon peneduh hingga kesempatan warga untuk berinteraksi.
“Ruang publik harus hidup. Tidak cukup hanya bagus dilihat, tetapi harus digunakan masyarakat. Di situlah interaksi sosial tumbuh dan kota terasa lebih humanis,” katanya.
3. Waterfront jadi bagian wajah Pontianak

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. (IDN Times/prokopim). Semangat tersebut juga menjadi dasar pengembangan kawasan waterfront di tepian Sungai Kapuas.
Bagi Edi, Sungai Kapuas bukan sekadar bagian belakang kota, melainkan bagian dari sejarah dan identitas Pontianak.
Karena itu, tepian sungai secara bertahap ditata menjadi ruang publik yang dapat mengakomodasi berbagai aktivitas, mulai dari kegiatan masyarakat, budaya, UMKM, pariwisata hingga kepentingan lingkungan.
“Pontianak lahir dan berkembang dari sungai. Karena itu tepian Sungai Kapuas harus kita tata supaya masyarakat bisa menikmati sungainya, tetapi tetap memperhatikan fungsi lingkungan dan karakter kawasan,” jelasnya.
Edi memaknai kemajuan kota bukan hanya dari banyaknya bangunan baru. Menurut dia, kemajuan harus berjalan beriringan dengan kualitas hidup, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.
4. Pembangunan ruang publik di wilayah Pontianak

Edi Kamtono piawai memainkan drum. (IDN Times/istimewa). Pembangunan ruang publik juga diharapkan memberikan dampak terhadap perekonomian warga. Taman, waterfront, pedestrian, dan ruang aktivitas masyarakat dapat menjadi tempat berkembangnya UMKM, kuliner, ekonomi kreatif, hingga kegiatan pariwisata.
Di luar aktivitasnya sebagai kepala daerah, Edi juga memiliki sisi lain yang dekat dengan dunia seni. Ia gemar bermusik dan memiliki kemampuan bermain drum yang telah ditekuni sejak masa kuliah.
Setelah puluhan tahun terlibat dalam pembangunan Pontianak, pengalaman sebagai teknokrat, arsitek, dan kepala daerah bertemu dalam satu gagasan, yakni membangun kota tanpa kehilangan dimensi manusianya.
Bagi Edi, Pontianak di masa depan tidak hanya harus maju secara fisik. Kota juga harus memiliki ruang untuk bernapas, berjalan, bertemu, dan tumbuh bersama.
“Yang kita bangun bukan hanya fisiknya, tetapi suasana kotanya. Kita ingin Pontianak semakin maju, masyarakatnya semakin sejahtera, lingkungannya tetap terjaga, dan kotanya nyaman untuk semua,” tukasnya.





















