Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang siswa Sekolah Rakyat Prof Soeharso Solo diperiksa kesehatannya melalui metode wawancara oleh nakes.
Seorang siswa Sekolah Rakyat Prof Soeharso Solo diperiksa kesehatannya melalui metode wawancara oleh nakes. (IDN Times/&/Fariz Fardianto)

Samarinda, IDN Times - Dinas Sosial (Dinsos) Kalimantan Timur terus mematangkan persiapan operasional Sekolah Rakyat yang kini diperluas dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Persiapan terus kami kebut, terutama di lokasi baru seperti SMA Negeri 16 Samarinda. Saat ini sudah tahap finalisasi dan ditarget rampung awal September 2025,” ujar Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Dinsos Kaltim, Achmad Rasyidi diberitakan Antara, Kamis (28/8/2025).

1. Fasilitas pendukung sudah disiapkan

Seorang siswa Sekolah Rakyat Prof Soeharso Solo diperiksa rongga mulutnya oleh tenaga kesehatan saat skrining kesehatan awal tahun ajaran baru 2025. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Di SMA Negeri 16 Samarinda, fasilitas pendukung tengah diselesaikan, mulai dari perakitan meja, lemari, tempat tidur untuk siswa dan wali asrama, hingga pemasangan kipas angin dan kamera pengawas (CCTV). Setiap kamar asrama dirancang untuk dua siswa.

Sekolah Rakyat rintisan ini melanjutkan program Sekolah Rakyat Terintegrasi 24 Samarinda yang sudah berjalan sejak 15 Agustus 2025 untuk jenjang SMP dan SMA di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kaltim.

2. Sekolah rakyat di Samarinda

Orang tua dan murid saat menunggu acara pembukaan Sekolah Rakyat di Karadenan, Cibinong, Kabupaten Bogor, Senin (14/7/2025) (IDN Times/Linna Susanti)

Saat ini, ada tiga lokasi Sekolah Rakyat di Samarinda, yakni di BPMP, Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP), serta SMA Negeri 16 Samarinda. Total kuota yang tersedia mencapai 275 siswa, terdiri dari 100 siswa di BPMP, 100 siswa di BPVP, dan 75 siswa di SMA Negeri 16.

3. Minat tinggi masyarakat di Kaltim

Siswa Sekolah Rakyat Muhammad Glensky (13) di asrama Sentra Handayani Jakarta Timur (IDN Times Dini Suciatiningrum)

Rasyidi menyebut minat masyarakat di jenjang SMP dan SMA sangat tinggi hingga kuota telah penuh, bahkan melebihi kapasitas. Namun, tantangan muncul di jenjang SD karena baru terisi satu rombel berisi 25 siswa.

“Kami optimistis sisa kuota SD segera terpenuhi. Upayanya dengan menjangkau anak-anak di panti asuhan dan berkoordinasi dengan Disdikbud untuk mendata anak putus sekolah,” jelasnya.

Editorial Team