Petugas pemadam karhutla berlindung dari kepulan asap tebal. (IDN Times/istimewa).
Beberapa menit kemudian, anggota MPA Rasau Jaya Umum atas nama Dedi Firmansyah mengalami sesak napas. Bahkan nyaris pingsan. Beruntung, anggota Manggala Agni Daops Pontianak yang berada di lokasi sigap memberikan pertolongan pertama.
“Saya langsung gotong korban untuk segera dievakuasi dari titik api dan diberikan suplai oksigen yang memang selalu disiagakan oleh tim Manggala Agni dalam setiap operasi pemadaman karhutla,” terangnya.
Setelah mendapat penanganan awal, kondisi anggota MPA tersebut berangsur membaik dan dapat kembali bernapas dengan normal. Ia selanjutnya disarankan untuk beristirahat dan tidak melanjutkan aktivitas pemadaman demi memulihkan kondisi kesehatannya.
“Tapi yang bersangkutan tetap ingin memadamkan karhutla, seperti hari ini di Gang Karya Kita. Sementara Pak Ali Kadri juga sesak napas namun karena pekatnya asap, jadi tidak terpantau. Sehingga ketahuannya sore saat dia mau pulang. Hari ini beliau tidak turun, masih dirawat di rumah,” jelasnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan besarnya risiko yang dihadapi para relawan dan petugas di lapangan saat menangani karhutla. Sinergi antar unsur, mulai dari MPA, Manggala Agni, TNI Polri, KPH dan relawan pemadam kebakaran swasta menjadi kunci penting tidak hanya dalam memadamkan api, tetapi juga dalam memastikan keselamatan seluruh personel yang terlibat.
“Kami berharap, risiko yang mengancam tim lapangan bisa menjadi perhatian penuh oleh pemerintah. Paling tidak yang pertama dan terdekat memberikan perhatian, ya perangkat desa setempat. Ini yang belum kami rasakan saat ini,” tukasnya.