Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sejumlah pekerja menyiapkan paket makanan untuk program makan bergizi gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)
Ilustrasi pekerja menyiapkan paket makanan untuk program makan bergizi gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). (ANTARA FOTO/Muhammad Mada)

Pontianak, IDN Times - Empat siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 24 Siantan, Kecamatan Pontianak Utara, diduga mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (30/1/2026).

Informasi yang beredar menyebutkan, keempat siswa tersebut sempat dilarikan ke RSUD Pontianak Utara untuk mendapatkan perawatan medis.

Pasca-kejadian, dugaan gangguan kesehatan yang dialami para siswa ini dikabarkan tengah ditangani oleh Dinas Kesehatan Kota Pontianak. Aparat kepolisian juga disebut turut melakukan penyelidikan guna memastikan penyebab insiden tersebut.

Meski demikian, pihak rumah sakit menyatakan belum ditemukan indikasi kuat adanya keracunan makanan.

1. Tak menunjukkan gejala keracunan

Ilustrasi relawan SPPG pada program Makan Bergizi Gratis ( ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

Kepala RSUD Pontianak Utara, drg Nuzulisa, menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan medis tidak menunjukkan gejala khas keracunan.

“Untuk kasus dua hari lalu, dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan indikasi keracunan makanan. Gejala yang muncul hanya cephalgia atau nyeri kepala serta abdominal pain atau nyeri perut,” ujar Nuzulisa, Senin (2/2/2026).

Ia menambahkan, keluhan tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor.

“Cephalgia dan abdominal pain bersifat multifaktor. Makanan memang bisa menjadi salah satu pemicu, namun riwayat maag atau gastritis juga dapat menyebabkan keluhan serupa,” jelasnya.

2. Kasus ini diinvestigasi oleh BPOM

ilustrasi investigasi (IDN Times/Aditya Pratama)

Menurut Nuzulisa, gejala umum keracunan makanan seperti diare, mual, dan muntah tidak ditemukan pada siswa yang sempat menjalani perawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

“Observasi hanya dilakukan beberapa jam terhadap empat siswa. Tidak ditemukan indikasi keracunan, sehingga mereka dipulangkan setelah mendapatkan penanganan,” tuturnya.

Terkait pemeriksaan lanjutan terhadap menu MBG, Nuzulisa menyarankan agar hal tersebut dikonfirmasi kepada pihak puskesmas yang menurunkan petugas untuk melakukan contact tracing ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), termasuk pengambilan dan pengujian sampel makanan.

3. Tunggu instruksi pusat soal SPPG terkait

MBG siswa di Pontianak Utara. (IDN Times/istimewa).

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menyebut saat ini kasus tersebut tengah dalam proses investigasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Lagi diinvestigasi oleh BPOM,” kata Saptiko singkat.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, juga membenarkan adanya laporan gangguan kesehatan yang dialami sejumlah siswa di Pontianak Utara.

Agus menjelaskan, berdasarkan laporan awal terdapat lima siswa yang terdampak. Namun, berdasarkan pembaruan terakhir, empat siswa telah dipulangkan ke rumah, sementara satu siswa masih menjalani perawatan di puskesmas setempat.

“Benar ada kejadian di Pontianak Utara. Awalnya laporan ada lima siswa, namun terbaru empat sudah pulang dan satu masih dirawat di puskesmas. Perkembangannya terus kami monitor,” ujar Agus.

Terkait operasional SPPG, Agus menyebut pihaknya masih menunggu arahan lebih lanjut dari pusat. Hingga kini, BGN Regional Kalbar belum mengambil keputusan apakah layanan tersebut akan dihentikan sementara atau tetap berjalan.

“Kami masih menunggu instruksi selanjutnya terkait operasional SPPG. Kasus ini baru muncul dan perlu koordinasi lebih lanjut,” jelasnya.

BGN Regional Kalbar memastikan akan terus berkoordinasi dengan pihak sekolah, tenaga kesehatan, serta instansi terkait guna menjamin keselamatan siswa sekaligus memastikan evaluasi program berjalan optimal.

Editorial Team