Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gangguan Speaker Dewan Juri Diduga Penyebab Polemik LCC 4 Pilar
Ilustrasi speaker sound system. https://www.istockphoto.com/debstheleo

Pontianak, IDN Times - Mencuat di media sosial dan jadi sorotan publik, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Syarif Faisal Indahmawan Alkadrie menanggapi peristiwa tersebut.

Sebelumnya diberitakan dugaan dewan juri Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar tak objektif. Jawaban dua peserta sama, namun dewan juri hanya memberi poin tinggi dari salah satu peserta.

Salah satu peserta sempat spontan komplain terhadap jawaban yang sama kepada dewan juri, namun komplen tersebut tak diindahkan oleh tim dewan juri.

1. Panggil kepsek dan tim pendamping LCC

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Syarif Faisal Indahmawan Alkadrie. (IDN Times/istimewa).

Atas peristiwa ini, Faisal mengungkapkan bahwa pihaknya telah memanggil Kepala SMAN 1 Pontianak beserta tim pendamping LCC untuk membahas persoalan yang mencuat.

“Kami sudah memanggil Kepala SMAN 1 Pontianak dan tim pendamping terkait persoalan ini,” jelas Faisal, Senin (11/5/2026).

2. Diduga speaker alami gangguan

Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar viral di medsos. (IDN Times/istimewa).

Menurut Faisal, salah satu dugaan penyebab terjadinya kesalahpahaman dalam perlombaan adalah gangguan pada speaker yang mengarah ke meja dewan juri.

Akibatnya, jawaban peserta diduga tidak terdengar secara maksimal oleh juri, meski suara terdengar jelas bagi penonton dan pada siaran langsung YouTube.

“Informasi yang saya terima, speaker yang mengarah ke juri mengalami gangguan, sehingga jawaban peserta kurang terdengar jelas. Sementara di live YouTube dan ke audiens penonton, suara terdengar jelas,” ujarnya.

3. Minta sekolah ikuti mekanisme yang berlaku

Dewan juri lomba Cerdas Cermat 4 pilar. (IDN Times/istimewa).

Faisal menegaskan, pihak sekolah diminta tetap mengikuti mekanisme yang berlaku dengan mengajukan permohonan resmi kepada penyelenggara untuk peninjauan kembali hasil perlombaan.

Dia juga menekankan bahwa kegiatan LCC 4 Pilar tersebut merupakan agenda yang diselenggarakan langsung oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, bukan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.

Meski polemik terus berkembang di media sosial, Faisal menyebut SMAN 1 Pontianak pada prinsipnya menerima hasil lomba. Namun, evaluasi tetap diperlukan agar kejadian serupa tidak terulang pada pelaksanaan berikutnya.

“Kita selesaikan sesuai ketentuan lomba dan semua pihak harus menunjukkan sikap kesatria,” tukasnya.

Viralnya video perdebatan tersebut kini memunculkan desakan publik agar sistem teknis perlombaan, terutama perangkat audio, diperiksa lebih ketat demi menjaga objektivitas dan fair play dalam kompetisi pelajar tingkat daerah.

Editorial Team