Habitatnya Terbakar, 30 Orangutan Dievakuasi dari Kebun Sawit Ketapang

Ketapang, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar) memicu krisis bagi populasi orangutan Kalimantan.
Sebanyak 51 orangutan telah dievakuasi tim gabungan sejak 6 Agustus hingga 10 Oktober 2026, dengan 30 individu di antaranya ditemukan di dalam atau sekitar areal perkebunan kelapa sawit PT KALE, Kabupaten Ketapang.
Sementara itu, lebih dari 90 persen kawasan hutan bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV) di area tersebut dilaporkan hangus terbakar.
Operasi penyelamatan yang dilakukan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) masih berlangsung. Sejumlah orangutan diduga masih terjebak di kawasan yang terbakar, kehilangan sumber pakan dan tempat berlindung.
1. Orangutan ditemukan stres, diduga kehilangan sumber makanan

Orangutan dievakuasi karena habitatnya terbakar karhutla di Ketapang. (IDN Times/YIARI). Empat orangutan terbaru yang diselamatkan adalah Lusi, Riri, Mama Rian, dan Rian. Dua orangutan remaja betina, Lusi dan Riri, ditemukan tanpa induk di kawasan HCV PT KALE, Desa Laman Satong.
Sementara itu, Mama Rian dan anaknya, Rian, dievakuasi dari kebun warga di Desa Riam Berasap, sekitar 1,5 kilometer dari perkebunan tersebut.
Kondisi Lusi menjadi salah satu gambaran paling memilukan dari dampak kebakaran. Orangutan remaja berusia sekitar 4–6 tahun itu ditemukan bertahan di sebuah pohon yang masih berdiri di tengah kawasan hutan yang telah hangus.
CEO YIARI sekaligus dokter hewan satwa liar, Karmele Llano Sanchez, mengatakan Lusi ditemukan dalam kondisi sangat kurus dan mengalami stres berat. Ia menduga orangutan tersebut telah berhari-hari kesulitan mendapatkan makanan karena habitatnya rusak akibat kebakaran.
“Orangutan Lusi terlihat sangat stres dan sangat kurus. Mungkin sudah berapa hari tidak dapat makanan apa pun di hutan yang sudah hancur ini,” ujar Karmele, Minggu (18/10/2026).
2. Ditemukan di kebun warga, ada yang dehidrasi

Tim melakukan evakuasi orangutan di Ketapang. (IDN Times/YIARI). Hasil pemeriksaan medis di lapangan menunjukkan tubuh Lusi dipenuhi luka gores dan luka terbuka cukup dalam, antara lain pada bagian punggung, bibir, dan anus. Luka-luka tersebut diduga akibat gigitan satwa, kemungkinan anjing. Lusi juga mengalami dehidrasi dan membutuhkan penanganan medis lanjutan.
Sementara itu, Riri ditemukan di pohon kelapa sawit dalam kondisi dehidrasi dan ketakutan. Tim penyelamat tidak menemukan keberadaan induknya. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena anak orangutan umumnya tetap bersama induknya hingga usia sekitar 6–7 tahun.
Mama Rian dan Rian juga ditemukan dalam kondisi tubuh sangat kurus berdasarkan pemeriksaan medis. Keduanya diselamatkan dari kebun warga di tengah kawasan yang telah terbakar, memperlihatkan bagaimana kerusakan habitat mendorong orangutan keluar dari hutan dan mendekati permukiman manusia.
3. 90 persen kawasan perkebunan kepala sawit HCV PT Kale hangus

Orangutan alami luka bakar saat dievakuasi di Ketapang. (IDN Times/YIARI). Besarnya dampak kebakaran terlihat dari hasil analisis citra satelit pada periode 1 Agustus hingga 25 September 2026. Lebih dari 90 persen kawasan HCV PT KALE dilaporkan telah hangus terbakar.
Padahal, kawasan tersebut sebelumnya diketahui menjadi habitat penting bagi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Sebuah publikasi ilmiah pada 2016 memperkirakan sekitar 150 individu orangutan hidup di kawasan HCV perusahaan tersebut, dengan kepadatan rata-rata 5,49 individu per kilometer persegi.
Angka itu menunjukkan tingginya nilai ekologis kawasan tersebut bagi kelangsungan hidup orangutan, terutama ketika habitat lain di sekitarnya semakin terbatas.
Kerusakan hutan akibat kebakaran membuat orangutan kehilangan sumber makanan dan tempat bersarang. Sebagian mengalami dehidrasi, malnutrisi, luka bakar, hingga luka terbuka. Orangutan yang bergerak mencari makanan di area perkebunan dan permukiman juga berpotensi memicu konflik dengan manusia.
Menurut YIARI, dari 51 orangutan yang dievakuasi di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara sejak 6 Agustus hingga 10 Oktober 2026, sebanyak 30 individu berasal dari dalam atau sekitar perkebunan PT KALE. Saat ini, 27 orangutan yang diselamatkan dari kawasan perkebunan tersebut dan sekitarnya masih menjalani perawatan lanjutan di pusat rehabilitasi YIARI di Ketapang.
Tim gabungan masih memantau orangutan yang bertahan di kawasan HCV. Berdasarkan laporan masyarakat, sejumlah individu bahkan telah memasuki kawasan permukiman dan merusak tanaman serta kebun warga.
4. Lakukan penyelamatan lanjutan

Orangutan dievakuasi karena habitatnya terbakar di kawasan konsensi. (IDN Times/YIARI). Kondisi di lapangan juga belum sepenuhnya aman. Di beberapa lokasi, asap masih tebal dan tanah masih mengeluarkan asap, menandakan adanya titik panas yang berisiko bagi satwa maupun tim penyelamat.
“Kondisi di lapangan masih sangat memprihatinkan. Di beberapa bagian, asap masih tebal, bahkan masih ditemukan titik-titik dengan tanah yang mengeluarkan asap,” kata Karmele.
Ia menegaskan, penyelamatan lanjutan masih diperlukan karena sejumlah orangutan diperkirakan belum berhasil ditemukan dan membutuhkan evakuasi serta penanganan medis segera.



















