Di era self-improvement, banyak orang berlomba menjadi versi terbaik dari dirinya. Buku, podcast, hingga media sosial dipenuhi pesan tentang produktivitas, disiplin, dan pencapaian. Tanpa disadari, dorongan untuk terus “memperbaiki diri” ini bisa berubah menjadi tekanan yang melelahkan—seolah diri kita saat ini selalu kurang.
Padahal, sebelum sibuk membenahi apa yang dianggap salah, ada satu hal mendasar yang kerap terlewat: mengenal diri sendiri. Memahami siapa diri kita, bagaimana pola emosi terbentuk, serta apa kebutuhan terdalam yang sering diabaikan. Tanpa proses ini, self-improvement berisiko menjadi pelarian, bukan pertumbuhan.
Berikut lima alasan mengapa mengenal diri jauh lebih penting daripada sekadar terus memperbaiki diri:
