Potret Samarinda zaman kolonial (digitalcollections.universiteitleiden.nl/KITLV Leiden)
Lima tahun setelah tercetusnya Sumpah Pemuda 1928, kata dia, barulah lahir organisasi yang khusus menghimpun para pemuda di Samarinda. Organisasi itu bernama Hard Inspanning Sport, disingkat HIS. Pendirinya bernama Abdul Gafoor, yang baru saja menamatkan sekolah tingkat dasar zaman Belanda di Samarinda.
Organisasi kepemudaan itu sengaja diberi nama yang terdiri atas tiga kata yang huruf awalnya adalah H-I-S karena sekolah Gafoor adalah HIS, singkatan dari Hollandsch Inlandche School. Perkumpulan HIS mengadakan kegiatan belajar agama. Selain itu, mereka aktif berkesenian.
"Lima tahun kemudian, HIS berganti nama menjadi Persatuan Pemuda Indonesia, disingkat Perpi," ujarnya.
Dia menerangkan, masuk ke masa Perang Dunia II, generasi pemuda Kaltim beralih ke angkatannya Abdoel Moeis Hassan. Mei 1940, usia Moeis Hassan belum genap 16 tahun. Kala itu, ia dan kawan-kawannya antara lain Badroen Tasin, Chairul Arief, Syahranie Yusuf, menggagas pembentukan organisasi kepemudaan lokal yang berhaluan kebangsaan. Namanya, Rukun Pemuda Indonesia, disingkat Rupindo.
Perkumpulan ini bertujuan menghimpun dan membangkitkan semangat kaum muda serta menanamkan kesadaran berbangsa, berbahasa, dan bertanah air Indonesia. Rupindo eksis sampai tahun 1945.
Polisi Belanda sering mengintimidasi dan menginterogasi Moeis dkk. Tapi para pengurus Rupindo cerdik berkelit. Kelak pada masa Revolusi Kemerdekaan, Moeis Hassan tampil sebagai pemimpin perjuangan diplomasi kemerdekaan di Kaltim dalam wadah Ikatan Nasional Indonesia (INI) dan Front Nasional. Ia adalah Gubernur Kalimantan Timur ke-2.
"Gubernur Kaltim periode 1962–1966 ini juga sedang dalam proses pengusulan sebagai Pahlawan Nasional," terangnya.