Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang perempuan tidak bisa santai karena cemas.
Ilustrasi Tanda Kamu Lebih Cemas daripada yang Kamu Pikirkan. (pexels.com/cottonbro studio)

Membandingkan diri dengan orang lain merupakan hal yang manusiawi. Hampir setiap orang pernah melakukannya, baik dalam hal pencapaian, penampilan, hubungan, maupun gaya hidup yang tampak lebih “sempurna”.

Namun, ketika kebiasaan ini terjadi terlalu sering, dampaknya bisa menggerus kepercayaan diri. Perasaan tidak cukup, iri, hingga rendah diri muncul tanpa disadari.

Dalam perspektif psikologi, kebiasaan membandingkan diri bukan sekadar persoalan kurang bersyukur. Hal ini berkaitan dengan cara otak menilai diri, kebutuhan akan penerimaan, serta pengaruh lingkungan sosial. Memahami akar penyebabnya dapat membantu kita melihat bahwa perbandingan adalah respons psikologis yang bisa dikelola.

Berikut lima alasan mengapa seseorang terus membandingkan diri dengan orang lain:

1. Otak manusia secara alami melakukan perbandingan sosial

Ilustrasi Tanda Kamu sedang Kehilangan Diri tanpa Menyadarinya. (pexels.com/Karola G)

Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan melakukan social comparison atau perbandingan sosial. Mekanisme ini membantu kita memahami posisi diri dalam kelompok dan belajar dari lingkungan.

Namun, jika dilakukan tanpa kesadaran, perbandingan berubah menjadi penghakiman diri. Fokus bergeser dari proses berkembang menjadi rasa tertinggal, karena yang terlihat hanya hasil akhir orang lain, bukan perjuangan di baliknya.

2. Harga diri yang bergantung pada penilaian eksternal

Ilustrasi Tips Membaca Pola Emosi Sendiri agar Tidak Tersesat dalam Pikiran. (pexels.com/Daniil Kondrashin)

Orang yang sulit merasa cukup dengan dirinya sendiri cenderung mencari pengakuan dari luar. Pencapaian orang lain lalu dijadikan tolok ukur untuk menilai harga diri.

Ketika penilaian diri terlalu bergantung pada orang lain, keberhasilan mereka bisa terasa seperti ancaman. Perbandingan pun lahir dari rasa takut dianggap gagal atau kurang berharga.

3. Pengaruh media sosial yang memperkuat ilusi kehidupan sempurna

Ilustrasi Tips Mengurangi Overthinking tanpa Menekan Perasaanmu. (pexels.com/Michael Obstoj)

Media sosial sering kali hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang. Foto, pencapaian, dan momen bahagia ditampilkan tanpa menunjukkan proses dan tantangan yang menyertainya.

Akibatnya, kita tanpa sadar membandingkan kehidupan nyata yang penuh dinamika dengan versi yang sudah “dipoles”. Kondisi ini dapat memperkuat perasaan tidak puas terhadap diri sendiri.

4. Kurangnya kejelasan tujuan dan nilai diri

Ilustrasi Hal tentang Luka Masa Kecil yang Terbawa hingga Dewasa. (pexels.com/Pexels User)

Ketika seseorang belum memahami nilai dan tujuan hidupnya, ia lebih mudah terpengaruh standar orang lain. Tanpa arah yang jelas, pencapaian orang lain terasa seperti patokan mutlak kesuksesan.

Padahal, setiap individu memiliki jalan, tempo, dan definisi keberhasilan yang berbeda. Kurangnya kesadaran ini membuat perbandingan terus berulang.

5. Luka emosional dan pengalaman masa lalu

Ilustrasi Alasan Mengapa Awal Tahun sering Membuat Kita Merasa Kosong. (pexels.com/Letícia Alvares)

Pengalaman masa kecil, seperti sering dibandingkan atau kurang mendapat apresiasi, dapat membentuk pola pikir hingga dewasa. Luka emosional tersebut membuat seseorang terbiasa menilai diri berdasarkan standar eksternal.

Akibatnya, perbandingan menjadi kebiasaan otomatis. Keberhasilan orang lain bisa memicu rasa minder, cemburu, atau tidak layak yang berakar dari pengalaman lama.

Membandingkan diri dengan orang lain bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, hal itu bisa menjadi sinyal adanya kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.

Dengan memahami alasan psikologis di baliknya, kita dapat mulai mengalihkan fokus dari membandingkan menjadi mengenali dan menerima diri sendiri. Ketika nilai diri dibangun dari kesadaran akan proses dan keunikan pribadi, perasaan cukup akan tumbuh secara perlahan dari dalam.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team