Pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Akhmad Zainal Abidin. Screenshoot webinar AJI jakarta
Pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Akhmad Zainal Abidin turut berkomentar soal hipotesis mikroplastik yang dianggap berbahaya bagi kesehatan. Ia berpendapat, secara ukuran mikroplastik tidak berdampak signifikan pada tubuh manusia.
Pasalnya saat memasuki saluran pencernaan, mikroplastik tersebut akan langsung ke luar dari tubuh manusia lewat feses.
"Itu tidak masalah masuk dalam tubuh, akan ke luar lagi," tuturnya. Terkecuali bila yang masuk adalah nanoplastik, di mana ukurannya di bawah 1 mm dan dikhawatirkan masuk dalam sistem jaringan darah maupun sel manusia.
Dalam sebuah research, ahli Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran Prodi Teknik Kimia ITB ini pun mengaku sempat melakukan penelitian kandungan air sumur, sumber, dan air proses. Dari penelitian itu, Akhmad menemukan data mengejutkan di mana seluruh air tersebut ternyata terdapat kandungan mikroplastik.
Meskipun begitu, ia enggan untuk buru-buru mengambil kesimpulan. Akhmad mengaku cukup menemui kesulitan dalam menemukan sumber dari pencemaran tersebut. Ia tidak memungkiri potensi adanya kesalahan dalam proses pengambilan sampel air.
"Perlu penelitian lebih lanjut soal ini agar bisa teridentifikasi dengan baik," sebutnya.
Terbaru ini, Akhmad mengaku sudah melakukan penelitian kualitas dari ratusan sampel air minum dari pelbagai sumber. Dari penelitian itu, ia menyimpulkan, adanya kandungan mikroplastik dalam sampel air minum. Tetapi dengan jumlah yang sangat kecil, bahkan di bawah ambang batas standar ditentukan Eropa.
"Kalau Eropa itu standarnya 6 ya, sedangkan kalau kita itu masih 4 ke bawah. Saya merasa lega dengan penemuan sampel-sampel itu," ungkapnya.
Lebih lanjut, Akhmad mempertanyakan adanya sejenis material yang dipertanyakan gugusnya, apakah benar berasal dari kandungan plastik atau bukan. Kesimpulannya, ia menegaskan, dampak pencemaran mikroplastik pada tubuh manusia belum bisa dipastikan kebenarannya. Menurutnya, butuh penelitian panjang dari para pakar dengan mengkaji baik secara fisik maupun kimia.
Sementara ini, dunia belum menentukan standar tentang keberadaan mikroplastik yang dianggap bisa berdampak negatif pada kesehatan manusia.