Child grooming kerap tidak muncul dalam bentuk yang langsung terlihat berbahaya. Sebaliknya, praktik ini sering menyamar sebagai perhatian, kepedulian, hingga kedekatan yang tampak wajar—terutama di media sosial. Karena itu, banyak kasus baru terungkap ketika dampaknya sudah menimbulkan luka emosional dan psikologis yang mendalam.
Tak sedikit anak dan remaja, bahkan orang dewasa di sekitarnya, tidak menyadari bahwa batas aman sedang dilanggar. Sejumlah tanda grooming kerap dianggap sebagai “sekadar bercanda”, “hanya ngobrol biasa”, atau “cuma teman online”. Padahal, normalisasi inilah yang membuat praktik child grooming sulit dikenali dan dicegah sejak dini.
Berikut lima tanda child grooming yang sering dianggap normal:
