Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Wanita sedang melihat jendela.
Ilustrasi Tanda Kamu Bertahan di Tempat yang Tidak Lagi Senyaman Dulu. (pexels.com/SHVETS production)

Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat dan berbasis teknologi, banyak orang kini menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam ruangan. Aktivitas bekerja di depan layar, bepergian dengan kendaraan tertutup, hingga kebiasaan beristirahat di rumah membuat paparan sinar matahari semakin berkurang.

Padahal, sinar matahari memiliki peran penting tidak hanya bagi kesehatan fisik, tetapi juga bagi keseimbangan psikologis. Dalam ilmu kesehatan dan psikologi, cahaya alami diketahui memengaruhi suasana hati, ritme biologis, serta fungsi otak. Minimnya paparan sinar matahari dapat memicu berbagai gangguan emosional yang sering tidak disadari.

Berikut lima dampak psikologis dan kesehatan mental yang dapat muncul ketika seseorang jarang terkena sinar matahari:

1. Meningkatkan risiko depresi dan gangguan mood

Ilustrasi Hal tentang Kesepian yang Tidak Pernah Dibicarakan Orang. (pexels.com/cottonbro studio)

Sinar matahari membantu produksi serotonin, neurotransmiter yang berkaitan dengan perasaan bahagia dan stabilitas emosi. Jika paparan cahaya alami berkurang, kadar serotonin bisa menurun sehingga seseorang lebih mudah merasa murung atau negatif.

Kondisi ini sering dikaitkan dengan depresi musiman (seasonal affective disorder), meski gejala penurunan suasana hati juga bisa dialami siapa saja yang terlalu lama berada di dalam ruangan.

2. Mengganggu ritme tidur dan jam biologis

Ilustrasi cara menangani overthinking sebelum kamu tidur. (pexels.com/Hanna Pad)

Paparan sinar matahari berperan dalam mengatur ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Tanpa cahaya alami yang cukup, otak kesulitan membedakan waktu siang dan malam sehingga siklus tidur menjadi tidak teratur.

Gangguan tidur dalam jangka panjang dapat memengaruhi emosi, membuat seseorang mudah lelah, sulit fokus, dan lebih sensitif terhadap stres.

3. Menurunkan energi dan motivasi hidup

Ilustrasi Konflik Psikologis yang Sering Terjadi di Awal Tahun, Wajib Disadari! (pexels.com/Liza Summer)

Sinar matahari memicu produksi vitamin D yang berperan pada kesehatan tulang, sistem saraf, dan fungsi otak. Kekurangan vitamin D dapat membuat tubuh terasa lemas dan kurang berenergi.

Secara psikologis, kondisi ini sering diikuti penurunan motivasi, rasa malas, hingga hilangnya minat terhadap aktivitas yang sebelumnya menyenangkan.

4. Meningkatkan risiko kecemasan dan stres

Ilustrasi Alasan Mengapa Awal Tahun sering Membuat Kita Merasa Kosong. (pexels.com/Letícia Alvares)

Cahaya matahari membantu mengatur hormon kortisol yang berkaitan dengan stres. Ketika keseimbangannya terganggu, seseorang dapat menjadi lebih mudah tegang, cemas, dan sulit merasa rileks.

Jika berlangsung terus-menerus, stres kronis dapat berdampak pada kesehatan mental secara keseluruhan.

5. Mengurangi kesehatan kognitif dan fokus

Ilustrasi Karir Pekerjaan yang Cocok untuk Tipe Kepribadian Sanguinis. (pexels.com/Canva Studio)

Paparan sinar matahari serta aktivitas di luar ruangan berkaitan dengan peningkatan aliran darah ke otak dan fungsi kognitif. Minim cahaya alami dapat membuat otak lebih cepat lelah sehingga konsentrasi dan daya ingat menurun.

Dari perspektif psikologi kognitif, cahaya alami membantu menjaga kewaspadaan mental agar proses berpikir tetap optimal.

Pada akhirnya, jarang terkena sinar matahari tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Meluangkan waktu sejenak untuk berjalan pagi atau beraktivitas ringan di luar ruangan menjadi langkah sederhana yang dapat membantu menjaga keseimbangan emosi dan kualitas hidup.

Sinar matahari mungkin sering terlupakan dalam rutinitas harian, padahal ia merupakan sumber kesehatan alami yang sangat berharga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team