Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Anak-anak sedang memainkan smartphone.
Anak-anak sedang memainkan smartphone. (pexels.com/Jessica Lewis)

Di era digital, gadget telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak kini tumbuh di lingkungan yang dipenuhi layar, mulai dari ponsel, tablet, hingga televisi. Kondisi ini kerap membuat orang tua berada dalam dilema: di satu sisi gadget bisa menjadi sarana belajar dan hiburan, namun di sisi lain ada kekhawatiran terhadap dampaknya pada perkembangan mental dan emosional anak.

Dalam perspektif psikologi perkembangan, pertanyaan mengenai kapan anak boleh menggunakan gadget tidak semata soal usia. Faktor kesiapan psikologis, pendampingan orang tua, serta tujuan penggunaan jauh lebih menentukan. Gadget bukanlah hal yang sepenuhnya buruk, tetapi tanpa aturan yang jelas, penggunaannya dapat memengaruhi pola pikir, emosi, hingga kemampuan sosial anak dalam jangka panjang.

Berikut panduan pengenalan gadget pada anak berdasarkan tahap usia:

1. Usia dini (0–2 tahun): fokus pada interaksi nyata

Seorang anak kecil sedang bermain bersama orang tuanya. (pexels.com/Werner Pfennig)

Pada masa ini, perkembangan otak anak berlangsung sangat pesat. Interaksi langsung seperti sentuhan, suara orang tua, ekspresi wajah, dan permainan sederhana berperan penting dalam membentuk koneksi saraf.

Para ahli kesehatan dan psikologi anak umumnya tidak merekomendasikan paparan gadget pada usia 0–2 tahun, kecuali untuk video call singkat dengan keluarga. Paparan layar terlalu dini berisiko mengurangi interaksi sosial, memperlambat perkembangan bahasa, serta mengganggu pembentukan ikatan emosional (attachment) antara anak dan orang tua.

2. Usia prasekolah (2–5 tahun): pengenalan terbatas dan terarah

Ilustrasi Pola Didikan Orang Tua yang Membuat Anak Nakal di Sekolah. (pexels.com/MART PRODUCTION)

Memasuki usia prasekolah, rasa ingin tahu dan kemampuan kognitif anak mulai berkembang pesat. Pada tahap ini, gadget dapat diperkenalkan secara sangat terbatas, dengan durasi singkat dan konten yang sesuai usia.

Namun, gadget tidak boleh menjadi pengganti interaksi langsung. Anak usia ini masih belajar mengontrol emosi dan perhatian. Tanpa pendampingan, penggunaan gadget berpotensi membuat anak mudah terdistraksi dan bergantung pada stimulasi instan. Kehadiran orang tua penting untuk membantu anak memahami konten serta mengaitkannya dengan pengalaman nyata.

3. Usia sekolah awal (6–9 tahun): belajar tanggung jawab digital

Seorang anak kecil sedang bermain bersama orang tuanya. (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Saat memasuki usia sekolah, kebutuhan terhadap gadget mulai meningkat, terutama untuk menunjang pembelajaran dan komunikasi. Pada fase ini, orang tua dapat menerapkan aturan yang lebih jelas, seperti batas waktu penggunaan dan jenis aplikasi yang boleh diakses.

Usia ini juga menjadi masa pembentukan disiplin diri dan kontrol impuls. Dengan bimbingan yang konsisten, gadget dapat membantu meningkatkan literasi digital dan kemampuan kognitif. Sebaliknya, tanpa pengawasan, penggunaan berlebihan dapat mengganggu konsentrasi belajar dan memicu kecanduan layar.

4. Usia praremaja (10–12 tahun): pendampingan emosional dan sosial

Ilustrasi Tips Penting untuk Para Orang Tua agar Anak Tidak Merokok. (pexels.com/RDNE Stock project)

Pada masa praremaja, anak mulai aktif bersosialisasi dan tertarik pada media sosial serta game online. Gadget menjadi sarana membangun relasi, tetapi juga berpotensi menimbulkan tekanan sosial, seperti perbandingan diri dan kebutuhan akan pengakuan.

Secara psikologis, fase ini ditandai dengan pencarian identitas dan sensitivitas emosional yang meningkat. Pendekatan terbaik adalah dialog terbuka, bukan larangan keras. Orang tua perlu mengajarkan etika digital, empati, serta cara menjaga kesehatan mental di dunia maya.

5. Faktor yang lebih penting dari sekadar usia

Anak anak bermain gadget ( sumber: https://share.google/FrdQZdXqnL6BGAI3O )

Meski usia sering dijadikan patokan, psikologi perkembangan menekankan bahwa kesiapan anak dan kualitas pendampingan jauh lebih penting. Anak yang mampu mengikuti aturan, berkomunikasi dengan baik, dan memiliki rutinitas seimbang cenderung lebih siap menggunakan gadget.

Selain itu, teladan orang tua juga berpengaruh besar. Anak belajar melalui observasi. Ketika orang tua menggunakan gadget secara bijak, anak lebih mudah meniru pola penggunaan yang sehat. Gadget seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti kedekatan emosional dalam keluarga.

Tidak ada satu jawaban mutlak mengenai kapan anak boleh menggunakan gadget. Yang terpenting adalah kesadaran bahwa gadget memiliki dampak psikologis nyata terhadap perkembangan anak. Dengan pengenalan bertahap, aturan yang konsisten, serta pendampingan penuh empati, gadget dapat dimanfaatkan secara positif tanpa mengorbankan kesehatan mental dan perkembangan sosial anak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team