Karhutla Kerap Terjadi di Kalimantan, Ternyata Ini Penyebabnya

- Kalimantan rentan karhutla karena lahan gambut luas yang mudah terbakar saat mengering; api dapat merambat di bawah tanah, sulit dipadamkan, dan menghasilkan asap serta CO₂.
- Pembukaan lahan dengan pembakaran, kelalaian seperti puntung rokok atau api unggun, serta pembalakan dan alih fungsi hutan meningkatkan risiko api meluas.
- El Nino, kemarau panjang, dan curah hujan minim mengeringkan tanah serta vegetasi, sehingga sumber api kecil lebih cepat memicu kebakaran besar.
Take a Deeper Reads

Kalimantan merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia dengan kawasan hutan yang sangat luas. Namun, wilayah ini juga kerap menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat musim kemarau.
Titik api dan asap tebal dapat meluas ke berbagai wilayah ketika kebakaran terjadi. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak terhadap kesehatan, terutama akibat paparan asap dan polusi udara.
Karhutla di Kalimantan bukan semata-mata disebabkan oleh faktor alam. Ada sejumlah kondisi yang membuat wilayah ini rentan terbakar dan menyebabkan api sulit dipadamkan.
Lantas, apa saja faktor yang membuat Kalimantan rawan mengalami kebakaran hutan?
1. Lahan gambut yang luas

Salah satu kawasan perairan gambut di Pontianak, Kalimantan Barat. (dok. pribadi/Tri Ainun Fadilla) Kalimantan memiliki kawasan rawa gambut yang sangat luas. Gambut terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang menumpuk di wilayah yang selalu atau sering tergenang air sehingga proses pembusukannya berlangsung tidak sempurna.
Dalam kondisi alami yang basah, gambut relatif sulit terbakar. Namun, kondisinya berubah ketika lahan dikeringkan, misalnya melalui pembangunan kanal untuk membuka kawasan perkebunan.
Gambut yang mengering menjadi sangat mudah terbakar. Bahkan, api dapat merambat dan membakar lapisan gambut di bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman menjadi lebih sulit.
Kebakaran gambut juga dapat menghasilkan asap dalam jumlah besar serta melepaskan karbon dioksida (CO₂) ke atmosfer. Dampakny
2. Praktik pembukaan lahan

Otorita Ibukota Nusantara (OIKN) menemukan bekas sisa tebangan pohon di kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Bukit Tengkorak kawassan IKN, Kamis (3/9/2026). Foto OIKN Aktivitas manusia menjadi salah satu faktor penting dalam terjadinya karhutla. Salah satunya adalah praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.
Cara tersebut masih digunakan karena dianggap lebih murah dan cepat dibandingkan metode pembukaan lahan lainnya. Namun, api yang awalnya digunakan untuk membersihkan lahan dapat dengan mudah menyebar ke area di sekitarnya, terutama ketika kondisi vegetasi dan tanah sedang kering.
Jika tidak terkendali, kebakaran dapat meluas hingga kawasan hutan dan lahan di sekitarnya.
3. Fenomena El Nino

BKSDA Kalimantan Timur membuat kubangan air untuk satwa di kawasan konservasi di September 2026. Foto BKSDA Kaltim Faktor iklim juga dapat memperbesar risiko karhutla. Salah satunya adalah fenomena El Nino yang dapat menyebabkan kondisi lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia.
Saat kemarau berlangsung lebih panjang, kelembapan tanah dan vegetasi menurun. Kondisi tersebut membuat semak, daun kering, ranting, dan material organik lainnya menjadi lebih mudah terbakar.
El Nino memang bukan sumber api secara langsung. Namun, kondisi kering yang ditimbulkannya dapat membuat api lebih cepat menyebar dan kebakaran menjadi lebih sulit dikendalikan.
4. Curah hujan yang minim

ilustrasi kekeringan akibat musim kemarau (pexels.com/Dominika P) Curah hujan yang rendah selama musim kemarau membuat kadar air di dalam tanah dan vegetasi menurun. Akibatnya, material organik yang berada di lantai hutan menjadi semakin kering.
Dalam kondisi ekstrem, sumber api kecil dapat memicu kebakaran. Karena itu, periode dengan curah hujan rendah menjadi salah satu waktu yang perlu diwaspadai dalam upaya pencegahan karhutla.
5. Kelalaian manusia

Pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan IKN dengan water booming pesawat helikopter TNI AU, Kamis (3/9/2026). Foto OIKN Tidak semua kebakaran disebabkan oleh pembukaan lahan. Kelalaian manusia juga dapat menjadi pemicu kebakaran.
Contohnya adalah membuang puntung rokok sembarangan atau meninggalkan api unggun yang belum benar-benar padam. Percikan api kecil dapat menjadi masalah besar ketika berada di lingkungan yang kering dan dipenuhi material yang mudah terbakar.
Karena itu, kewaspadaan masyarakat menjadi bagian penting dalam mencegah munculnya titik api, terutama saat musim kemarau.
6. Pembalakan dan alih fungsi lahan

Ilustrasi 10 ton lebih kayu pembalakan liar atau jarahan komplotan praktik mafia kayu di Riau diamankan Tim Polda Riau. (Foto:Antara/ HO-Humas Polda Riau). Pembalakan liar dan perubahan fungsi kawasan hutan juga dapat meningkatkan risiko kebakaran. Berkurangnya tutupan pohon membuat kondisi lingkungan di dalam hutan menjadi lebih terbuka dan kering.
Hilangnya kanopi pohon membuat sinar matahari lebih mudah mencapai permukaan tanah. Pada saat yang sama, sisa tebangan berupa ranting, batang, dan semak kering dapat menumpuk dan menjadi bahan bakar alami.
Kondisi tersebut membuat kawasan hutan yang telah mengalami kerusakan menjadi lebih rentan terbakar, terutama ketika memasuki musim kemarau.
Karhutla di Kalimantan pada akhirnya merupakan persoalan yang dipengaruhi berbagai faktor. Kondisi lahan gambut, musim kemarau, rendahnya curah hujan, hingga aktivitas dan kelalaian manusia dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.
Upaya mencegah karhutla pun tidak hanya bergantung pada penanganan ketika api sudah muncul. Pencegahan, pengelolaan lahan yang tepat, serta kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran menjadi langkah penting agar bencana asap tidak terus berulang.




















