Sejumlah penari membawakan tarian khas Dayak saat mengiringi bakal calon Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud dan bakal calon Wakil Gubernur Seno Aji memakai atribut saat mengikuti pendaftaran di KPU Provinsi Kaltim, di Samarinda, Kamis (29/8/2024). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww.
Pemuda Dayak Taboyan Barito Utara Kalteng Putes Lekas (34) menambahkan, Kaharingan merupakan filosofi hidup tentang kearifan lokal Kalimantan. Bagaimana interaksi antara manusia hidup berdampingan lestari bersama alam.
“Kami menenung (semadi) untuk memperoleh firasat dari leluhur dalam melakukan segala hal,” ungkapnya.
Putes mencontohkan ritual khusus berladang Suku Dayak yang harus melalui proses panjang. Sebelum membuka kawasan hutan, mereka wajib hukumnya memperoleh petunjuk leluhur.
Dayak Taboyan terbiasa menggelar ritual diakhiri prosesi menenung dalam menjalin komunikasi dengan leluhur. Doa biasanya dijawab dengan pertanda sebilah kayu sudah tertancap dalam tanah.
“Leluhur akan memberi tanda, bila kayu bertambah panjang artinya kami dilarang berladang. Bila kayunya bertambah pendek, artinya dipersilakan dan tanahnya subur,” tuturnya.
Demikian pula saat mereka dewasa dan harus berumah tangga. Proses menemukan jodoh paling tepat pun dilakukan dengan menenung.
Prosesi sama, menenung dilakukan di sejumlah lokasi keramat bagi Kaharingan. Seperti contohnya jalur Pegunungan Lumut, Muller, dan Meratus.
“Leluhur berkomunikasi dengan kami secara langsung, seperti berbicara lewat telpon saja. Prosesi menenung dilakukan untuk berburu, kesaktian dan lainnya,” papar Putes.
Sebagai putra asli Dayak, Putes mengaku terus mengamalkan warisan Kaharingan dalam kehidupan sehari-hari. Ia tidak ingin terkena tulah atau bala kesialan menimpa keluarga saat mengabaikan tradisi diajarkan para leluhur sejak dulu.
“Saya punya ruangan khusus menenung saat berkomunikasi dengan leluhur,” ungkapnya.