Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Generasi Sekarang Sulit Punya Rumah Sendiri? Ini 6 Faktanya
ilustrasi anak muda(pexels.com/helenalopes)

Seiring perkembangan zaman, kebutuhan hidup masyarakat terus meningkat, termasuk dalam hal kepemilikan hunian. Namun, bagi generasi milenial dan Gen Z, memiliki rumah pribadi kini menjadi tantangan yang tidak mudah diwujudkan.

Meski tumbuh di era teknologi modern dan serba digital, banyak anak muda masih kesulitan membeli rumah sendiri. Kondisi ekonomi, gaya hidup, hingga perubahan pola kerja menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi hal tersebut.

Berikut beberapa alasan mengapa generasi milenial dan Gen Z semakin sulit memiliki hunian pribadi.

1. Perilaku konsumtif

ilustrasi anak muda(pexels.com/fox)

Perkembangan media sosial dan tren belanja online mendorong munculnya gaya hidup konsumtif di kalangan anak muda.

Banyak milenial dan Gen Z lebih memilih menghabiskan uang untuk mengikuti tren, membeli barang yang sedang viral, hingga memenuhi gaya hidup demi konten media sosial. Akibatnya, kemampuan menabung untuk membeli rumah menjadi semakin sulit karena pengeluaran lebih besar untuk kebutuhan nonprioritas.

2. Pekerjaan belum stabil

ilustrasi anak muda(pexels.com/fauxels)

Persaingan kerja yang tinggi serta sistem kerja kontrak dan freelance membuat banyak anak muda belum memiliki pendapatan tetap.

Kondisi ini membuat sebagian generasi muda ragu mengambil kredit pemilikan rumah (KPR), karena khawatir tidak mampu membayar cicilan dalam jangka panjang.

Selain itu, ketidakpastian ekonomi juga membuat mereka lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan

3. Harga rumah banyak tidak masuk akal

ilustrasi anak muda(pexels.com/timmossholder)

Harga tanah dan rumah saat ini terus mengalami kenaikan, terutama di wilayah perkotaan.

Pertumbuhan jumlah penduduk dan keterbatasan lahan membuat harga properti semakin sulit dijangkau. Banyak kawasan strategis kini beralih fungsi menjadi area komersial, sehingga harga hunian melonjak jauh dibandingkan generasi sebelumnya.

Akibatnya, rumah impian bagi sebagian anak muda terasa semakin sulit dimiliki.

4. Bukan prioritas

ilustrasi anak muda(pexels.com/cottonbrostudio)

Generasi milenial dan Gen Z dikenal memiliki mobilitas tinggi dan gaya hidup yang lebih dinamis. Karena itu, banyak dari mereka memilih menyewa tempat tinggal dibanding membeli rumah.

Apalagi saat ini layanan penyewaan apartemen dan kontrakan semakin mudah diakses melalui platform digital dengan biaya yang relatif lebih terjangkau.

Bagi sebagian anak muda, menyewa dinilai lebih fleksibel dibanding harus terikat cicilan rumah dalam waktu panjang.

5.Belum jadi prioritas

ilustrasi anak muda(pexels.com/cottonbrostudio)

Sebagian anak muda merasa belum membutuhkan rumah pribadi, terutama jika belum berkeluarga.

Mereka menganggap tinggal di apartemen kecil, kos, atau kontrakan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan, ada pula yang merasa tidak perlu terburu-buru membeli rumah karena memiliki kemungkinan mendapatkan rumah warisan keluarga.

6. Gaya hidup fleksibel dan work from home

Ilustrasi Dorkas Kedai salah satu tempat nongkrong favorit anak muda. (pexels.com/ Kenneth Surillo)

Perkembangan teknologi membuat pola kerja semakin fleksibel. Banyak pekerjaan kini bisa dilakukan dari mana saja melalui sistem work from home (WFH).

Kondisi ini membuat sebagian generasi muda merasa tidak harus menetap di satu tempat dalam waktu lama. Mereka lebih menyukai gaya hidup praktis, bebas berpindah tempat, dan tidak terlalu terikat dengan kepemilikan rumah permanen.

Meski demikian, memiliki rumah tetap menjadi impian banyak orang. Dibutuhkan perencanaan keuangan yang matang, pengelolaan gaya hidup, serta strategi investasi yang tepat agar generasi milenial dan Gen Z bisa mewujudkan hunian impian mereka di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team