ilustrasi hutan di Indonesia (Unsplash.com/ Jeremy Bezanger)
Program carbon trading bisa mengubah mindside tentang sistem konvensional praktik konservasi di masa depan. Sempat tergantung eksploitasi sumber daya alam (SDA) hingga kini mulai melirik kekayaan konservasi hutan.
"Kaltim masih memiliki kekayaan alam hutan yang nilainya bisa diperdagangkan," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kaltim EF Rafiddin Rizal selaku Koordinator Pokja REDD Plus Pemprov Kaltim kepada IDN Times.
Kawasan hutan Kaltim dilaporkan memiliki luas 12,7 juta hektare di mana luasan tutupan pohon tersisa 6,6 juta hektare. Itu pula yang menjadi dasar kenapa KLHK menunjuk Kaltim dalam pilot project Program REDD+ (Reducing Emission from Deforestration and Forest Degradation) diinisiasi Bank Dunia.
Terutama kawasan hutan yang berada di Kabupaten Berau, Kutai Timur, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, dan Mahakam Ulu.
"Data soal luasan hutan Kaltim berdasarkan data KLHK," papar Rizal.
Dalam perjanjian delapan tahun silam tersebut, Rizal mengatakan, Bank Dunia meminta Kaltim berkontribusi dalam program penyerapan 22 juta ton gas emisi karbon dunia.
Per tonnya, Bank Dunia menjanjikan dana kompensasi sebesar USD5 yang bila dihitung-hitung total keseluruhan penyerapan karbon di Kaltim bisa terkumpul USD110 juta. Penetapan target penyerapan karbon yang sebenarnya tidak terlalu berat bagi Kaltim.
Pasalnya sebelum kerja sama lingkungan ini resmi diteken, hutan Kaltim diestimasikan mampu menyerap hingga 18 juta ton emisi gas karbon.
Apalagi setelah pemerintah daerah serius dalam penerapan pembangunan hijau, di antaranya rehabilitasi hutan, moratorium izin pertambangan, hingga pemberdayaan masyarakat desa di kawasan hutan.
Kemampuan penyerapan karbon pun melonjak signifikan.
Hasilnya memuaskan, di mana audit validasi data tim independen melaporkan hutan di Kaltim berkontribusi penyerapan 30 juta ton gas karbon. Sesuai variabel konservasi lingkungan disepakati dengan pihak Bank Dunia.
"Terjadi surplus hingga 8 juta ton gas karbon dari sudah ditargetkan sebesar 22 juta ton gas karbon. Pencapaian ini sudah berhasil terealisasi di tahun awal program kerja sama Pemprov Kaltim dan Bank Dunia," ungkap Rizal.
Nah, surplus 8 juta ton gas karbon inilah nantinya yang akan coba diuangkan kembali oleh Pemprov Kaltim, lewat kerja sama dengan swasta maupun negara asing berkomitmen dalam penyelamatan lingkungan.
Kaltim sudah membuka penawaran harga USD25 per tonnya dengan potensi pemasukan sebesar USD200 juta atau sebesar Rp3 triliun.
"Kerja sama bisa dengan negara asing maupun perusahaan yang punya komitmen lingkungan. Seperti Norwegia atau pihak swasta di luar negeri," paparnya.
Perusahaan minyak dan gas dunia Shell dikabarkan yang berminat mengakuisisi surplus penyerapan 8 juta ton gas karbon Kaltim ini.