Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
D.N. Aidit (kanan) dan Mayjen TNI Wilujo Puspujodo (kiri) bersama Presiden Sukarno setelah penganugerahan Bintang Mahaputera Kelas III di Istana Merdeka, Jakarta, 13 September 1965. (Perpusnas RI).
D.N. Aidit (kanan) dan Mayjen TNI Wilujo Puspujodo (kiri) bersama Presiden Sukarno setelah penganugerahan Bintang Mahaputera Kelas III di Istana Merdeka, Jakarta, 13 September 1965. (Perpusnas RI).

Kukar, IDN Times - Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar), Kalimantan Timur, meresmikan Patung Bung Karno di Kecamatan Sangasanga sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa yang pernah terjadi di wilayah tersebut, sekaligus upaya menanamkan nilai sejarah kepada generasi muda.

Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, mengatakan peresmian Patung Bung Karno yang dirangkai dengan peresmian Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sangasanga menjadi momentum penting bagi masyarakat dalam mengenang perjuangan rakyat Sangasanga.

“Peresmian Patung Bung Karno dan RTH Sangasanga ini merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa yang berlangsung di Sangasanga,” ujar Rendi diberitakan Antara saat peresmian di Sangasanga, Selasa (27/1/2026).

1. Peringatan peristiwa Merah Putih di Sangasanga

Sejumlah pelajar mementaskan drama teatrikal Perjuangan Merah Putih ke-79 Sangasanga di Taman Palagan, Sangasanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Selasa (27/1/2026). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.

Peresmian patung Presiden RI pertama, Soekarno, tersebut bertepatan dengan peringatan Peristiwa Merah Putih Sangasanga, sebuah peristiwa bersejarah pada 26 Januari 1947. Saat itu, para pejuang berhasil mengecoh tentara Belanda dengan menggelar keramaian kesenian sebagai pengalihan perhatian, sebelum membagikan senjata dan melakukan penyerangan dini hari.

Rendi menjelaskan, pembangunan Patung Bung Karno dan RTH Sangasanga merupakan hasil kolaborasi antara Pemkab Kukar dan PT Pertamina Sangasanga sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian sejarah sekaligus pembangunan daerah.

2. Pusat edukasi sejarah di Sangasanga

Sejumlah pelajar mementaskan drama teatrikal Perjuangan Merah Putih ke-79 Sangasanga di Taman Palagan, Sangasanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Selasa (27/1/2026). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.

Ia berharap kawasan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ruang publik, tetapi juga menjadi pusat edukasi sejarah, khususnya bagi generasi muda, serta wadah aktivitas seni dan budaya yang dapat diisi berbagai kegiatan secara rutin.

Selain itu, Pemkab Kukar berkomitmen terus melengkapi kawasan RTH Sangasanga dengan fasilitas pendukung, seperti pembangunan musala, kios UMKM, serta peningkatan infrastruktur jalan menuju lokasi.

“Pemkab Kukar berkomitmen menghadirkan pembangunan yang merata dan berkeadilan di seluruh wilayah Kutai Kartanegara,” tegas Rendi.

3. Perang antara pejuang dan tentara Belanda

Sejumlah pelajar berlari dengan membawa bendera Merah Putih saat mementaskan drama teatrikal Perjuangan Merah Putih ke-79 Sangasanga di Taman Palagan, Sangasanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Selasa (27/1/2026). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.

Sementara itu, Peristiwa Merah Putih Sangasanga bermula ketika tentara Belanda (NICA) menguasai wilayah tersebut pada 1945. Kondisi itu mendorong rakyat dan pejuang yang tergabung dalam Badan Pembela Republik Indonesia (BPRI) menyusun strategi untuk merebut kembali Sangasanga.

Pada 26 Januari 1947, para pejuang mengalihkan perhatian penjajah melalui berbagai pertunjukan kesenian daerah. Di tengah keramaian, senjata dan amunisi dibagikan kepada para pejuang. Serangan dilancarkan sekitar pukul 03.00 Wita dan berhasil menguasai Sangasanga pada pukul 09.00 Wita, yang ditandai dengan penurunan bendera Belanda di Sangasanga Muara oleh pejuang bernama La Hasan.

Editorial Team