Akmal Ramadhan, pelajar SMA Al- Khairiyah, Samarinda lebih netral menilai penghapusan UN (IDN Times/Yuda Almerio)
Jodi tak menampik sebelum UN ada bimbingan belajar. Dari situ para pelajar disiapkan untuk menghadapi ujian nasional. Sama halnya dengan try out yang merupakan simulasi dari UN.
Namun semua kegiatan tersebut yang terkadang bikin siswa menjadi stres, belum lagi tekanan harus lulus dengan standar tertentu.
Dia pun sepakat negara mesti punya standar pendidikan yang nantinya menentukan wajah pendidikan Indonesia, tapi tak harus dengan UN.
"Minat atau bakat dan mata pelajaran lain juga bisa dipakai," sebutnya.
Walau demikian, Jodi masih akan menghadapi UN pada 2020 nanti. Itu sebabnya dia mempersiapkan diri. Terutama persiapan mental. Dirinya tak ingin gagal karena tidak mengusai sejumlah mata pelajaran.
"Gak bisa menyontek," tuturnya terkekeh.
Sementara itu, Akmal Ramadhan, pelajar SMA Al- Khairiyah mengaku lebih kepada posisi netral. Dia sepakat jika UN dihapuskan, juga tak menjadi soal bila ujian nasional tetap diadakan.
Lantaran sebelum UN, siswa akan dibekali dengan sejumlah mata pelajaran dan tiga tahun belajar itu lebih dari cukup sehingga tak memberatkan siswa. Jika dihapus, pemerintah tentu punya regulasi terbaik sebagai pengganti UN.
"Jadi sah-sah saja," ujarnya.