Pontianak Hadapi Hujan dan Pasang Kapuas, Dua Pompa Ditambah

- Pemkot Pontianak mengintensifkan normalisasi drainase untuk menghadapi hujan deras bersamaan pasang Sungai Kapuas, yang memperlambat aliran air di kota bertopografi datar.
- Parit Tokaya dikeruk rutin karena pendangkalan sedimentasi, sementara dua pompa besar dan pompa bergerak disiapkan untuk mempercepat pengurangan genangan di titik bermasalah.
- Keterbatasan lahan di permukiman padat menghambat pelebaran saluran; warga diingatkan tidak membuang sampah ke parit agar drainase tidak tersumbat.
Pontianak, IDN Times - Antisipasi hujan deras yang akan datang bersamaan dengan pasangnya Sungai Kapuas menjadi tantangan tersendiri bagi penanganan genangan di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar).
Kondisi geografis kota yang relatif datar membuat air tidak selalu dapat mengalir dengan cepat menuju sungai. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemerintah Kota Pontianak mengintensifkan normalisasi saluran drainase sekaligus menambah dua unit pompa berkapasitas besar.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan, pemeliharaan saluran dilakukan secara rutin setiap tahun, mulai dari saluran primer, sekunder hingga tersier. Langkah ini diperlukan untuk menjaga kelancaran aliran air sekaligus mengurangi risiko genangan saat curah hujan meningkat.
1. Parit Tokaya jadi fokus perhatian pengerukan

Edi keruk parit antisipasi genangan saat musim hujan. (IDN Times/Istimewa). Salah satu saluran yang menjadi perhatian adalah Parit Tokaya, yang berperan penting dalam sistem drainase di sejumlah kawasan, termasuk Kota Baru dan Pontianak Selatan.
“Parit Tokaya ini salah satu saluran primer utama. Setiap tahun terjadi pendangkalan, sehingga kita lakukan pengerukan baik menggunakan ekskavator amfibi maupun secara manual,” ujar Edi, Sabtu (10/10/2026).
Menurutnya, pengerukan menjadi bagian penting dari pemeliharaan rutin karena sedimentasi dapat mengurangi kapasitas saluran. Jika tidak ditangani, kondisi tersebut berpotensi menghambat aliran air, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
2. Tambah pompa kapasitas besar

Parit dikeruk anitisipasi genangan musim hujan. (IDN Times/istimewa). Selain normalisasi, Pemkot Pontianak memperkuat penanganan genangan melalui penambahan dua unit pompa berkapasitas besar. Peralatan ini ditujukan untuk membantu mempercepat pengurangan genangan ketika aliran air menuju Sungai Kapuas melambat akibat pasang.
“Kalau hujan bersamaan dengan air pasang, aliran dari parit menuju Sungai Kapuas menjadi lebih lambat. Pompa ini kita gunakan untuk membantu menarik air dari kawasan yang masih tergenang supaya lebih cepat kering,” jelasnya.
Edi menerangkan, karakteristik topografi Pontianak yang relatif datar membuat sistem drainase sangat dipengaruhi kondisi pasang surut.
Ketika muka air Sungai Kapuas meningkat, perbedaan ketinggian air antara parit dan sungai menjadi kecil sehingga aliran menuju sungai melambat. Sebaliknya, saat air surut, aliran cenderung lebih lancar.
Untuk mengatasi genangan di lokasi tertentu, Pemkot juga mengandalkan pompa bergerak. Peralatan tersebut dapat dikerahkan ketika ditemukan hambatan aliran pada saluran, tali air maupun parit lingkungan.
Meski jaringan saluran primer, sekunder dan tersier secara umum masih menjalankan fungsinya, Edi menegaskan pemeliharaan harus dilakukan secara berkelanjutan.
Sedimentasi dan sampah menjadi dua faktor yang dapat mengurangi efektivitas saluran, sehingga pemantauan lapangan perlu terus ditingkatkan.
3. Edi ingatkan warga tak buang sampah sembarangan

Pemkot Pontianak lakukan normalisasi parit. (IDN Times/istimewa). Di sisi lain, upaya memperbesar kapasitas drainase tidak selalu dapat dilakukan dengan mudah. Kepadatan permukiman di sepanjang sejumlah parit membuat pelebaran saluran terkendala keterbatasan lahan.
“Kalau ingin melebarkan penampang, kita terkendala lahan. Di kanan-kiri saluran sudah cukup padat. Jadi penanganannya harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing kawasan,” ungkapnya.
Karena itu, penanganan genangan tidak hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur dan pengerukan saluran. Partisipasi masyarakat juga dinilai penting untuk memastikan saluran yang telah dinormalisasi tidak kembali tersumbat.
Edi mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah ke parit karena dapat menghambat aliran air dan memperlambat surutnya genangan.
“Pemerintah melakukan normalisasi, tetapi kalau salurannya kembali tersumbat sampah, tentu fungsinya tidak maksimal,” tegasnya.
Ia memastikan penanganan genangan tetap menjadi salah satu prioritas Pemkot Pontianak. Jajaran terkait diminta terus melakukan pemantauan lapangan dan segera menangani titik-titik yang berpotensi menghambat aliran air.
“Setelah ini kita akan terus berkeliling dan memantau. Saya minta jangan sampai ada lagi sumbatan-sumbatan yang mengganggu jalannya air. Penanganan genangan ini menjadi prioritas dan harus dilakukan terus-menerus,” tukasnya.























