Banjarmasin, IDN Times - Guru Haji Saiful Anshari mengimbau umat Muslim agar tidak memperdebatkan perbedaan awal puasa Ramadan. Ia meminta masyarakat tidak “tumbur” — istilah dalam bahasa Banjar yang berarti mempermasalahkan atau meributkan suatu perbedaan.
“Dalam penetapan awal bulan Hijriah atau Kamariah, dasarnya sama. Yang berbeda hanya pendekatannya,” ujar Guru Saiful dalam tausyiah seusai shalat Subuh di Masjid Assa’adah, Kompleks Beruntung Jaya, Banjarmasin dilaporkan Antara, Selasa (17/2/2026).
Pengasuh salah satu pondok tahfiz di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) itu menyampaikan imbauan tersebut dalam pengajian rutin “Sifat 20” atau ajaran tarekat Asy’ariyah. Materi yang dibahas kali ini berkaitan dengan sifat Allah, yakni Sami’an (Maha Mendengar), yang juga dikaitkan dengan momentum Ramadan.
