Masa aksi terlibat adu dorong dengan polisi saat unjuk rasa di depan kantor Gubernur Kalimantan Timur, Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa (21/4/2026). ANTARA FOTO/Angga Palguna/bar
Sebelumnya, pada pertengahan April 2026, ribuan mahasiswa di Samarinda menggelar aksi demonstrasi untuk mengkritisi kepemimpinan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud. Berdasarkan pantauan di lapangan, jumlah massa diperkirakan mencapai sekitar 4.000 orang.
Massa memadati Jalan Gajah Mada hingga kawasan Teras Samarinda dengan bentangan hampir satu kilometer. Aksi yang digagas gabungan mahasiswa dan elemen masyarakat sipil itu membawa sejumlah tuntutan, di antaranya mendesak DPRD Kaltim menggunakan hak angket dan interpelasi.
Dalam aksi tersebut, massa menyoroti sejumlah kebijakan gubernur yang dinilai tidak berpihak pada kondisi ekonomi masyarakat. Salah satu yang menjadi sorotan adalah alokasi anggaran daerah sebesar Rp25 miliar untuk renovasi rumah jabatan gubernur, serta pengadaan mobil dinas mewah merek Land Rover senilai Rp8,5 miliar.
Para demonstran juga membentangkan spanduk bertuliskan “Kaltim Darurat KKN” sebagai bentuk kritik terhadap dugaan praktik nepotisme, termasuk penempatan kerabat di sejumlah posisi strategis pemerintahan.
Diketahui, Syahariah Mas’ud merupakan saudara kandung Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud dan sama-sama aktif di Partai Golkar. Selain menjabat sebagai gubernur, Rudy juga menjabat Ketua DPD I Partai Golkar Kalimantan Timur. Sementara itu, Ketua DPRD Kaltim, Harun Mas’ud, juga merupakan saudara kandung gubernur.
Dalam video rapat yang beredar, sejumlah anggota DPRD Kaltim dari Fraksi Golkar turut menyinggung dugaan adanya kepentingan politik di balik aksi demonstrasi tersebut. Syahariah bahkan secara terbuka menuding Akhmed Reza Pahlevi sebagai pihak yang paling aktif mendorong penggunaan hak angket terhadap kepemimpinan Rudy Mas’ud.